Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Kesempatan Kedua

Kesempatan kedua.JPG

“Allah memberiku kesempatan kedua untuk hidup di dunia ini, padahal kecelakaan itu bisa saja menghentikan nafasku, membuat aliran darahku terhenti, hingga mengakibatkan jantungku berhenti bedetak. Namun, kau tahu Dang, di luar logika, aku, alhamdulillah selamat. Memang, aku sempat tidak sadarkan diri, sehingga harus digotong oleh beberapa pria dewasa dari tengah jalan raya. Sesaat sebelum pingsan, aku hanya mengingat beberapa orang berteriak kencang, beberapa motor melintasi badanku dari arah kiri dan kananku, badanku lemas tidak bisa aku gerakkan, hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.” Teguh bercerita dengan mata berkaca-kaca, dengan suara yang dalam, dan sesekali menarik nafas panjang.

“Aku masih ingat, kejadiannya berlangsung begitu cepat, aku, waktu itu hanya bisa mengeluarkan kata ‘astagfirullahal ‘adzim, astagfirullah, astagfirullahal ‘adzim’, kemudian ‘braaakkkk…..’ tabrakan pun terjadi, aku terus beristigfar, tubuhku terseret beberapa meter, aku terus beristigfar hingga aku hilang kesadaran.” ketika menceritakannya suara Teguh semakin dalam.

Aku langsung sigap, menepuk-nepuk pundak kirinya dengan tangan kananku. “Gapapa Guh, lo gausah lanjutin kalau ga bisa” Ujarku padanya.

Gapapa, gue akan selesein kok, kalem aja bro. Oke gue lanjutin. Setelah itu aku di bawa ke gazebo, di sebuah tempat pemandian mobil, tepat di samping kanan lokasi tabrakanku. Sayup-sayup terdengar ucapan “telpon ambulance, buruan telpon ambulance” entah siapa yang mengeluarkan suara, yang jelas dari suaranya adalah perempuan. Begitu aku mulai sadar, dan mengingat apa yang sedang terjadi, aku sontak duduk setengah bersila (kaki kiri aku belum bisa rasakan, kaki kanan aku lipat) kemudian berkata “Astagfirullahal ‘adzim, saya baru habis tabrakan ya, bagaimana keadaan lawan tabrakan saya, dia tidak apa-apa?” ujarku khawatir. “Sudah mas, tidak apa-apa, gausah mikir terlalu dalam, semuanya baik-baik saja” ujar seorang pria.

“Mana orangnya, biarkan saya melihatnya agar saya bisa tenang.” Ujarku khawatir.

“Dia tidak apa-apa, tidak luka sedikitpun” pria itu mencoba menenangkanku.

“coba lihat, gadis kecil itu (sambil menunjuk ke arah gadis kecil) baik-baik saja kan. Malah kondisi mas yang lebih parah.” Lanjut pria tersebut.

“Maaf kak, tadi saya tidak lihat sewaktu mau menyebrang” ujar gadis tersebut, mulai mendekatiku dengan perlahan, dia berjalan agak kaku, aku rasa kaki kanannya keseleo.

“Alhamdulillah, Syukurlah jika kamu tidak apa-apa, motormu bagaimana….?” Ujarku mencoba menenangkannya.

“Maaf kak, maaf. Motorku cuman plastik pelindung di knalpotnya aja yang copot. Maaf kak, maaf..” Ujarnya agak ketakutan. Kira-kira dia masih kelas 2 SMP, usianya sama seperti usia adik-adik yang aku didik waktu PPL kala itu.

“Alhamdulillah, syukurlah, yang penting kamu tidak apa-apa dek” Ujarku menenangkanku.

“Bagaimana ini mas, mau diselesein jalur hukum apa damai….? motormu hancur tuh” Ujar salah seorang pria yang lain.

“Boleh saya minta air pak…?” Ujarku pada kerumunan orang tersebut.

“Oh Air, iya air. Air mana air”, Ujar kerumunan tersebut. Alhamdulillah aku diberikan satu gelas air oleh pengelola tempat tersebut.

Setelah aku minum segelas air tersebut, aku melakukan pemeriksaan sederhana pada tubuhku, mengecek segala kemungkinan yang terjadi. Dari Kepala, leher, hemerus, sternum, costae, perut, femur, tibia, dll.

Kepalaku aman, aku kemudian mencoba mengurutkan nama presiden RI dari awal hingga akhir, aku tidak mengalami kesulitan, artinya memoriku aman, kepalaku aman. Aku hanya menemukan luka tergores di beberapa titik, di sendi lulut kaki sebelah kiri, telapak tangan kiri, punggung tangan kanan, hanya itu. Itupun hanya luka tergores, karena aspal barangkali.

Selanjutnya aku meminta dicarikan obat luka seperti betadine, namun karena terlalu lama menunggu, aku berinisiatif mencari daun Puring (Codiaeum variegatum), getahnya aku teteskan di daerah yang luka.

Kemudian aku berkeliling lokasi, aku mau melihat lokasi tabrakanku, mengenai sepeda motor, “hancur Dang”. Aku berfikir, kok aku bisa selamat tanpa luka serius dari kecelakaan tersebut. “Allah swt benar-benar memberikanku kesempatan kedua Dang”.

Begitulah, kira-kira yang Teguh Sampaikan malam itu.

Udahan ah. Cerita lebih detail akan ditulis dalam media cetak, insyaAllah (semoga Allah memuluskan segalanya). Cerita di dalamnya termasuk cara penyelesaian di antara si Teguh dan anak tersebut dan beberapa detail lainnya, yang sengaja tidak ditulis di media ini.

 

 

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s