Posted in Inspirasi, Islam, Islam Toleran

الأخلاق الإسلامية

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

.الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

Pada kesempatan kali ini saya ingin menulis betapa pentingnya akhlaq bagi seorang muslim. Saya telah menulis perihal makna jalan tengah, sebuah jalan yang saya pilih untuk menjalani kehidupan yang singkat di dunia yang fana ini.

Seseorang yang berada di jalan tengah tidak akan pernah menghakimi seseorang, karena pada dasarnya ia bukan seorang “hakim ataupun jaksa penuntut umum”, lebih jauh lagi, ia menyadari dirinya adalah mahluk yang hina dan berlumur dosa, dan berharap mendapatkan keridhoaan Allah SWT.

Saya mengingat sebuah cerita yang terjadi di Ponpes Darul Muhajirin, Praya, Loteng, yang menimpa TGH. M. Nadjmuddin Makmun (Allah Yarham), begini kisahnya:

tgh-copy1

Waktu itu pesantren begitu sunyi, para santri beristirahat dengan tenang, para pengasuh ada yang masih berjaga, mengisi talang air, ataupun mempersiapkan segala kebutuhan tatkala waktu tahajjud, benar, aktivitas di ponpes ini di mulai setibanya waktu tahajjud, dan abah (TGH. Nadjamuddin Makmun) berada di kholwatnya, mungkin berdzikir, entahlah kami tidak boleh memasuki kholwat abah, kholwatnya dijaga khusus oleh seorang penjaga.

Namun, malam itu menjadi begitu berbeda, kesunyian pondok tiba-tiba saja pecah, para pengasuh berkerumunan dan membunyikan berbagai benda yang bisa menghasilkan bunyi nyaring entah itu tiang listrik, kul-kul pos ronda, nampan besi, dll. Begitu gaduh suasana pesantren saat itu, beberapa santri terbangun seketika, bingung sekaligus diliputi rasa penasaran, “ada apa ini…?”. Sementara itu, salah seorang pengasuh mencoba menuju kholwat Abah guna memberitahukan kejadian yang tengah terjadi.

Ternyata malam itu, pesantren kemalingan, sebuah televisi berhasil digondol oleh seseorang, itulah yang menjadi pemicu kegaduhan tersebut.

Sesampainya di depan kholwat Abah, pengasuh tersebut meminta izin pada penjaga kholwat untuk menemui Abah “Pesantren kita kemalingan”, ujar pengasuh tersebut pada penjaga kholwat. Mendengar hal tersebut kemudian sang penjaga berniat masuk ke dalam Kholwat guna memberi tahu Abah. Namun, belum sempat membuka pintu, Abah terlebih dahulu membuka pintu dari dalam.

“Sudah, sudah, tidak usah ribut, nanti para santri pada bangun, biarkan mereka istirahat, nanti bangunkan mereka untuk sholat tahajjud dan ngaji subuh” Ujar Abah memberikan arahan pada sang pengasuh.

“Kasihan, biarkan saja, mungkin orang tersebut kepingin menonton Televisi, dia mungkin belum memiliki uang untuk membeli televisi, sudah biarkan saja. Tidak perlu heboh gara-gara sebuah benda yang bersifat keduniaan” Lanjut Abah memberikan penjelasan. Kemudian Abah kembali memasuki kholwatnya.

Mendengar hal tersebut, sang pengasuh kembali dan menjalankan arahan Abah, meminta para santri untuk tidur dan meminta para pengasuh untuk kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

Singkat cerita, beberapa waktu berlalu, seorang pria yang senantiasa hadir duduk ngaji di pengajian Abah, meminta untuk belajar islam pada Abah, dan orang itulah yang dulunya meminjam televisi ponpes tersebut.

Seseorang yang berada di jalan tengah, tidak akan pernah menghakimi orang lain meskipun ia memang bersalah. Dibandingkan menghakimi kesalahan orang lain, ia akan memilih untuk mendo’akan orang tersebut agar Allah SWT memberikannya Cahaya untuk menerangi jalan hidupnya dan ia sendiri akan memilih untuk membersihkan segala kesalahan, dosa, dan noda yang ia miliki dengan jalan mendekatkan diri pada Allah SWT. Tentu saja, ia akan menasehati orang lain ‘mana yang benar dan mana yang salah menurut berbagai kitab yang ia pelajari’, namun sekali lagi ia tidak akan pernah menjadi “hakim ataupun jaksa”.

Dengan memilih berada di jalan tengah, berarti seseorang tidak akan pernah menghakimi orang lain, sekalipun ia sudah nyata bersalah. Karena, siapa tahu sebuah kebaikan yang ada pada orang itu diridhoi oleh Allah SWT.

Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq

Semarang, 11 Mei 2016

MT. Adang Diantaris

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s