Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Halo, hai… kenalin namaku Adang

CIMG2224

Halo, hai… pada kesempatan ini aku ingin memperkenalkan diriku pada kalian, di beberapa bab sebelumnya aku begitu banyak bercerita tentang Teguh serta menceritakan serangkaian aktifitasku. Kalian tentunya bertanya-tanya mengapa aku begitu fasih mengobrol dengan kakeknya Sari menggunakan bahasa Arab, terlebih ketika kami membahas beberapa kitab fiqih klasik koleksi Tuan Guru Busyairi (Kakeknya Sary). Bukan hanya kalian, Sary pun ku buat kaget—bahkan hampir tidak percaya—tatkala aku dengan lancar menjelaskan makna yang terkandung di dalam kitab Riyadhus sholihin (salah satu kitab favorit Tuan Guru Busyairi). Bagiamana tidak, sebelumnya Sary hanya mengenalku sebagai Adang si anak sosial, tidak lebih.

Perkenalkan namaku Adang, tahun ini usiaku menginjak 25 tahun. Aku berasal dari kota Bandung, sebuah kota yang begitu asri. Aku tidak begitu mengetahui asal-usulku, aku kehilangan ingatan masa kecilku oleh suatu sebab yang aku sendiri tidak mengetahuinya, semakin aku mencoba mengingatnya, kepalaku semakin sakit. Oleh karena itu aku meminta bantuan dr. Indah untuk membantu membalikkan ingatanku, setidaknya satu kali sebulan aku menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat praktiknya. Sebelumnya sudah aku ceritakan bukan, bahwa dr. Indah adalah seorang dokter kejiwaan sekaligus merupakan rekan relawan sosialku.

Saat ini aku menetap di Semarang untuk bersekolah, aku mengambil program doktoral ilmu sosial di salah satu Universitas Negeri ternama di kota ini, saat ini aku berada di tahun keduaku di Semarang. Sedangkan untuk program master, aku mengambil program master Socialpreneurship, aku berhasil lulus dengan predikat mumtaz di salah satu universitas tertua di Jazirah arab.

Sebenarnya aku sekolah ke jazirah arab beberapa tahun lalu murni karena iseng doang, aku ga bener-bener ngincer tanah arab. Bagiku sekolah ya sekolah, kemanapun dan berapa lamapun ga masalah, yang penting sekolah. Jadi ceritanya gini, setelah Yudisium di salah satu kampus negeri di Bandung, aku iseng memasukkan semua berkasku ke web kampus di arab waktu itu, iseng doang, upload berkas-submit form registration-confirm­ trus enter­, trus ngeyoutube deh, ga pernah tak cek lagi web kampusnya. Namun sebulan kemudian, ponselku berbunyi dan tertera nomor dari negara asing di layar handphoneku. Dari percakapan tersebut, intinya aku diminta untuk menyiapkan waktu dan tempat dengan koneksi internet yang stabil karena akan dilakukan ­live interview. Dua bulan setelah interview, aku dinyatakan lulus, udah gitu doang. Semua biaya, akomodasi, apartemen, uang saku, uang jajan, dan riset, sepenuhnya ditanggung oleh kampus tersebut.

ketika berinteraksi dengan teman-teman aku sengaja merahasiakan semua ini karena tuntutan profesi dan tentu saja naluri alamiah anak sosial. Aku tidak mau lawan bicaraku memberikan perlakuan berbeda hanya karena mengetahui tingkat pendidikanku, ini merupakan prinsip tidak bisa ditawar lagi. Namun, untuk kasus Tuan Guru Busyairi—mau tidak mau—aku harus menceritakan semuanya, karena walau bagaimanapun juga, aku tidak boleh berbohong dihadapan ulama, begitulah salah satu pesan syeikh pembimbing sekolahku di jazirah arab dahulu, “selain alim ulama, jika memungkinkan membumi lah”. Membumi yang dimaksudkan adalah menyembunyikan identitas keilmuan, karena pada dasarnya—kami, anak sosial—harus membina hubungan personal dengan masyarakat sekitar.

Tentang Teguh, saat ini aku belum bisa berkomentar banyak, namun satu hal yang pasti, dia akan bersemangat kalau sudah membahas masalah agama. Sejauh yang aku tau—selama aku berdiskusi dengannya—arah pemikirannya lebih condong ke arah moderat/jalan tengah/tidak kiri ataupun kanan. Terbukti ketika membahas masalah Palestina, reaksinya datar saja, begitupula ketika membahas Israel reaksinya datar saja. Yah, walaupun demikian bukan berarti dia cuek tanpa memberikan respon berupa solusi atas permasalahan tersebut. Menurut Teguh “Urusan Palestina itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkat senjata dan mengirim bantuan jihadis-jihadis ke sana. Palestina bukan hanya sekedar wilayah konflik yang mengatasnamakan agama, karena bukan hanya islam yang ada di sana. Dibutuhkan kekuatan Politik dari negara nonblock di negara tersebut, Indonesia membangun kantor diplomat di sana merupakan awal dari kemerdekaan Palestina.” Begitulah tanggapan Teguh datar ketika membahas Palestina.

Hmmm…apa ya…. Kalau ditanya kenapa harus Membahas Teguh, aku juga bingung, aku penasaran sekaligus terus ingin bertukar pikiran dengannya, anyway sampai aku tau alasan mengapa harus membahas Teguh, aku akan terus menulis kisah ini.

*versi utuh dari bab ini bisa dinikmati dalam media cetak (berupa buku), insyaAllah tahun ini terbit.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s