Posted in Biologi, Sebuah Cerita tentang Teguh

Kajian Sains dan Hukum Fiqih terhadap Penggunaan Vaksin Polio

Minggu ini aktivitasku benar-benar padat, bagaimana tidak, jarak dari satu agenda ke agenda lainnya begitu rapat. Minggu lalu aku masih berada di Lombok, bermalam di pantai selama dua malam, kemudian ngebut mengolah data yang aku temukan selama satu hari temukan, “alhamdulillah kelar”, belum hilang rasa capekku, pagi ini aku dapat pemberitahuan dari kemenkes untuk membantu mensukseskan Pekan Imunisasi Nasional.

Sebanarnya ga ada masalah, hanya saja berdasarkan pengalaman tahun lalu, beberapa keluarga mempertanyakan kehalalan vaksin tersebut, lantaran ada issue yang berkembang di kalangan masyarakat yang menyebutkan bahwa vaksin tersebut dibuat dari enzim babi. Nah lo…waktu itu aku mencoba menjelaskan pada masyarakat berdasarkan asas kemanfaatan, namun tetap saja kepastian hukum sangat dibutuhkan ditatanan akar rumput, oleh sebab itu semalam aku mengadakan diskusi masalah ini dengan Teguh.

Padahal, banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Teguh, masalah Tuan Guru Busyairi, masalah masjid baiturrohman, dan masalah mimpinya dengan Sofia (tentu saja). Namun, aku menahan rasa penasaranku itu, karena ada kepentingan yang lebih besar, serius, dan mendesak.

Jadi, pada tulisan ini, aku tidak akan menulis rincian pertanyaanku, sebagaimana gaya tulisan-tulisanku sebelumnya. Pada tulisan ini aku akan menyalin isi penjelasan Teguh karena isinya lumayan serius menggunakan gaya tulisan ilmiah, agar pesannya sampai.

kAJIAN VAKSIN POLIO.png

Kajian Sains dan Hukum Fiqih terhadap Penggunaan Vaksin Polio

_____________________________________________________

MT. Adang Diantaris

Alumni Pendidikan Biologi, Institut Agama Islam Negeri Mataram

 Lombok, NTB, Indonesia.

e-mail: teguhadang@outlook.com

 _____________________________________________________

Bismillahirrohmanirrohim

(ilahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka)

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Imunitas adalah resistensi terhadap suatu jenis penyakit terutama infeksi. Sedangkan imun sendiri berarti gabungan sel, molekul, dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi.

Sistem imun merupakan sistem yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kerusakan tubuh atau timbulnya penyakit. Sistem ini mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup setiap mahluk hidup, seperti tumbuhan, invertebrata (bakteri, spons, cacing, serangga, dll.), dan vertebrata (ikan, reptil, unggas, mamalia, amphibi).

Sistem imun sendiri terbagi menjadi dua, sistem imun alamiah (nonspesifik/natural) dan spesifik/adaptif/acquired. Imunitas nonspesifik fisiologik berupa komponen tubuh normal, artinya tubuh mahluk hidup akan merespon benda asing yang masuk ke tubuhnya menggunakan pertahanan alamiah tubuh misalnya batuk dan bersin. Sedangkan sistem imun spesifik memiliki kemampuan untuk mengenal benda yang dianggapnya asing, jika dianggap berbahaya bagi tubuh maka benda asing tersebut akan dihancurkan. Sistem imun spesifik terdiri atas siste humoral dan sistem selular.

Mekanisme imun pada invertebrata umumnya masih berupa fagositosis bakteri atau penggunaan enzim dalam sekresi, berbagai sel invertebrata memberikan respon terhadap bakteri dengan mengurungnya dan kemudian menghancurkannya. Invertebrata tidak mengandung limfosit yang antigen spesifik dan tidak memproduksi antibodi atau protein komplemen. Namun, terdapat sejumlah molekul larut  yang mengikat dan menghancurkan mikroba asing yang memasuki tubuh hewan invebrata tersebut (Baratawidjaja & Rengganis, 2013:23).

Sistem imun pada manusia begitu kompleks, memiliki perbedaan yang signifikan dengan sistem imun pada kelinci, kucing, anjing, kera, kuda, babi, kambing, dan primata, meskipun masih sama-sama digolongkan ke dalam mamalia. Pada manusia, usaha untuk meningkatkan kekebalan aktif terhadap suatu jenis penyakit tertentu dengan cara memberikan vaksin (oral/injeksi) disebut imunisasi.

Hadinegoro (2010) menyebutkan bahwa Imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit infeksi yang paling efektif untuk meningkatkan mutu kesehatan mahluk hidup (manusia). Hal tersebut sejalan dengan laporan WHO, UNICEF, dan World Bank (2009) yang menjelaskan bahwa imunisasi dapat mencegah 2,5 juta kasus kematian anak pertahun di seluruh dunia. Oleh karena itu, imunisasi dipandang penting untuk dilakukan untuk mencegah penyakit cacar (smallpox), campak, tuberculosis, difteri, polio, rabies, meningitis meningokus, dll.

Jenis Imunisasi ada 2, yaitu pasif dan aktif. Imunisasi pasif dilakukan dengan memasukkan antibodi yg berasal dari luar tubuh, misal dari ibu ke janin melalui plasenta atau dari luar. Contoh imunisasi pasif lainnya adalah ASI yang mengandung banyak antibodi. Atau suntikan imunoglobulin anti hep B. Sifat imunisasi pasif ini adalah temporer atau sementara karena misalnya ASI, tidak mengandung antigen yang bisa merangsang pembentukan antibodi dalam tubuh bayi. Sedang imunisasi aktif kita kenal dengan vaksinasi (Rahmatiah, 2015).

Vaksin sendiri merupakan sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus. Markum (1997) menjelaskan apabila ada antigen masuk tubuh, maka tubuh akan berusaha menolaknya dengan membuat zat anti. Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk. Pada reaksi atau respon kedua, ketiga dan selanjutnya tubuh sudah mengenal antigen jenis tersebut. Tubuh sudah pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu singkat akan dibentuk zat anti yang lebih banyak. Setelah beberapa lama, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan/ imunisasi ulang sebagai rangsangan tubuh untuk membuat zat anti kembali.

Beberapa jenis vaksin yang digunakan adalah Baccillus Calmete-Guerin (BCG) untuk mencegah penyakit tuberculosis, Toksoid Diphteri untuk mencegah penyakit difteri, Vaksin pertusis untuk mencegah penyakit pertusis, toksoid tetanus untuk mencegah penyakit tetanus, vaksin hemophilus influenza untuk mencegah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh kuman haemophyllus influenza, dll.

Salah satu jenis penyakit yang bisa dicegah dengan pemberian vaksin adalah Polio. Polio atau poliomyelitis merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior masa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, hal tersebut akan mengakibatkan kerusakan bagian susunan saraf tersebut sehingga seseorang akan mengalami kelumpuhan dan atrofi otot (Zulkifli, 2007). Penyakit polio umumnya menyerang anak-anak dan balita, karena itu imunisasi bagi mereka sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman kematian dan kelumpuhan (Zulkifli, 2007).

Virus polio masuk ke dalam famili picornavirus dan genus Enterovirus, yang merupakan virus kecil dengan diameter 20-32nm, berbentuk sferis dengan ukuran utamanya rNA yang terdiri dari 7.433 nukleotida, tahan pada pH 3-10, sehingga dapat tahan terhadap asam lambung dan empedu. Virus tidak rusak walau dalam temperatur 2-8°C selama beberapa hari, tahan terhadap gliserol, eter, fenol 1%, dan bermacam-macam detergen, namun virus ini aka mati pada suhu 50-55°C selama 30 menit, bahan oksidator, formalin, klorin, dan sinar ultrraviolet. Secara serologi. Virus polio dibagi menjadi 3 tipe, yaitu tipe I Brunhilde, tipe II Lansing, dan tipe II Leon.

Adapaun jenis-jenis Polio tersebut adalah

  1. Polio Non-Paralisis, jenis ini menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.
  2. Polio Paralisis Spinal, jenis ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tandung anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai, menyebabkan kelumpuhan permanen (1 dari 200 penderita).
  3. Polio Bulbar, jenis ini mengakibatkan kematian, karena menyerang berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernafasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian.

Virus polio ditularkan oleh infeksi droplet dari oro-faring (mulut dan tenggorokan) atau tinja penderita yang infeksius. penularan pada manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau melalui oral-oral (dari mulut ke mulut). Fekal-oral artinya minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk ke mulut manusia sehat lainnya. sedangkan oral-oral adalah penyebaran dari air liur penderita yang masuk ke mulut manusia sehat lainnya.

Hingga saat ini belum ditemukan antivirus yang spesifik untuk penyakit Polio. Pencegahan penyakit polio secara efektif dan efisien hanya mungkin dilakukan melalui imunisasi dengan vaksin polio, karena sampai saat ini belum ada obat dan cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah Polio. Akan tetapi timbul masalah bagi umat islam terkait penggunaan vaksin polio tersebut, mengingat semua vaksin polio yang diproduksi saat ini, baik di dalam maupun di luar negeri, masih menggunakan media dan proses yang belum sepenuhnya sesuai dengan syariat Islam, antara lain dengan menggunakan media jaringan ginjal kera (Majelis Ulama Indonesia, 2005).

Pembuatan Vaksin Polio Inaktif (IPV). Virus polio dikembangbiakkan menggunakan sel vero (berasal dari ginjal kera) sebagai medianya. Proses produksi vaksin ini melalui lima tahap. Pertama, penyiapan medium (sel vero) untuk pengembangbiakan virus. Kedua, penanaman virus. Ketiga, pemanenan virus (menggunakan tripsin). Keempat, pemurnian virus dari tripsin. Kelima, inaktivasi /atenuasi virus.

Penyiapan media (sel vero) untuk pembiakan virus dilakukan dengan menggunakan mikrokarier, yaitu bahan pembawa yang akan mengikat sel tersebut. Bahan tersebut adalah N,N diethyl amino ethyl (DEAE). Selanjutnya sel vero ini harus dilepaskan dari mikrokarier dengan menggunakan enzim tripsin yang berasal dari babi. Langkah selanjutnya adalah pembuangan larutan nutrisi. Hal ini dilakukan dengan proses pencucian menggunakan larutan PBS buffer. Larutan ini kemudian dinetralkan dengan larutan serum anak sapi (calf serum). Larutan yang tidak digunakan tadi dibuang atau menjadi produk samping yang digunakan untuk keperluan lain. Sel-sel vero yang sudah dimurnikan dan dinetralisasi itu kemudian ditambahkan mikrokarier yang baru, dan ditempatkan pada bioreaktor yang lebih besar. Di dalamnya ditambahkan zat nutrisi yang sedikit berbeda untuk menumbuhkan sel vero dalam jumlah yang lebih besar. Sel vero yang sudah berlipat ganda jumlahnya ini kemudian dilepaskan lagi dari mikrokariernya dengan menggunakan tripsin babi lagi. Berlangsung berulang-ulang sampai dihasilkan sel vero sesuai banyak yang diinginkan.

Sebenarnya dalam setiap tahap amplifikasi sel, tripsin harus dicuci bersih karena tripsin akan menyebabkan gangguan saat sel vero menempel pada mikrokarier. Lewat pencucian atau pemurnian ini, produk vaksin yang dihasilkan bersih dari sisa tripsin. Jadi tripsin hanya dipakai sebagai bahan penolong dalam proses pembuatan vaksin.

Majelis Ulama Indonesia (2005) mengeluarkan fatwa mengenai permasalahan penggunaan vaksin polio tersebut, yakni; 1) Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari—atau mengandung—benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram; 2) Pemberian vaksin OPV kepada seluruh balita, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada OPV jenis lain yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam.

Kaidah fiqh yang mendasari MUI mengeluarkan fatwa tersebuat antara lain, 1) Dharar (bahaya) harus dicegah sedapat mungkin; 2) Dharar (bahaya) harus dihilangkan; 3) Kondisi hajah menempati kondisi darurat; 4) (الضرورة تبيح المحظورات) Darurat membolehkan hal-hal yang dilarang; 5) Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibatasi sesuai kadar (kebutuhan)-nya. Bahaya atau dharar yang dimaksudkan tersebut adalah penyakit polio, karena dapat menyebabkan kematian. Sedangkan hal-hal yang dilarang yang dimaksudkan pada poin nomor 4 adalah penggunaan enzim dari hewan yang tergolong nakjiz mughollazah (dalam hal ini adalah babi), yang berarti walaupun terdapat unsur nakjiz dalam mekanisme pembuatan vaksin tersebut (sehingga vaksin tersebut dijatuhi hukum haram),  vaksin tersebut diperbolehkan digunakan untuk umat islam atas dasar darurat.

 Daftar Pustaka

  1. Baratawidjaya, K. G. & Rengganis, I. 2013. Imunologi Dasar. Edisi Kesepuluh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
  2. Hadinegoro, S. R. S. 200. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri. 2(1): 2-10.
  3. Majelis Ulama Indonesia. Nomor 16. 2005. Penggunaan Vaksin Polio Oral (OPV): 6599-664.
  4. Markum, A.H. 1997. Imunisasi, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
  5. Rahmatiah. 2015. Pengaruh Vaksinasi Terhadap Kekebalan Tubuh Bayi. Ebuletin LPMP Sulsel. ISSN 23553189.
  6. WHO, UNICEF, World Bank. 2009. State of the world’s vaccines and immunization. 3rd edition. Geneva: World Health Organization.
  7. Zulkifli, A. 2007. Epidemiologi Penyakit Polio. Makalah Ilmiah. Universitas Hasanudin: Fakultas Kesehatan Masyarakat.

 

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

MT. Adang Diantaris

Semarang, 5 Maret 2016

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s