Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Sebuah Cerita tentang Teguh: Satukan Muslim di Dunia.

Sebuah Cerita tentang teguh (satukan muslim di dunia).png

Gila, itulah satu kata yang tepat bagi Teguh pada saat mendiskusikan masalah agama. Entah karena memang otakku yang belum mampu mencerna berbagai pikiran Teguh perihal agama, atau memang karena bahasa yang digunakannya terlampau tinggi sehingga aku tidak mampu menggapainya. Gila yang Aku maksudkan di sini adalah gila belajar bukan gila yang memiliki makna penyimpangan kejiwaan. Bayangkan saja, pernah suatu saat Teguh tidak keluar kamar selama 3 hari, keluar kamar hanya untuk mandi dan mengambil air whudu’. Lampu kamarnya masih tetap menyala sepanjang malam, selama tiga hari tersebut. Pernah pintu kamarnya tidak tertutup rapat pada saat Teguh sedang mandi, sehingga Aku bisa melihat isi dalam kamarnya. Betapa kagetnya Aku pada saat melihat isi kamarnya, berantakan banget, buku-buku berceceran di lantai, kertas-kertas yang dipenuhi coretan memenuhi kamarnya. Namun yang membuatku tak habis pikir adalah, kasur yang tergulung dan diletakkan di pojok kamarnya, “nih anak kagak tidur ya, kok tuh kasur digulung” gumamku dalam hati. Aku hanya terdiam sebentar saja kala itu, karena harus buru-buru mengejar kereta, Aku ada urusan di Bogor selama empat hari.

Mengenai Teguh dan Islam, jujur saja, aku begitu cemburu pada Teguh. Cemburu karena Teguh pernah bertemu dengan Rasullullah Muhammad dalam mimipi, tidak hanya sekali, namun tiga kali, setidaknya sejumlah itulah yang diceritakannya padaku. Aku cemburu, pengen berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW, namun hingga saat ini aku belum bisa memimpikannya. Sesekali aku menggerutu dalam hati “oooo….orang seperti ini ya yang pernah dikunjungi oleh Nabi Muhammad SAW dalam mimipi, apa hebatnya sih nih orang, ustad pun bukan, tahfidz pun bukan, apa hebatnya dia…?”, menurutku sangat wajar jika aku cemburu, siapa sih muslim yang tidak ingin berjuma dengan Nabi Muhammad SAW meskipun dalam mimpi.

Terlalu muluk menurutku, coba bayangkan, Teguh memiliki harapan ga masuk akal. Teguh menginginkan menyatukan umat Islam, yang dinilainya saat ini sudah tercerai berai. Harapan tersebut terlalu mengada-ada menurutku, karena para pemikir islam dari masa-ke-masa tidak bisa menyatukan umat islam, malah semakin terbelah. Setiap muncul tokoh pembaharu dalam islam, maka akan muncul pula aliran baru dalam islam. Bahkan pemikiran untuk menyatukan islam sendiripun merupakan sebuah aliran tersendiri dalam islam, aliran ini adalah aliran non-mazhab memilih kembali pada al-qur’an dan hadist. Ketika sedang memabahas ini, Teguh sendiri memberikan jawaban “Dang, awal beragama itu dimulai dari mengenal Allah SWT., adapun cara untuk mengenal-NYA dan bersaksi atas-NYA akan lo peroleh diakhir pencarian jati diri lo”. Jawaban tersebut belum bisa aku cerna hingga saat ini, terlalu banyak makna tersembunyi dalam kalimat tersebut.

Islam disatukan…? Sulit, bahkan hampir bisa dikatakan tidak mungkin disatukan saat ini. Oke, aku memang bukan ahli agama atau antusias pada pembahasan Islam seperti Teguh, hanya saja dari pendekatan sosial aku bisa mengatakan, “selama manusia masih nyaman hidup di dalam kotak mereka, mereka tidak akan mau keluar kotak tersebut, pokoknya kotak tempatku berada adalah yang paling baik”, sama seperti aliran dalam islam, seorang Salafy akan menganggap kelompoknya yang paling benar, begitupun dengan kelompok Thoriqoh, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Nahdatul Wathon, dll. Hal ini sangat lumrah, namun tidak menutup kemungkinan seseorang yang berada dalam kotak pandora tersebut, berani berjalan keluar kotak mereka dan membina hubungan yang baik pada semua kotak, setelah ia menjelajahi seluruh kotak pandora tersebut. Hmmmm…. Oke, mungkin kalimat tersebut terlalu berat untuk difahami, namun cobalah untuk mencernanya secara perlahan, pelan-pela saja, agar kedepannya tidak mengalami kesulitan membaca cerita ini.

Setelah berlari dari kontrakan menuju pangkalan taksi, akhirnya Aku berhasil sampai tepat waktu sehingga tidak ketinggalan kereta. Aku berangkat ba’da dzuhur dari Semarang, perkiraan tiba di Jakarta adalah jam 9 malam.

Di kereta, Aku bersebelahan dengan seorang bapak mantan masinis, di hadapan bapak tersebut adalah istri beliau, mereka berdua akan menghadiri wisuda putri mereka di Jakarta. Selanjutnya di hadapanku, atau sebelah kiri ibu tersebut, terdapat seorang remaja, remaja tersebut akan menghadiri resepsi nikahan tantenya di Cirebon. Sebagai seorang sosialis, tentu saja aku tidak mengalami kesulitan untuk membaur atau bercakap-cakap, sehingga tidak mengalami rasa bosan yang berarti. Oh ya, mengenai kereta api, kereta api saat ini sudah tertata rapi, menggunakan AC walau di kelas ekonomi. Pemeriksaan karcis terus dilakukan setiap melewati satu stasiun, sehingga tidak ada ceritanya orang bisa duduk di kereta tanpa memegang karcis.

Ketika sedang asik mengobrol, adzan ashar terdengar dari ponselku. Iya, aku menggunakan aplikasi penanda waktu sholat, untuk memudahkan mengingat waktu sholatt mengingat aktifitasku yang ada di lapangan. Setelah memperhatikan sekitar, aku langsung membuka sepatu, membuka kaos kaki, kemudian menjadikan sepatu tersebut sebagai alas (red; sejadah). Aku menjaga wudhuku jika melakukan perjalanan panjang, sebagaimana pesan Teguh “lo kalau perjalanan jauh, usahakanlah tetep jaga wudhu”. Kemudian aku menutup mata langsung takbir, selanjutnya melakukan sholat sambil duduk.

“Beda halnya dengan sholat di dalam bus, tidak ada seseorang dihadapan kita, sholat di kereta kita harus bisa mengukur jarak kita pada saat rukuk da sujud, agar tidak mengganggu seseorang yang berada di hadapan kita. Memang seseorang tersebut akan mengerti dan bertoleransi pada kita, namun, ingatlah ini Dang ‘jangan sampai ibadah yang kita lakukan mengganggu seseorang’ jadi ukurlah jawak sewajarnya pada saat rukuk dan sujud”, begitulah kata-kata Teguh menasehatiku pada saat mendiskusikan perkara tata cara sholat.

Karena aktifitasku yang berada di lapangan, aku mendapatkan beberapa kondisi yang membuatku bingung, oleh sebab itulah aku menanyakan berbagai hal tersebut pada Teguh. Contohnya, pada saat aku sedang berkunjung kesebuah lokasi yang menjadikan babi sebagai binatang adatnya. Setelah aku melakukan research awal sebelum terjun ke lokasi, aku menemukan permasalahan, dimana mereka akan menggendong hewan adat tersebut kemudian akan meminta kita menggendong hewan adat tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap adat mereka. Tentu saja, aku harus menggendong hewan adat tersebut, namun aku juga harus memastikan hukum islam yang bisa menjeratku jika aku lakukan hal tersebut.

“Ya, lo gendong ajalah dang, kalau memang itu harus lo lakuin.” Jawab teguh enteng.

“beneran gapapa nih, masalah hukumnya gimana…?” aku memastikan hukum yang ada.

“Dalam islam, anjing dan babi termasuk binatang yang tergolong ke dalam na’jiz mughollazah, atau nakjiz yang berat. Tidak bisa disucikan dengan berwudhu atau mandi, lo harus membasuh anggota badan yang terkena na’jiz dengan lumpur dan enam kali dibilas dengan air. Sederhananya begitu, nanti deh kita langsung praktik.” Teguh menjelaskan.

“bukan itu bro, masalah gue yang menggendong babi itu yang gue pertanyakan, apakah emang boleh seorang muslim menggendong babi…?” tanyaku lebih menjurus.

“Gapapa, lo gendong aja, anjing maupun babi permasalahannya ada pada nakjiznya. Sedangkan untuk bagian tubuh anjing dan babi yang mengandung nakjiz, terdapat perbedaan pandangan ulama. Sederhana saja Dang, kalau tubuh lo kena liurnya, atau cairan tubuhnya, atau ketika badannya basah trus ngenai badan lo, maka artinya tubuh lo udah kena nakjiz mughollazah, tinggal lo sucikan saja.” Teguh memastikan.

“Namun, jika disuatu waktu lo diharuskan untuk mengkonsumsi hidangan yang mereka sajikan, di mana di dalam hidangan tersebut terdapat daging, sebaiknya lo hindari, lo anak sosial, gue yakin lo bisa menolak mengkonsumsi hidangan tersebut dengan halus, ga perlu gue ajarin lo bagaimana caranya. Lo sebaiknya mengkonsumsi tumbuhan saja.” Lanjut teguh.

“Oh begitu ya bro, ok… ok…. gue faham”, ujarku sambil mengangguk.

Intinya, di saat aku mendapatkan kesulitan menjalankan aktifitas sosialku karena terbentur antara agamaku dan adat sekitar, Teguh adalah teman diskusi yang baik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Setelah menyelesaikan sholat Asharku, aku melanjutkan obrolanku dengan teman dudukku kala itu. Si bapak mengatakan, “Mas, tadi jenengan (red; anda) difoto loh oleh orang yang ada di sana” sambil menunjuk ke arah kananku. Sambil mengangguk aku menjawab “enjih pak, mboten nopo-nopo”.

*Bersambung……

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s