Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Sebuah Cerita tentang Teguh: LGBT, dibantai atau dikasihi.?

Sebuah cerita tentang teguh.jpg.pngSiang ini cuaca Semarang tidak begitu panas, lumayan hangat karena langit Kota Semarang diselimuti oleh awan pekat berwarna abu-abu. Secangkir teh hangat menemaniku mencari bahan untuk pertemuan internasional yang membahas tentang kawasan desa Industri pada bulan Juni nanti. Berbeda dengan Teguh yang begitu antusias bila membahas perkara Agama, Teguh berangan-angan ingin menyatukan menyatukan muslim, Teguh pernah menyebutkan “Gue yakin, suatu saat yang gak lama lagi Islam akan menjadi satu kembali jadi Islam yang menjadi rahmat bagi semua, damai banget dah waktu itu bro, semua agama bakalan hidup rukun saling ngejaga, ga ada rasa saling curiga.”, sedangkan aku sendiri lebih tertarik membahas fenomena sosial, mau ngobrol hingga subuh juga bakalan tak ladenin jika sudah berkaitan dengan bahasan sosial, mulai dari bahasan kemungkinan konflik yang diakibatkan dari dana desa hingga fenomena LGBT, merupakan santapan yang renyah untuk aku bahas.

Mengenai LGBT atau Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender sebenarnya bukan hal yang baru, Teguh sendiri berkata “sudah ada sejak zaman kenabian bro”. Agustus 2015 aku sempat berdiskusi lepas dengan Teguh, khusus membahas LGBT. Tahun lalu bahasan mengenai LGBT belum begitu populer di khalayak ramai, sebagaimana yang saat ini tengah marak diberitakan.

6 Bulan yang lalu…..

“Hey bro….ngerjain apaan lo..?”, tanyaku hangat ke Teguh. Malam itu Teguh terlihat tidak seperti biasanya, dengan raut muka serius, beberapa buku tebal berserakan di lantai kamarnya, mulai dari iqtiqad ahlussunnah wal jamaah, al-Gunyah, Ushul Fiqh, hingga Imunologi dasar FKUI.

“Kebetulan nih, Lo punya waktu gak Dang, bantuin gue sini..” Ujarnya singkat.

“Gue kagak ada kerjaan sih, gue barusan submit laporan bulanan. Bantuin apaan emang?”

“Masalah LGBT Dang, lo sering bahas tema ini kan? Ayo bantuin gue” Teguh bertanya penuh harap.

“Lah, nape emangnya? Kok tiba-tiba lo jadi minat bahas gituan…?” Tanyaku penasaran.

“Gue ngerasa tahun depan bahasan LGBT ini akan booming. Gue harus persiapkan bahan buat ngejelasin masalah tersebut, takutnya media mainstream akan ngegiring opini publik untuk membenci golongan tersebut” Teguh menjelaskan tanpa basa-basi.

“hmmm….begitu ya. Okey, sejauh mana pemahaman lo tentang LGBT…?” Aku mulai duduk dihadapannya mencoba memasuki alur pikirannya.

“LGBT sebenarnya bukan perkara baru dalam Islam Dang, sudah ada semejak zaman kenabian, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan, fenomena LGBT sudah ada. Dalam Fiqh hukumnya sudah jelas kok. Jangankan berhubungan badan sesama jenis, bertingkah laku menyerupai lawan jenis aja dilarang dalam islam, misalnya cowo yang kemayu, atau cewe yang perkasa. Tentu aja, Islam datang memberikan solusi bukan menambah masalah.” Teguh mulai menjelaskan.

“hmmm…okey.” responku sesekali.

“….Gue juga ngerti kok, berbagai kasus yang menjadi latar belakang cowo menjadi kemayu atau sebaliknya. Bukan itu yang gue permasalahkan atau yang gue cari solusinya, gue pengen cari cara agar hukum fiqhnya tersampaikan dan ajaran islam pembawa rahmat dapat tersampaikan. Kalau gue hanya nyampein masalah hukum fiqhnya doang, ada kemungkinan teman-teman tersebut akan dijauhi atau parahnya bakalan dicaci, diumpat, atau bahkan dijauhi, dan itu semua gak sesuai dengan nafas islam yang membawa rahmat.” Teguh melanjutkan penjelasannya.

“hmm.. bener apa kata lo, fenomena LGBT memang kompleks bro, bukan hanya perkara benar-salah, halal-haram doang. Disamping masalah hukum dalem islam, lo juga harus mempertimbangkan masalah dampak sosialnya, respon apa yang ada dalem hati audience lo, pasca lo nyampein semuanya.” Aku mencoba menggali lebih dalam alur pikiran Teguh.

“yep, itu maksud gue Dang. Apalagi nantinya media mainstream bakalan nonjolin konten-konten yang cenderung menyudutkan teman-teman LGBT.” Jawabnya singkat.

“Lo juga bakalan siap dituduh macem-macem kalau mengcounter konten-konten media mainstream tersebut”. Aku mengingatkan kemungkinan yang bakalan terjadi.

“Iya, gue juga faham itu. Gue tetep fokus nyampaikan apa yang dilarang dan diperbolehkan dalam Islam, tujuannya untuk melindungi generasi Islam muda dari pemikiran asing, dan juga gue harus memastikan mereka tidak sibuk menyalahkan, mencaci maki orang lain yang berbeda dengan mereka, atau dengan kata lain, gue juga harus bisa merangkul temen-temen LGBT untuk nyaman dengan Islam.” Ujarnya penuh harap.

“kalo dari tinjauan sosial sendiri, teman-teman LGBT tersebut menutup diri. Jadi lo kagak bakalan tau siapa aja orang yang tergolong LGBT. Mereka memiliki komunitas, sesama mereka, jadi mereka akan terbuka hanya pada seseorang yang telah mereka percaya aja. Nah, pada point ini, lo bisa masuk. Siapa tau salah satu diantara audience yang hadir pada saat lo ceramah adalah teman LGBT, jadi itu tergantung lo aja sih, kalau yang lo sampein cenderung menyudutkan teman-teman LGBT, gue sanksi lo bisa merangkul mereka masuk dalam indahnya islam. Sekali lagi, semuanya tergantung lo shob.” Aku beri penjelasan sederhana.

“jadi begitu ya, oke gue mengerti.” Jawabnya singkat.

Nah, benar saja, apa yang 6 bulan lalu Teguh risaukan menjadi kenyataan. Saat ini berbagai media islam mainstream memberikan bacaan yang cenderung menyudut teman-teman LGBT. Hal ini tentu saja bermaksud menggiring opini publik untuk membenci LGBT. Seharusnya mereka dikasihi dan dibimbing menuju jalan cinta Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s