Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Namanya Sary

IMG_7320.JPG

Masih dalam usaha untuk menelurkan satu tulisan setiap hari. Kali ini, saya tidak akan membahas cerita tentang Teguh. Sebenarnya masih dipertimbangan, apakah cerita ini akan dimuat dalam “Sebuah Cerita tentang Teguh” atau akan menjadi cerita tersendiri. Cerita berikut terinspirasi dari diskusi bersama mahasiswi sastra yang berangan-angan mengangkat tema “kesetaraan gender” dalam Tugas Akhirnya.

Sebut saja namanya Sary, seorang gadis ceria yang senantiasa tersenyum dan memberi tawa hangat bagi sekitarnya. Sary memiliki tinggi 168 cm, dengan berat badan 56 kg, cukup ideal bila melihat postur tubuhnya secara langsung. Orangnya supel, mudah bergaul, serta ramah, mengakibatkan Sary mudah diterima dalam pergaulannya sehari-hari. Sary tidak pernah membeda-bedakan teman mengobrol, setidaknya begitulah yang aku perhatikan dari dirinya manakala aku membawanya terjun ke lokasi tempatku mengambil data, seperti tempat lokalisasi, pasar, hingga di tempat komunitas penyuka sesama jenis sering berkumpul, Sary tidak pernah menganggap sebelah mata mereka, malahan Sary begitu santai mengobrol tanpa beban dengan mereka.

Perjumpaanku dengan Sary sebenarnya tidak pernah aku duga. Kira-kira setengah tahun lalu, pada saat aku sedang menggarap proyek pendataan ‘homeless’ atau tunawisma di Kota Semarang, aku melihat seorang gadis berkerudung sedang berinteraksi dengan sangat santun dengan seorang ibu yang kala itu tengah menyiapkan tempat tidurnya di depan emperan toko. Jam di lengan tangan kananku waktu itu menunjukkan pukul 23.40 WIB “Ada kelompok lain ya di lokasi ini…?” ujarku pada firman, firman merupakan salah seorang ‘volounteer’, satu team denganku. “Setauku gak ada deh mas”, Jawab firman.

Akupun bergerak maju menuju lokasi Sary kala itu, karena aku memang ingin mendata ibu tersebut. Dengan baju kaos lengan panjang berwarna kuning, mengenakan celana jeans biru dongker, dan krudung jingga, Sary melepas senyum menjawab salamku “’Alaikum salam, iya mas ada yang bisa dibantu…?” ujar Sary. “Aku lihat kok obrolannya begitu menarik, dari tadi aku perhatikan penuh tawa satu sama lain, kalau diizinkan, boleh dong ikut ngobrol…?” Balasku, aku sengaja menyembunyikan maksud dan tujuanku, karena aku harus mengedepankan pendekatan emosional terlebih dahulu. Begitulah awal perkenalanku dengan Sary, perkenalan di tempat yang tidak biasa.

Mengenai Sary, sebenarnya dia adalah sosok yang langka. Belum pernah aku temukan seorang gadis yang tanpa canggung mengobrol dengan wanita yang berdagang di tempat lokalisasi, sebuah tempat yang begitu menyeramkan bagi kebanyakan gadis seumurannya. Oh iya, Sary memiliki nama lengkap Syariatul Islamiyah, mengambil jurusan dakwah di salah satu kampus Islam di kota Semarang. Dari namanya saja, sudah bisa terlihat karakter keislamanya. Sebelumnya Aku hanya mengenal Sary dari sisi sosialnya, bukan latar belakang status sosialnya. Hanya saja, belakangan Aku tau bahwa Sary merupakan seorang cucu Kiayi besar, cucu kiayi yang benar-benar gaul abis, mampu masuk ke semua lapisan masyarakat.

Dari satu aktifitas ke aktifitas lainnya, aku dan Sary semakin sering bertemu, entah karena minat kami yang sama atau memang suatu kebetulan semata. Sary merupakan sosok yang kocak, hal tersebut membuat kami begitu lepas berbagi cerita kami, bahkan beberapa kali Sary membagikan cerita hidupnya.
Sary pernah menceritakan bahwa dirinya diminta oleh kakeknya untuk menikah dengan lelaki muda pilihan kakeknya. Tampan, lulusan mesir, ahli islam, begitulah sosok pria yang dikenalkan kakeknya kepada Sary.

“Iya mas, masak kakek berulang kali mengenalkan cowo-cowo alim padaku” ujar Sary.

“Kakek pernah mengenalkan mas Hafiz, “Ini Hafiz, seorang kiayi muda asal Masbagek, Putranya Kiayi Mustofa Masbagek, dulu kamu sering main bareng pas kecil, inget gak…?” ujar kakek, kakek tuh gitu nyebelin, udah tau aku pengen kuliah dulu, ini malah diminta nikah ma cowo-cowo alim itu” Sary melanjutkan curhatnya dengan nada agak kesel.

“Lah kenapa begitu, bukannya malah bagus, kakek sudah memilihkan bibit, bobot, bebet yang baik untuk cucunya. Gadis mana coba yang gak mau nikah dengan kiayi muda…?” Tanyaku penasaran.

“Ogah… yang ada malah nanti aku dilarang main ke tempat biasa” Sary menjawab dengan ketus. Alasannya masuk akal juga, karena ada kemungkinan Sary dilarang mengunjungi lokasi yang biasa kami singgahi untuk sekedar mengobrol bebas bermasyarakat.

“Lah…trus mau mencari pasangan hidup yang seperti apa….?” Tanyaku lebih lanjut.

“hmmm…belum kepikiran sih, cuman yang ngerti agama aja dan ngerti apa yang aku lakuin.” Sari menjawab singkat.

“Bagaimana jika mas…..? ditolakkah…?” Aku menggodanya.

“Coba sowan ke kakek aja, kalau kakek setuju, Sary mah oke aja” Sary membalas menggodaku.

“Apa Kakekmu mau nerima cowo lapangan seperti mas ini, celana robek sana-sini, baju apek bau lapangan, rambut ga beraturan hampir gondrong”, Aku tambah menggodanya.

“Hmmm…kakek sih ga melihat kulit tampilan luar, hanya saja, paling nanti dites sana-sini, bisa baca kitab gundul apa enggak? Lulusan pondok mana? Hafal berapa juzz?” Ujar Sary sambil mencoba mengingat-ingat dengan serius.

“Oke fix, aku gagal.” Responku singkat.

“ah…cupu banget kamu mas, belum apa-apa aja udah nyerah, cemen banget mas.” Sary meremehkan.

“Serah apa kata kamu deh Sar, serem banget” Jawabku cuek.

“Aku jadi beneran pengen liat kamu ketemu kakek mas, ayo sekali main ke rumah, mau ya, mau ya, ayolah mas…” Ujar Sary sambil tertawa. Aku tau ada niat yang tidak baik yang disimpannya.

“Gamau, bisa kena serangan jantung nanti. Hmmm…wait, bagaimana jika kamu belikan mas baju koko model arab, biar nanti mas gunakan ketemuan ma kakekmu….?” Aku memberikan syarat pada Sary. Tentu saja aku juga punya rencana lain.

“Deal, ok sip, gamasalah… Jum’at depan maen ke rumah ya…” Sambil tersenyum penuh arti, Sary mengiyakan.

“Ok… hahaha”, aku membalas senyumnya degan tawa…
Itulah awal mula aku mengenal sosok Kiayi Busyairi.

*Bersambung.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

2 thoughts on “Namanya Sary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s