Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Sofia, Namamu adalah Mantra Terhebatku.

IMG_8941.JPG

Malam ini Teguh tiba-tiba saja mengajakku keluar, “Ke Gombel yuk Dang, liat Semarang dari atas” ujarnya dengan penuh antusias, entah masalah apa yang menghampirinya. Teguh sebenarnya sangat jarang meninggalkan kamarnya, paling keluar cari ‘penyetan’ atau memang karena ada janji bertemu dengan pembimbingnya, dan ke kamar mandi, tentu saja. Bisa dibilang 2/3 aktivitas hariannya ada di Kamar, entah mengerjakan apa, Aku ga mau mencampuri urusannya. Oh iya, sesekali Teguh keluar kamar untuk mencari inspirasi, jalan aja muter komplek, pulang-pulang tiba-tiba udah keringetan. Beda halnya denganku, aktivitas harian kuhabiskan di luar kamar, berinteraksi dengan orang-orang baru, mengamati lingkungan sosial sekitar, merumuskan solusi masalah yang ada di lingkungan tersebut.

“Lah….tumben banget bro, ngapain ke sana?” jawabku penasaran.

“Kagak ada apa-apa, gue lagi pengen liat suasana Semarang dari atas, itu doang kok. Lo mau gak…?” Teguh menjelaskan.

“Hokey…siap. Gue mandi dulu, badan gue bau kambing, gue seharian nongkrong di pasar tadi.” Aku mengiyakan ajakannya.

“Ok, gue tunggu di tempat parkir”. Jawab Teguh.

Setelah 10 Menit kami berangkat… (Gue cowo bro, gak mungkin mandi pake lama..)

Jalanan menuju bukit gombel agak licin, karena memang habis hujan. Kendaraan pun tidak terlalu ramai, jadi kami bisa sampai lokasi degan cepat. Sesampainya di gombel, kami memilih lokasi duduk di tempat yang paling tinggi, agar pemandangannya jelas. Aku memesan intel (red; Indomie + Telur) dan es teh, tentu saja es teh, ini Semarang, apapun makanannya, es teh minumannya, “remember that bro”. Sedangkan teguh hanya memesan coklat panas, “dia mungkin masih kenyang”, pikirku.

“Gue habisin makanan ini dulu ya, lo puas-puasin aja dulu liatin semarang, like you said before.”, Hahaha, pernyataan orang yang lagi lapar.

“Ok bro, enjoy your time” Ujar Teguh sambil mulai menyulut bara api di batang kreteknya.

Setelah menghabiskan ‘intel’ kemudian aku memesan secangkir kopi sebagai ‘sangu’ ngobrol.

“Oh ya, ada apa bro? Tumben lo ngajak keluar malam-malam gini?” Aku memulai membuka percakapan.

“Gue lagi seneng, Sofia ngebales pesen yang gue kirim” Teguh menjawab dengan antusias.

“Sofia….? Penulis itu…? Bagaimana bisa…?” Kaget juga sih, penasaran juga pastinya.

“Iya, iya, Sofia yang itu. Jadi gue kirim foto semua tulisan dia yang gue baca. Kemudian semalem Sofia balas dengan ucapan “Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan sederhana tersebut, Saya tidak mengira ada orang yang tertarik pada tulisan itu ” Teguh mulai bercerita dengan antusias.

“Itu doang…? Yaelah, itu sih lumrah banget bro.” Mencoba menggali informasi.

“Anggap aja begitu shob, selebihnya biarlah gue simpern sendiri.” Ujar teguh mulai menghindar, sesekali ia menghirup panjang kepulan asap yang dihasilkan oleh batang kreteknya.

Kemudian Aku coba menelaah apa yang sedang terjadi, membaca gestur dan raut muka Teguh ketika membahas Sofia. Kemudian aku mencoba melakukan pendekatan yang berbeda, setelah diam beberapa saat, Aku langsung bertanya,

“Bro, bagaimana lo bisa jatuh hati pada Sofia..?”, tanyaku penasaran. Aku sebenarnya sudah lama penasaran dengan sosok Sofia, sosok yang begitu Teguh kagumi.

“Kenapa nanya itu tiba-tiba shob..?” Teguh menimpali pertanyaanku dengan pertanyaan, dengan pandangan mata yang langsung menusuk tajam kearah mataku, mencari tahu arah pertanyaan yang kuberikan.

“Gue penasaran aja bro, seperti apa Sofia, sehingga bisa ngebuat lo seperti ini”, jawabku singkat.

Gini Dang, Kadang gue bertanya-tanya dalam hati, “kenapa gue bisa nyaman membaca setiap tulisannya…?” Sampe-sampe ngebuat gue terlena hanyut masuk ke dalam alur pikiran tulisannya itu. Sederhana memang, tapi gue gak pernah ngelewatkan setiap tulisannya, gak pernah sekalipun. Mungkin karena hanya dari tulisan itulah gue tau bagaimana keadaannya, apa yang sedang ia pikirkan, lakukan, dan idamkan. Dia punya karakter yang kuat bro, kuat banget malah, bagaikan rumput yang akan tetap kembali berdiri tegak walau banyak kaki yang menginjak rumput tersebut.

“itu doang…?” Aku mencoba menggali lebih dalam.

“Lebih dari itu Dang. Gue berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan Sofia” Ujarnya penuh harap. Jadi, Teguh mengaku belum pernah bertatap muka dengan Sofia, Teguh mengenal Sofia hanya melalui tulisan yang Sofia buat.

“Amin. Gue doaken deh biar lo bisa ketemu Sofia, kali aja lo dapet tanda tangannya..” Aku mencoba menggali lebih dalam lagi.

“Syukron shob. Aishhhh…. Tanda tangan, lu…ah….nyari masalah aja lo, semprull….hahaha” Teguh malah salah nangkep. Memang, hingga saat ini Teguh masih berusaha untuk mendapatkan tanda tangan dari pembimbing Tugas Akhirnya.

“ha ha ha…” tawaku lepas.
“Gue masih penasaran bro, bagaimana bisa hanya dengan mengingat nama Sofia saja, semangat dan mood lo langsung balik…?” Tanyaku lebih dalam lagi.

“Not need to know” Ujar Teguh singkat, sebuah isyarat yang menandakan Aku tidak boleh mengetahuinya.

“hah..really…? but, why…?” Aku mencoba mencari tahu mengapa hal tersebut dirahasiakan.

“Not need to know” jawaban Teguh masih sama.

“eh Dang, gue pengen nyobain roti bakar keju, lo mau gak, biar gue pesen double?” Teguh menghentikan pembicaraan.

“gue masih kenyang, ntar gue nyicip aja deh” timpalku.

Setelah menghabiskan roti pesenan Teguh barusan, sembari ngobrol ‘ngalur-ngidul’ kami beranjak pulang.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s