Posted in Inspirasi, Islam

Nasionalisme: NKRI Harga Mati.

Semenjak kecil saya memang sudah diarahkan oleh takdir Allah SWT untuk mencintai Negeri ini. Sewaktu aliyah misalnya, saya masuk OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah) di bidang kajian “Bela bangsa”, jadi untuk urusan baris berbaris, melatih petugas upacara, melatih pemimpin pasukan, hingga mengajari bagaimana cara mengibarkan bendera Merah Putih dengan baik dan benar, itu semua merupakan bidang yang Saya lakukan. Tidak usah lah saya ceritkan perasaan seperti apa yang saya rasakan ketika mengikuti lomba gerak jalan dari SD hingga Aliyah, iya saya tidak pernah absen mengikuti lomba tersebut.

Saya persingkat saja, pada saat saya mengerjakan skripsi beberapa waktu yang lalu, Saya mengikuti suatu kajian diskusi lintas kampus. Awalnya diskusi ringan di kantin kampus, sembari meneguk secangkir nescafe hangat. Kemudian diskusi berlanjut hingga Saya bertemu dengan seluruh pimpinan organisasi Kampus Sepulau Lombok (terlihat pada gambar tersebut, saya mengenakan jaket hitam bertuliskan IKAHIMBI berwarna hijau nyala). Hadir pada saat itu, perwakilan KAMMI, HMI, PMII, IKAHIMBI, HIMMAH NW, dll.

27092012138.jpg

 

Saya mendapat undangan tersebut dari kangmas Aziz.

Akhirnya, berdasarkan hasil diskusi tersebut terbentuklah sebuah wadah tempat berdiskusi pemuda-pemudi Sasak (PRADA SASAK; Persatuan terune-dedare SASAK). Kangmas Aziz kami percaya sebagai khalifah (baca; ketua), Saya sendiri berada di Divisi kajian pendidikan dan publikasi budaya SASAK.

Saya, kangmas Aziz, ataupun para pimpinan organisasi kemahasiswaa tersebut memiliki visi atau pandangan yang sama terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu; NKRI Harga Mati titik.

 

  • Dari kakek, saya mempelajari nilai perjuangan memperebutkan kemerdekaan.
  • Dari guru ngaji, saya mempelajari “Hubbul whaton minal iman” (baca; cinta tanah air adalah sebagian daripada iman).
  • Dari Abah, saya mempelajari bagaimana cara ia berjuang melawan penjajah.
  • Dari sesepuh Pulau Lombok, saya mengetahui perjalanan panjang memperoleh kemerdekaan.
  • Dari rekan-rekan aktivis, saya mempelajari ideologi kebangsaan.
  • Dari kampus, saya mempelajari cara mendidik generasi muda bangsa Indonesia.

Jadi, Aneh saja rasanya, jika ada seseorang atau kelompok tertentu yang mengatakan “NASIONALISME itu dilarang dalam ISLAM“, aneh saja jika ada yang mengatakan “haram hormat kepada bendera merah putih“, aneh saja jika ada yang berangan-angan mendirikan suatu negara dan menghalalkan Perang dengan negara penentangnya.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

Semarang, 20 November 2015

M. Teguh A Diantaris

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s