Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Bingung

bingung.JPG

Setelah aku selesai mempersiapkan segala kebutuhan lapanganku selama aku berada di lombok, aku kemudian beranjak tidur. Saat ini waktu di jam dinding kamarku menunjukkan pukul 02.00 wib, artinya aku hanya memiliki waktu 2-3 jam untuk beristirahat. Aku tidak lupa memasang alarm pada pukul 04.45 wib, takutnya kebablasan.

2 jam kemudian…

Sayup-sayup terdengar suara speaker sebuah musholla sederhana yang sedang mengumandangkan tarhim, sebuah amalan yang biasa dilakukannya sebelum adzan subuh. Uniknya, seluruh tarhim tersebut dilafalkan oleh petugas musholla, bukan kaset. Aku pernah bertemu dan mengobrol dengannya, mulai dari tarhim, azan, iqomah, hingga imam, dilakukannya seorang diri, beliau merasa miris karena para pemuda di sekitarnya malas berjamaah. Musholla itu sendiri terletak di dalam pemukiman yang sebagian besar penduduknya beragama nasrani, aku sendiri beberapa kali dikejar oleh anjing peliharaan penduduk tatkala ingin mengunjungi musholla tersebut. Toleransi begitu terjaga dengan baik di tempat tersebut, ketika sedang adzan maka penduduk akan mengecilkan segala aktifitas yang mereka lakukan, seperti karaoke di muka rumah, begitupun sebaliknya jika warga merayakan natal maka warga muslim akan mengunjungi rumah tetangga nasrani, menghadiri undangan makan mereka, sehingga mereka bisa larut dalam suasana kekeluargaan.

Setelah terbangun dari istirahat singkat tersebut, aku bergegas mandi untuk menuju masjid bersama Teguh melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai jamaah subuh, aku membeli sarapan di warung dekat balai RW. Aku membeli dua bungkus nasi pecel + telur, gorengan, dan dua bungkus susu putih kental manis. Selanjutnya, aku sarapan bersama Teguh. Setelah sarapan, aku bersiap-siap menuju berangkat menuju bandara, bisa repot kalau telat.

Setibanya di Bandara Ahad Yani Semarang, aku meminta Teguh mengantarku masuk, bukan apa-apa, aku cuman ingin mengenalkan Teguh dengan Sary, Teguh hanya mengenal Sary dari beberapa ceritaku saja. Setelah beranjak dari parkiran, terlihat sebuah lambaian tangan tertuju ke arah kami dari arah Loby bandara. “Nah, itu bro yang namanya Sary” ujarku pada Teguh sambil menunjuk ke arah Sary. “Yang baju merah itu ya shob”, ujar teguh memastikan. “Iya bener” aku membenarkan.

Setelah memasuki loby, aku memperkenalkan Sary pada Teguh.

“Jadi, ini loh yang namanya Sary bro..” Ujarku pada Teguh.

“Sar, ini yang namanya Mas Teguh..” Ujarku pada Sary.

“Assalamu’alaikum, jadi ini to yang namanya Sary, cewe setrong yang sejenis dengan Adang” Teguh memperkenalkan dirinya, dengan kepala agak menunduk dan kembali tegak setelah melepas salam kepada Sary.

“Wa’alaikum Salam, eh ini ya yang namaya mas Teguh, salam kenal ya, mas Adang sering menceritakanmu mas” balas Sary, sambil mengulurkan tangannya mengajak salaman.

“hah…iyakah, Adang cerita apa aja Sar…?” kemudian teguh mengambil syal yang berada di lehernya, untuk melapisi tangan kanannya, selanjutnya membalas uluran tangan Sary untuk bersalaman.

“Dang, lo cerita apa aja ke Sary…?” Lanjut Teguh menanyaiku.

“Ada deh, kepo banget lo bro..” Jawabku pada Teguh.

“Kalian ini lucu sekali, hehehe” Ujar Sary sambil tertawa ringan.

“Ya sudah.. Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan kalian selamat sampai kembali lagi ke Semarang, Gue ada kelas pagi sekarang, jadi harus balik duluan” ujar teguh.

“Oke mas, terima kasih atas do’anya ya” Ujar Sary.

“Okelah bro, makasih udah nganter gue” ujarku pada Teguh.

“Assalamu’alaikum” Teguh melepas salam sambil mengangkat tangan kanannya setinggi bahu, dan menunduk singkat kemudian kembali tegak.

“Wa’alaikum salam” balasku dan Sary kompak.“

“kamu cuman bawa tas doang Sar…?” Aku memperhatikan bawaan Sary.

“Iya, cuman bawa bandeng ma brownies. Ini Baju pesenanmu Mas, hehehe” Sary memberikan tas tenteng berwarna merah berbahan dasar kain, sambil tertawa. Aku tau dia sedang menertawakanku tatkala mengenakan pakaian ini pada saat mengunjungi Kakeknya.

“Ok, makasih ya” Aku mengambil tas tersebut, sembari memikirkan tindakan seperti apa yang akan aku lakukan di hadapan kakeknya Sari.

Setelah memasuki ruang tunggu, kami mengobrol ringan untuk menunggu waktu berangkat. Kami berangkat pukul 6.30 wib dan akan tiba di Lombok pukul 9.10 Wita. Sebenarnya waktu tempuhnya adalah dua jam, namun karena Lombok berada di zona waktu indonesia bagian tengah maka waktunya ditambah satu jam.

“Mas, jadi itu ya yang namanya mas Teguh” Ujar Sary.

“Yep, knpa…?” Tanyaku.

“Gak…hanya saja, biasanya yang suka gituin aku ya temen-temennya Kakek, sebelumnya kalau aku ngajak salaman orang paling banter ga diladenin sambil ngucapin ‘afwan, ukhti kita bukan muhrim’, bener sih, cuman kadang gue kurang srek aja.” Ujar Sary.

“Oh itu, iya si Teguh kalau lagi perjalanan itu biasa menjaga wudhunya, kali aja dia gamau wudhu nya batal gara-gara sentuhan ma kamu Sar. Lah, kenapa ga srek sih, bukannya seharusnya emang gitu…?” Ujarku pada Sary.

“Bukan gitu, di rumah kalau ada yang mau salaman ma Kakek ya Salaman, meskipun bukan muhrim. Kakek tinggal melapisi tanggannya dengan kain yang ada di sekitarnya, entah itu taplak meja atau syurbannya. Sedangkan tamu yang perempuan, biasanya sudah melapisi tangannya juga dengan kain yang memang sudah dipersiapkan. Aku biasa gitu kok kalau ngunjungin temen-temen kakek” Ujar Sary menjelaskan degan detail.

“Gini ya mas, cowo-cowo yang dikenalin kakek itu rata-rata lulusan mesir, mekkah, atau madinah, jadi secara keilmuan bahasa arabnya sudah jago bukan? Ilmu keislamannya sudah mumpuni bukan? Sama sekali mereka ga pernah memanggilku dengan sebutan ukhti, ataupun menggunakan bahasa arab  sepotong-potong. Malahan mereka nyante ngobrol denganku, salaman, ya salaman.” Lanjut Sary.

“begitu ya… Terserah kamu aja deh Sar, yang penting kamu seneng aja” jawabku datar.

Akhirnya kami dipersilahkan menuju pesawat. Pesawat yang kami gunakan adalah pesawat biru yang berlogo burung sangar. Aku menanyakan harga tiketnya pada Sary, awalnya Sary tidak mau membahas masalah tiket, namun setelah aku coba gali, ternyata harganya terlampau mahal bagiku. 2.500K per seat bagiku terlampau mahal bagi sosialist sepertiku, namun Sary mengatakan “udah deh mas, gausah mikir macem-macem, aku mau kita cepet sampai, itu aja, aku punya banyak agenda liburan bareng kamu, dan aku tau kamu juga punya agenda khusus besok, jadi gausah banyak protes deh, okey”. Karena aku sedikit banyak sudah tau sifat Sary, maka aku memakluminya, karena pada dasarnya Sary juga seorang sosialis bukan tipe gadis yang suka hura-hura menghabiska uang untuk kesenangannya.

bandara

Kami mendarat di Bandara Internasional Lombok, Praya tepat pukul 9.10 Wita. Aku sudah empat kali ke Lombok, kebanyakan karena ada proyek kementrian sosial. Kami dijemput oleh seorang pria muda, aku rasa umurnya sama sepertiku, dia memperkenalkan dirinya sebagai Arif padaku. “Assalamu’alaikum, kakek meminta kakak untuk menjemput Sary.”

“Wa’alaikum salam, jadi ngerepotin kak Arif nih” Ujar Sary.

“Oh iya kak, kenalin ini Mas Adang, temenku di Semarang, dia ada kerjaan pas festival ‘bau nyale’ nanti di Lombok Tengah.” Jawab Sary, kemudian langsung mengenalkanku pada Mas Arif.

“Oh iya, Saya Adang temennya Sari” Jawabku pada mas Arif.

“Jadi kita mau kemana sekarang, langsung pulang atau bagaimana dek….?” Ujar Mas Arif pada Sary.

“Kita ke masjid Agung Praya dulu kak, adek mau cuci muka dulu” Ujar Sary.

“Enggih dek” Ujar Mas Arif. Menurutku Mas Arif orangnya sopan, baik, dan tampan. Sary sendiri belum menceritakan apa-apa tentang mas Arif. Menurutku, mas Arif ini adalah orang yang dekat Sary. Entahlah, aku tidak punya informasi tentangnya.

Setiba di Masjid Agung Praya, Aku langsung melaksanakan tahiyatul masjid dan sholat dhuha. Aku rasa Sary pun demikian. Sary memang aku akui rajin mengerjakan ibadah sunnah, walau sedang berada di lokasi ekstreem pun sary senantiasa menyempatkan waktu untuk mengerjakan ibadah sunnah.

Setelah melaksanakan sholat sunnah, Sary mengajakku makan bakso. “Mas Aku lapar, ngebakso dulu yuk, bakso di sini enak loh..” ujar Sary.

“Boleh” aku menyanggupi ajakan Sary.

Bersama mas Arif kami menyantap bakso, di samping masjid Agung Praya. “Waaoow….enak banget baksonya, kuahnya nendang banget” kata-kata itu spontan keluar dari mulutku. “Tuh kan, apa kataku” ujar Sary, sementara mas Arif hanya terlihat tersenyum saja melihat tingkahku.

Bakso yang aku santap itu rasanya memang beda, begitu terasa cacahan daging pada bola baksonya, aroma kuahnya begitu terasa dan tersedia lontong. Lontongny unik, ga berbentuk seperti guling, namun berbentuk seperti limas segitiga sama panjang. Makan bakso plus satu lontong saja rasanya udah kenyang banget.

Setelah kenyang, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju kediri kediaman Sary. Perjalanan dari Praya-kediri memakan waktu 20 menit. Begitu sampai di Kediri, aku membaca tulisan “Kediri Kota Santri” membentang dari kiri jalan ke kanan jalan di atas jalan Kediri. Aku belum memiliki gambaran sebenarnya tentang lingkungan keluarga Sary. Memang aku perhatikan banyak pondok pesantren di daerah tersebut.

“Loh kok, nih mobil malah masuk ke dalam sebuah pondok, mau ngapain….?” Ujarku.

“Alhamdulillah kita sampai mas” Ujar Sary.

“hoh….iya, alhamdulillah sampai” agak sedikit bingung sih.

“Dek, kakak mau nemui kakek dulu, mau laporan dulu” ujar mas Arif.

“Iya kak, terima kasih ya sudah dijemput” Ujar Sary.

“Mas Adang, tak tinggal dulu ya, Assalamu’alaikum” ujar mas Arif padaku.

“Iya Mas, terima kasih sudah dijemput, wa’alaikum salam” jawabku ramah.

“Ayo mas, rumahku ada diujung, kita jalan aja dari sini” ujar Sary.

“Oke, rumahmu ramai ya, dipadati banyak santri” tanyaku.

“Iya dung” jawab Sary.

Sepanjang jalan begitu banyak mata yang menatap kearahku, tatapan penasaran tepatnya. Begitu sampai di halaman utama pondok, semakin banyak aja santri wanita yang penasaran atasku. Saat ini aku belum tau model pondok seperti apa yang ku masuki, apakah khusus putri atau campur antara putra dan putri. “eh siapa cowo gondrong yang ada di sebelah mbak Sary, liat tuh celananya robek sana-sini” mungkin begitulah yang ada di pikiran mereka.

Aku tiba disebuah bangunan cukup keren di tempat ini, keren karena begitu teduh, banyak tanaman yang tumbuh disamping rumah tersebut, terdapat gazebo atau disebut berugaq ditempat ini. “Mas duduk dulu di Gazebo bentar ya, aku mau masuk dulu” Ujar Sary. Kemudian Aku mengiyakannya. Aku pikir Sary mau ngasih tau orang rumah dulu, paling bentar aja. Namun, dasar si Sary, Aku didiemin selama 30 menit sendirian di Gazebo, entah dia lagi ngapain di dalem. “Dasar tuh anak, apa dia lupa ada aku di sini” gumamku dalem hati.

Di tengah-tengah gumamanku tadi aku kemudian mendengar sebuah sapaan tertuju kearahku, suaranya pelan, terdengar seperti suara kakek-kakek. “Assalamu’alaikum” Ujarnya.

Aku menoleh sembari menjawab salamnya “wa’alaikum salam” ujarku. Aku melihat seorang kakek sekitar 60-70an tahun mengenakan pakaian serba putih, dari sarung, peci, hingga syurban, semua berwarna putih, Kakek tersebut menggunakan terumpah kayu sambil memegang tongkat di tangan kanannya. Di samping kakek tersebut berdiri mas Arif. Kemudian aku berfikir “mungkin ini kakeknya Sary”, aku kemudian menghampirinya kemudian bersalaman.

“Sudah lama nunggu…?” Ujarnya.

“Iya kek, Sary belum keluar dari tadi” Ujarku,

“Ayo di dalam saja. Arif tolong gantikan kakek ngajar hari ini, kakek ada tamu” Ujar kakek tersebut.

“Enggih kek” mas Arif menyanggupi kemudian menyium tangan kakek tersebut dan meninggalkan kami.

Aku berjalan masuk ke dalam rumah tersebut, kemudian duduk di ruang tamunya. Aku memperhatikan dengan seksama, begitu banyak kaligrafi arab terpajang di dinding rumah tersebut. Beberapa Foto—yang kupikir adalah ulama—terpajang di hadapanku, entah siapa, aku tidak mengenalnya.

“Sary…buatkan minum untuk kakek dan Adang” Ujar kakek tersebut pada Sary.

“Namu Adang ya, tadi Arif sudah cerita. Katanya Adang ini temennya Sary, kebetulan mau ikut ‘bau nyale’ ya” Ujar kakek tersebut padaku.

“Oh iya kek, Saya Adang temennya Sary, iya kek saya ada tugas untuk meliput festival bau nyale itu” aku mulai memperkenalkan diri,

“Sudah lama berteman dengan Sary…?” Kakek mulai menggali informasi.

“Iya kek, sekitar satu tahun” jawabku singkat.

“Adang ini satu kampus kah dengan Sary…?” tanya kakek.

“Oh enggak kek, Saya kuliah di tempat lain” ujarku pada kakek.

“Kuliah jurusan apa, sudah semester berapa…?” kakek semakin dalam bertanya.

“Saya ngambil ilmu sosial, baru semester 1” jawabku

“S2 ya….?” ujar kakek.

“enggak kek, saya kebetulan ngambil program doktoral sekarang”. Sebenarnya aku males kalau udah ngebahas ini, cuma karena yang nanya kakeknya Sary, apa boleh buat aku harus jawab.

“oh begitu ya. Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa, kakek tidak akan menanyakan hal itu lagi. Bagaimana Sary di semarang, nakal enggak?” Kakek langsung menghentikan pertanyaannya tentangku.

“Maaf kek? Maksudnya bagaimana?” Aku bingung, seolah-olah si Kakek bisa mendengarkan kata hatiku.

“Iya, si Sary sering males kuliah enggak?” ujar kakek menjelaskan.

“oh…sary, Sary rajin kek.” Sebenarnya aku masih bingung.

“Alhamdulillah kalau dia rajin, Adang gausah bingung ya, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt, kita hanya perlu mendekatkan diri pada Allah swt untuk dapat mengetahui rahasia kehidupan ini” Ujar kakek.

“Iya kek.” Jawabku pendek. Sebenarnya aku semakin bingung, hanya saja kata-kata kakek tersebut perasaan pernah aku dengar dari Teguh.

“Iya iya iya…..Nanti kalau sampai di Semarang, sampaikan salamku pada Anak itu” ujar kakek.

“Salam? Maaf bagaimana kek, salam ke siapa?” ujarku kebingungan.

“teman satu kontrakanmu, yang mengantarkanmu ke bandara tadi pagi” ujar Kakek.

“Teguh ya” ujarku.

“kakek kenal dengan Teguh” aku semakin penasaran.

“Oh namanya Teguh ya, iya Salamkan ya.” Ujar kakek.

Aku benar-benar bingung saat itu, hanya saja aku mulai berfikir, siapa tau Sary sering bercerita pada kakek tersebut. Mungkin kakek penasaran dengan Teguh, tapi kok tiba-tiba bisa membahas Teguh, apa kakek ini beneran bisa mendengar yang aku pikirkan…? di tengah-tengah kebingungan pikiraanku itu, Sary keluar menyuguhkan minuman dan makanan ringan.

“Wah asyik bener obrolannya, lagi ngobrolin apa sih…..?” goda Sary.

*Bersambung.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s