Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Sofia, Apakah mimpi kita sama…?

sofia, apakah mimpi kita sama

Aku masih berada di Lombok saat ini, setelah dua hari bermalam di pondok pesantren milik kakeknya Sary, sungguh merupakan malam yang panjang. Berbagai diskusi terjadi antara aku dan kakeknya Sary, mulai dari permasalahan agama, sosial, hingga makanan khas kota Bandung, kota kelahiranku. Banyak petuah berharga diberikan oleh kakeknya Sary, hanya bisa terkesima berada dihadapan beliau, wibawanya yang luar biasa, kharismanya yang mempesona, serta tutur katanya yang adem, membuatku betah berlama-lama duduk mendengarkan petuahnya. Pantas saja santrinya begitu menghormatinya, aku saja yang baru dua malam berada didekatnya menaruh rasa hormat yang mendalam padanya.

Sore ini begitu mendung di pantai Kaliantan, gerimis-gerimis manja sesekali turun di pantai ini. Walau begitu, warga Lombok sudah tumpah ruah memadati tempat ini, ada yang membangun tenda sederhana atas bukit di pinggir pantai, ada yang membawa ember dilengkapi dengan jaring penangkap ikan, dan terlihat pula beberapa reporter stasiun berita (cetak dan elektronik) lokal dan nasional. Masyarakat disuguhkan berbagai jenis hiburan oleh pemerintah daerah, panggung ukuran besar pun telah tegak berdiri, pengisi acara silih berganti melakukan gladi di atas panggung tersebut.

Kami diberikan sebuah tempat sederhana untuk bermalam, kami (aku dan teman-teman peneliti) jadikan posko selama kami mengambil data di lokasi itu.

Matahari pun tergelincir di ufuk barat pantai kaliantan, sungguh pemandangan yang begitu indah, yaa… walaupun kurang maksimal lantaran senja di ufuk barat dipenuhi awan abu-abu. Ketika magrib tiba, kami (rombongan peneliti) bergegas mencari masjid terdekat guna menunaikan ibadah. Kami berlima—tiga orang dari luar Lombok, dan dua perwakilan dari dinas sosial pemkab lombok tengah—meinggalkan pantai kaliantan menggunakan kuda besi menuju masjid terdekat. Iya, kami diberikan fasilitas lengkap mulai dari konsumsi, telekomunikasi, hingga akomodasi. Sesampainya di sebuah masjid, Aku, ridwan, dan Kenang bergegas memasuki masjid Darussalam, berjarak 2,5 km dari lokasi. Sementara itu Niluh dan Friko menunggu di mobil, karena niluh beragama hindu sementara Friko seorang Nasrani.

Setelah menunaikan ibadah Magrib, kami berlima bergegas mencari sesuatu untuk menggajal perut. Niluh yang mengajak kami singgah di sebuah rumah makan khas Lombok “Kalian harus nyobain Ayam taliwang dan nasi balap puyung guys, pasti ketagihan” begitulah tawaran Niluh dengan semangat. Aku pikir semacam nasi uduk ditambah ayam bakar biasa, ternyata pedes banget, bumbunya nendang banget, lidahku rasanya ada bara api di atasnya, gilaa…pedes banget. (Kalian harus nyobain tuh makanan, iya, kalian yang baca cerita ini).

Setelah makan, kami melanjutkan dengan melakukan “briefing” membagi plot-plot area kami mengumpulkan data, kami membagi ke lima lokasi yang berbeda. Setelah rapat kelar, kami bersantai sejenak, menikmati kopi khas lombok sambil mempersiapkan alat kami masing-masing, seperti kamera, ponsel, mikrofon mini, pulpen, buku saku, dll.

Sewaktu aku tengah mempersiapkan segalanya, terdengar sebuah panggilan masuk di ponselku. Ternyata dari Teguh.

“halo Assalamu’alaikum Dang, Sedang ngapain lo…?” ujarnya membuka percakapan.

“Gue lagi ngopi, yah….nyiepin perlengkapan lah. Ada apa bro?” Jawabku.

“Lo ada waktu bentar gak, gue barusan mimpiin Sofia” Teguh langsung to the point.

“Oh, ada kok, gue berangkat entar jam 10, ini masih jam 8. Gimana, gimana bro, Sofia…? Gimana ceritanya…?” Aku memang penasaran tentang Sofia, setiap kali Teguh cerita tentang Sofia, aku pasti langsung penasaran “Sosok seperti apa sih yang bisa membuat Teguh jatuh hati” begitulah kira-kira pikiranku.

“Gue demen banget dah hari ini Dang, soalnya bisa berjumpa dengan Sofia, yaaa, walau dalem mimpi” Ujar Teguh.

“Demen banget lo ya… Oke, oke…ceritaen pelan-pelan biar gue faham.” Aku mengarahkan alur cerita mimpi si Teguh.

“Jadi gini Dang, itu mimpi sebenarnya bukan mimpi utama dari mimpi gue semalam. Iya, jadi semalem gue coba tidur cepet. Jam 12 malem gue udah tidur, gue kebangun jam 4 lantaran mimpi yang begitu seru, gue jadi tentara baret merah Dang hehe..” Ujar Teguh degan antusias.

“Wah seru banget tuh bro, baret merah pula, waw.” Responku.

“Setelah bergerilya di tengah hutan, gue dijemput ma team yang lain pake helikopter, trus gue udah naik di helikopter, kaki gue ditindih ma temen tentara yang lain, pegel banget rasanya, semakin pegel, semakin berat, dan gue mulai sadar bahwa itu mimpi. Gue kebangun, kaki gue ternyata keram, lantara kelipet. Jadi gue bangun, lurusin kaki, dan balik tidur. Mau lanjutin mimpi.. hehehe” Ujar Teguh sambil tertawa cengengesan.

“Buset dah, keren banget yah, dijemput helikopter. Trus gimana, impinya berlanjut gak?” Ujarku penasaran.

“Enggak Dang, gue malah mimpiin Sofia” Ujar Teguh.

“Oke, oke, ini yang gue tunggu-tunggu. Bagaimana…?” Aku semakin penasaran.

“Aku kan diajakin oleh Wulan pergi ke Rumah Sofia di desa Bejey, wulan itu satu desa dengan Sofia, wulan sendiri adalah pacarnya nugie. Kemudian kami bertiga mengunjungi desa Bejey tersebut. Oke, waktu itu cuaca begitu mendung, sesekali aku jumpai gerimis membasahi kaca mobil si Nugie. Sementara itu, semakin mendekati desa Bejey gue semakin deg-degan, gatau harus ngapain, ga tau mau, gatau harus bertingkah bagaimana, harus salaman kah, atau tidak menjabat tangannya. Harus memandangi wajahnya kah, atau menunduk malu, pokoknya campur aduk deh Dang”. Cerita Teguh.

“Hahaha, padahal mimpi juga ya, masih aja deg-degan, gue bisa ngebayangin ekpresi lo di mimpi itu bro…hahaha lo lucu banget” Responku.

“Iya, padahal mimpi, mimpi gue, tapi gue masih aja deg-degan.” Teguh mengiyakan responku.

“Jadi, kami bersepakat untuk membeli buah tangan di pasar modern, deket desa Bejey. Setibanya kami tiba di pasar itu, Nugie dan wulan keluar terlebih dahulu mencari buah, aku pergi mencari pedagang kretek. Setelah kretek aku dapatkan, aku bergegas kembali ke mobil, menyulut sebatang kretek, si wulan dan nugie lumayan lama belanjanya.” Lanjut Teguh.

“Kalau gue mah, palingan nungguin sambil ngajak ngobrol abang-abang tukang parkir” Ujarku merespon cerita Teguh.

“Yei.. gue kan bukan anak sosial, ga bisa gue gitu-gituan.” Ujar Teguh.

“Setelah buah tangan berhasil di beli, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Soifa. 5 Menit kemudian kami tiba di desa Bejey, waktu itu di desa bejey lagi ada acara tahunan, semacam festifal desa. Tiba-tiba saja wulan meminta menghentikan mobil ‘itu kan kak Sofia’ ujar Wulan. Jadilah kami mengunjungi festifal tersebut” Ujar Teguh.

“Yuk turun, temuin kak Sofia Guh” Ujar Wulan.

“Hm… Aku nunggu di sini aja ya” Ujar gue

“Ayo dong, udah jauh-jauh gini, kamu harus nemuin Sofia” Ujar Nugie

“Ayo dong jangan cemen” Ujar Wulan.

“Iya, aku nyusul, kalian duluan aja” Ujar gue pada Wulan dan Nugie.

“Yaudah, tapi kamu nyusul ya” ujar Nugie.

“Wulan dan nugie beranjak pergi menuju kerumunan orang yang berada di festifal tersebut, sementara itu, gue masih membulatkan tekad untuk menemui Sofia.” Ujar Teguh menjelaskan panjang lebar.

“Trus, terus bagaimana bro….?” Jawabku penasaran.

“Oke, gue harus menemui Sofia, Sekarang atau tidak sama sekali” Gue bergumam dalem hati. (Ujar Teguh)

“Kemudian gue menyusul Nugie dan Wulan, ternyata di sana sudah ada sesosok wanita muda yang ngebuat jantung gue semakin kenceng berdetak, semakin ngebuat gue salah tingkah, semakin membuat gue tertunduk malu, dan gue hanya bisa menghadap malu, ga berani menatap matanya.” Ujar Teguh.

“ha ha ha” Responku menanggapi tingkah konyol Teguh.

“terus apa yang terjadi bro” aku semakin penasaran.

“Iya, kemudian si wulan tiba-tiba aja ngomong “iniloh kak, si Teguh yang sudah lama mengagumimu” kepada Seorang Gadis berkerudung besar berwarna orange muda yang menggulur panjang hingga menutupi dadanya, mengenakan baju merah muda lengan panjang, dan rok abu. Duh, dada gue semakin berdebar kencang, gue hanya bisa menunduk malu melihat ke arah bawah.”

“Assalamu’alaikum” Ujar  gue spontan, sambil menunduk ke bawah lantas kembali tegak, sambil menempelkan kedua telapak tangan satu sama lain, sebagai kode ‘kita bukan muhrim, kita ga boleh bersentuhan’ kira-kira begitulah Dang.

Kemudian Sofia malah mengulurkan tangannya kearah gue sembari mengatakan “Wa’alaikumsalam”.

Gue memberikan kode sekali lagi, namun sofia tidak menarik tangannya. Saat itu gue gak nemuin satu lembar kain yang bisa gue gunain sebagai pemisah antara kulit tangan gue dengan tangan sofia untuk berjabatan tangan dengan Sofia. “apa yang harus aku lakukan” begitulah yang kira-kira yang gue pikirkan dalam hati.

Namun, diluar dugaan, sofia langsung menangkap tangan kanan gue (yang mulai gue turunin ke bawah) kemudian melepas senyum dan menjabat tangan gue. Jleb……”apakah ini mimpi….?” “apakah ini nyata…?” Gue mencoba merasakan tekstur telapak tangan Sofia, dan terasa benar teksturnya. Gue benar-benar terdiam membeku, “ngefreeezeeee” gue dibuatnya.

“Hoooey…bengong aja kamu Guh, udahan dung salamannya” Ujar wulan mengagetkanku.

“Hai Sofia, Aku Teguh, kita sebelumnya pernah sekali dua kali berkomunikasi melalui layar kaca PC kita masing-masing.” Gue memperkenalkan diri dengan begitu grogi. Bersama Sofia, terlihat adik perempuannya masih kecil, seusia anak TK, yang terlihat begitu penasaran dengan gue.

“Hai guh, akhirnya kita bertemu juga ya. Sudah gak minder lagi….?” Ujar Sofia, sambil tersenyum. Yaa Allah…Dang, lo harus liat senyum itu, luluh lantah gue.

“Hehe Iya, kebetulan nemenin Nugie maen ke rumah Wulan.” Gue menjawabnya, sambil menunduk. Entahlah Dang, gue ga ngerti dengan diri gue, aneh banget deh.

“Terus apa yang terjadi Bro” Ujarku pada Teguh, aku semakin penasaran. Pengen juga sih liat senyumnya si Sofia, bisa-bisanya ngebuat si Teguh salah tingkah gitu.

“Hayo ke rumah, ga baik ngobrol di sini” Ujar Sofia.

“Yuk.” Ujar Nugie dan Wulan secara kompak. Semantara gue hanya mengangguk-angguk mengiayakan ajakan Sofia.

 

Kemudian, aku berjalan berdampingan dengan Sofia menuju rumahnya yang ternyata berada di atas bukit. Kami berjalan bersama, menanjak menuju rumahnya. Semakin lama nafas gue semakin sesak, semakin nyesek, gue semakin dalam menghirup oksigen, susah banget dah pokoknya nafas. Gue melihat belakang ternyata posisi gue dan Sofia berada di atas, tinggi banget. Tiba-tiba aja si Nugie dan Wulan menghilang, hanya menyisakan gue dan Sofia, namun kami terus menanjak menuju rumahnya. Terus naik, terus menuju puncak. Bersama sofia, aku berjalan menuju puncak. Namun sayang, sayup-sayup Tarhim terdengar kian jelas, mengakibatkan gue bangun dari mimpi indah itu. Gue akhirnya terbangun Dang. Ngebuat gue senyum-senyum sendiri, hingga sekarang.

 

“Wah, luar biasa bro, semoga merupakan sebuah pertanda baik bagi kalian. Gue gak tau harus mengomentari mimpi lo bagaimana, namun jika hanya dengan memimpikan Sofia lo bisa sebahagia ini, gue gak bisa bayangin bagaimana jika mimpi itu menjadi nyata” Aku memberikan komentar pada Teguh.

 

“Iya, makasih bro sudah mau dengerin cerita gue. Terima kasih atas do’anya.” Ujar Teguh.

“Sama-sama bro” Balasku.

“Udah, lo lanjutin aja aktivitas lo, besok kita bahas ini di Semarang” Ujar Teguh.

“Oke bro, gampang lah bro” Balasku.

“Thank you shob, Wassalamu’alaikum” Teguh Mengakhiri pembicaraan.

“Alaikumsalam bro” Aku menutup pembicaraan.

Setelah pembicaraan panjang lebar itu, aku berpikir mendalam “bagaiaman bisa seseorang seperti Teguh bisa bertingkah seperti itu, Gadis seperti apa yang bisa membuat Teguh seperti itu, Apa Hebatnya Sofia di hadapan Teguh? Apa yang dinilai Teguh dari Seorang Sofia, cantiknya kah, kepintarannya kah, sikapnya kah? Lantas apa arti mimpi yang diceritakan Teguh Barusan”.

Karena kopi di gelas

sudah habis, perlengkapan sudah lengkap, maka kami beranjak pergi menuju pantai Kaliantan. Sepanjang perjalanan aku masih membayangakn ekspresi Teguh dalam mimpinya, hahaha….. Teguh, Teguh…. Kocak banget sih Lo bro.

*Bersambung……………………..

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s