Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Yuk Hijrah

Satu bulan yang lalu, ketika makin maraknya pemuda-pemudi yang merasa terpanggil oleh panggilan hijrah ke bumi syam “guna berjihad di jalan Allah SWT” ujarnya, aku merasa tergelitik untuk membahas fenomena ini bersama Teguh. Jadilah kami menghabiskan malam berdua saja, ditemani satu bungkus terang bulan keju, dua cangkir ukuran besar kopi hitam tanpa gula, dan tentu saja sebungkus kretek.

Seperti biasa, Aku harus menunggu waktu yang cukup lama menunggu si Teguh keluar kamar, kebiasaan tuh anak kalau malam jum’at adalah mengurung diri di dalam kamar, entah ngapain, aku gak mau tau urusan pribadinya. Namun menurut penuturan si Teguh “malam jum’at itu waktu yang baik untuk berkhalwat atau mendengarkan pembacaan Ratibul hadad atau Al-berzanzi”.

Kira-kira jam 10 malam Teguh keluar kamar mengenakan sarung berwarna hijau motif kotak-kotak, baju koko wana putih yang tertutupi jas berwarna hitam, sebuah kain ditaruh di pundak kirinya dan peci hitam. Setelah pintu kamarnya terbuka, seketika itu tercium aroma yang begitu menusuk hidungku, aromanya seperti wewangian kembang yang biasa digunakan oleh bapak-bapak dimasjid sebelah, hanya saja wanginya lebih soft.

“Lo abis ngapain bro, anyway lo pake parfum apaan…?” tanyaku penasaran.

“Gue abis nerima tamu jauh, oh itu bukan parfum gue, itu aroma yai Ahmad” jawabnya datar.

“Tamu….?” Aku mencoba untuk tidak kaget, mencoba memahami arti kalimat yang disampaikan Teguh.

“Sudahlah Dang, katanya mau mendiskusikan masalah fenomena hijrah itu, mau di kamar gue apa di kamar lo..?” Rupanya Teguh tidak mau melanjutkan membahas aktifitasnya.

“di kamar gue aja, gue udah bikin kopi barusan” Aku mengajaknya.

“Oke, gue mau ganti baju dulu” Teguh mengiyakan ajakanku.

Sambil berjalan ke arah kamar, aku masih bertanya-tanya dalam hati “tamu apa yang dimaksud, siapa itu yai Ahmad…?”, padahal di dalam kamarnya tidak ada orang. Hanya saja, semua pertanyaan tersebut sirna setelah aku sadar “oh iya, aku lupa, dia itu kan Teguh”.

Setelah aku sampai di kamar, tidak lama kemudian Teguh datang, dengan mengenakan kaos putih, peci dan sarung hijau. “wah terang bulan keju…” Teguh langsung kegirangan melihat kue bandung manis yang masih hangat tersaji di hadapanku.

“iya, gue tau lo seneng banget sama nih makanan” jawabku singkat.

“Lo emang temen yang baik Dang, sering-sering aja lo kek gini, gini ni kalau temenan ma anak sosial, pinter nyogoknya kalau ada maunya” ejek Teguh.

Bangke Sialan lo. nih sekalian gue bawain (sambil mengeluarkan sebungkus kretek) biar lo tambah seneng” ujarku sambil memberi candaan hangat.

“Demen banget gue kalau gini mah, Dang. Sering-sering aja” Teguh semakin girang.

“Oke, Bagaimana Definisi hijrah menurut lo bro…?” Aku langsung memulai diskusi.

“Hmm…hijrah ya” Sambil memantikkan api ke batang kretek di tangan kirinya.

“Al hijratu lailatu ha dina, hamalal islamalana dina, Fasalaa mullahi’alal hadi wal kaunu yurodidu amina” Lanjut Teguh menjelaskan membacakan sebuah kalimat berbahasa Arab.

“Artinya apa bro..?” tanyaku penasaran.

“Gue sendiri mengartikan hijrah itu lebih kearah aspek spiritualitas, karena percuma saja lo hijrah even ke negeri syam, namun tidak menemukan ketenangan dalem jiwa lo. Hijrah yang gue maksudkan adalah menenangkan hati dan nafsu yang sebelumnya liar.” Jawab Teguh.

“Ok, gue faham. Lantas bagaimana pandangan lo terkait pemuda-pemudi Islam yang ramai-ramai berhijrah ke bumi syam atau timur-tengah sana, karena berfikir Indonesia sangat tidak islam…?” Aku melanjutkan diskusi.

“Itu hak mereka, jika mereka menemukan ketenangan di sana, mengapa tidak? Hanya saja, ketenangan bisa digapai jika sudah mampu merasakan dan menyadari adanya Allah SWT di setiap helaan nafas dan degup jantung kita masing-masing, ketenangan ada pada diri kita bukan pada suatu lokasi tertentu” Ujar Teguh.

“Hmmm…lo ngebahas masalah spiritualitas, ok gue faham. Hanya saja, bagaimana jika ternyata mereka ke timur-tengah sana untuk berjihad guna menegakkan Agama Islam, sebagaimana kalimat yang sering mereka ucapkan…?” Aku bertanya lebih mendalam.

“Masalah Jihad ya, menurut gue berdasarkan ajaran yang gue terima, jihad itu banyak macamnya, ga melulu dengan angkat senjata. Termasuk aktifitas yang lo lakuin selama ini bisa jadi bernilai Jihad, karena lo mencoba mengedukasi masyarakat agar mampu berusaha mandiri, tidak mengalah pada kerasnya kehidupan dunia ini.” Ujar Teguh. Sesekali terlihat Teguh menghisap kreteknya sehingga mengeluarkan asap tebal dari mulutnya, memenuhi ruangan kamarku.

“Hm…. Apa lo pikir perbuatan mereka salah..?” Tanyaku singkat.

“Gini Dang, gue ga punya hak untuk membenarkan atau menyalahkan tindakan mereka. Bisa saja menurut gue salah, ternyata dihadapan Allah SWT mereka itu benar. Bisa saja anggapan gue, mereka benar, ternyata mereka tersesat. Hanya saja, gue akan memastikan keluarga gue maupun orang yang gue kenal tidak melakukan hal tersebut.” Ujar teguh. Perkataannya ini membuatku sedikit bingung.

“Loh, kok gitu bro. Pernyataan lo kontradiktif sekali, di atas lo ga mau menilai mereka, namun di sisi lain lo gamau orang-orang yang lo kenal melakukan hal demikian” tanyaku kebingungan.

“Yap, gue gak ada kewajiban atas mereka. Gue hanya bisa mendoakan agar muslimin wal muslimat senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, namun untuk orang-orang dekat gue, gue memiliki keharusan untuk menyampaikan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Dibanding jihad ke timur-tengah sana, gue akan meminta orang-orang deket gue memastikan agar menjaga kerukunan antar sesama, agar perang seperti di timur-tengah sana tidak terjadi di Indonesia. Sebut saja namanya Jihad Preventif. Sama seperti yang lo lakuin, menyelesaikan masalah sosial dari akar rumputnya.” Ungkap Teguh.

“bip bip biiiiip……bip bip biiip..”

Tiba-tiba aku mendapatkan sebuah pesan masuk. Setelah ku buka ternyata dari Sary. Pesannya berbunyi “Mas, aku sudah beliken baju yang kamu minta, aku udah siepin semuanya, mulai dari tiket, hingga makanan. Ketemu jam 6 pagi di Bandara, Kakek sudah nunggu di Lombok.”

Aku terdiam sejenak, “what…..Nih anak beneran ya” pikirku dalam hati.

“Knapa lo Dang, jadi diem gitu….?” Teguh menegurku.

“Gue diajak si Sary main ke Lombok besok, tiket udah disiepin katanya” Jawabku bingung.

“Sary…? Sary anak dakwah itu?” Tanya Teguh.

“Iya Bro” jawabku singkat.

“bagus dung, lo bisa kenalan ke kakeknya Sary, siapa namanya, lupa gue…” Teguh mulai usil bertanya.

“Kiayi Busyairy..” Jawabku singkat.

“Iya bener Yai Busyairy. Asyik dung” Ujar Teguh.

Belum sempat mejawab pertanyaan Teguh, ponselku berdering, terlihat nama Sary di layar ponselku, kemudian aku angkat.
“Assalamu’alaikum Mas, sudah tidur kah….?” Ujar Sary.

“Alaikum salam, belum nih. Mas masih diskusi bareng Teguh.” Ujarku.

“Baguslah, artinya sms Sary barusan mas sudah baca, bawa keperluan lapangan aja Mas, sebelum ngambil data hari minggu, nginep di rumah kakek dulu, kakek punya banyak cerita, hehehe. Jangan lupa, besok jam 6 di Bandara” Ujar Sary.

“Ok… lanjut saja diskusinya, Wassalamu’alaikum” Sary melanjutkan kemudian menutup Telponnya.

“Heh ni anak, bener-bener dah kalau udah ada maunya, harus terjadi” Ujarku dalem hati.

 

“Gue jadi ke Lombok bro, gue ada kerjaan tiga hari (minggu-rabu), cuman Sary ngemajuin jadwal berangkat gue. Gue mau dikenalin ke Kakeknya” Aku menerangkan ke Teguh.

“Yaudah, diskusinya dilanjuti laen waktu aja. Lo packing aja dulu, besok gue anterin ke bandara” Ujar Teguh.

“Ok, gue udah nangkep poin diskusi malem ini, kita lanjutin lain waktu aja” Aku mengakhiri diskusi.

 

Kemudian aku mempersiapkan peralatan lapangan yang diperlukan pada saat mengambil data di Lombok.

“Hmm…. harus ngomong apa ya ke Kakeknya Sari, aku belum beli oleh-oleh juga, dasar si Sary, awas aja besok tuh anak” gumamku dalam hati.

*Bersambung………

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s