Posted in Islam Toleran

Mas Teguh, bolehkah saya (Nasrani) memegang dan membaca Al-qur’an….?

1

Mas Teguh, bolehkah saya (Nasrani) memegang dan membaca Al-qur’an….?

Bismillahirrohmanirrohim

(ilahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka)

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه

Sebuah pertanyaan yang sederhana memang, namun memiliki kedalaman makna yang sungguh mendalam. Sebuah rasa ingin tahu yang mendalam dari diri seorang insan yang sebelumnya hanya pernah mendengar saja Alqur’an itu apa, atau bisa juga sebuah ketertarikan meng(k)aji pesan damai yang termaktub dalam al-qur’an. Atau entahlah seperti apa pikirannya saat dia menanyakan hal tersebut.

Sebelumnya, saya juga pernah mengalami hal serupa. Hanya saja kala itu kami lakukan di salah satu mata kuliah khusus ilmu islam. Saat itu seorang dosen mengeluarkan sbuah kitab bersampul hitam dari tas punggungnya, kemudian ia menanyakan kepada kami, “adakah yang pernah melihat Kitab Injil atau bahkan ada yang pernah memegang kitab tersebut”? tidak satupun dari kami mengangkat tangan, karena memang kami tidak pernah terbersit berkeinginan untuk mengetahui isi kitab suci tersebut.

Setelah beberapa waktu, akhirnya dosen (seorang dosen dibidang kajian islam; kalau tidak khilaf) tersebut memberitahu kami bahwa kitab yang dipegangnya adalah sebuah injil, iya benar kitab suci Injil. Saling pandang pun terjadi antara saya dan teman-teman yang lain, itulah yang terjadi. Dosen tersebut meminta kami untuk melihat isi Kitab tersebut, terdapat pesan damai di dalam kitab tersebut. Pada waktu itu saya menolak untuk memegang kitab suci tersebut, saya mengangkat tangan dan mengatakan, “Pak, sama halnya dengan adab memegang Al-qur’an di mana kita harus suci (dalam keadaan wudhu), bukankah memegang kitab suci agama lain memiliki adab dan etikanya tersendiri? Hingga saat ini saya belum mengetahui adab dan etika memegang kitab Injil, oleh karena itu izinkanlah saya untuk tidak memegangnya”. Dengan tersenyum dan mengangguk-angguk beliau mengatakan, “saya izinkan”. Setelah kejadian tersebut saya sering diajak berdiskusi dengan beliau, terutama membahas masalah “dunia sufi modern yang akan diisi oleh pelajar dari kalangan sains, sehingga fenomena kesufian akan dijelaskan secara sains dan dapat diterima semua pihak”.

Oke, kembali ke pertanyaan anak insan di atas.

Mendapat pertanyaan demikian, saya menjelaskan bahwa, “… alqur’an itu ditulis menggunakan bahasa arab, membacanya termasuk ibadah bagi kami umat muslim. Untuk membaca Al-qur’an terdapat beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari seperti ilmu makharijul hurf, ilmu tajwid, dll.

 

Sedangkan untuk dapat mempelajari al-qur’an dibutuhkan banyak pengetahuan yang harus dikuasai jadi. Sama halnya jika kita ingin mempelajari sebuah jurnal biologi berbahasa inggris, tentu saja kita harus menguasai bahasa inggris dan tentu saja sudah menguasai ilmu biologi. Mempelajari sebuah jurnal bahasa inggris yang diterjemahkan oleh om gugel tentu saja akan membuat kita tersesat”.

Adapun etika dan adab dalam memegang al-qur’an adalah kita harus dalam keadaan berwhudu,

“….jadi, saya tidak boleh membaca dan mempelajari al-qur’an gitu….?”, responnya mendengar penjelasan saya.

Kemudian saya lanjutkan penjelasannya, “tentu saja boleh, semua orang boleh membaca, mempelajari serta mengamalkan kitab Al-qur’an tersebut, hanya saja yang versi terjemahan, untuk memudahkan orang-orang yang ingin mempelajari al-qur’an maka arqur’an tersebut telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia”.

Oh begitu, di mana saya bisa mendapatkannya? Ujarnya.

Pesan moral:

Setiap kitab suci pasti mengajarkan ajaran damai serta bagaimana cara sebuah toleransi bisa terlaksana. Sekali lagi, “bagaimana mungkin toleransi antara umat beragama bisa terjalin, jika tidak pernah ada komunikasi  diantara umat beragama tersebut”.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

Semarang,  8 Syawal 1436 H | Jum’at 24 Juli 2014

MT. Adang Diantaris

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s