Posted in Islam Toleran, Uncategorized

Pesan dari Bintaro, Paris, hingga Timur Tengah.

Bismillahirrohmanirrohim

(ilahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka)

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه

Beberapa kali saya bermaksud untuk menulis kisah kasus bintaro berikut, namun pada saat akan mempublikasinnya saya mengurungkan niat tersebut, karena tidak ingin membuka kembali catatan sejarah tangisan air mata Nusantara. Hanya saja, setiap kali duduk memandang layar komputer di meja kerja, semakin besar niat untuk menulis kisah tersebut. Akhirnya, setelah mengirimkan al-fatihah bagi seluruh korban pada kasus Bintaro tersebut, saya berniat memulai menulis kisah tersebut dengan penambahan dua kasus lainnya.

Pernahkah mendengar atau membaca kisah pilu yang terjadi pada senin pagi 19 Oktober tahun 1987 di Bintaro? Kala itu tanah Bintaro berubah menjadi merah darah akibat kecelakaan kereta api yang saling bertubrukan. Kereta api 220 ekonomi (Patas) jurusan tanah abang-merak (berangkat dari stasiun kebayoran) bertabrakan dengan KA 225 jurusan rangkasbitung-jkt kota (berangkat dari stasiun sudimara). Korban waktu itu mencapai 156 orang meninggal dunia (semoga mereka tenang, Alfatihah), serta kurang lebih 300 orang mengalami luka-luka.

Bintaro_tragedy
Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/6/61/Bintaro_tragedy.JPG

Masinis KA 225 dinyatakan bersalah karena kelalaiannya oleh pihak yang berwenang dihukum 5 tahun, setelah 20 tahun berkarya mengabdi di PJKA ia harus kehilangan pekerjaannya ia memilih menjalankan usaha kecil-kecilan (berdagang rokok) di kampung halamannya. Pun demikian dengan kondektur KA 225 yang harus dihukum selama 2,6 tahun dan 10 bulan untuk pemimpin perjalanan KA PPKA Stasiun Kebayoran Lama.

Sama seperti kasus di atas, ada yang menyalahkan tersangka dan ada pula yang menyatakan tersangka juga manusia yang notabennya adalah gudang salah, khilaf dan lupa. Kasus Paris pun demikian, ada yang menyalahkan tersangka penebar teror, ada pula yang malu-malu kucing membela kelompok penebar teror tersebut dengan cara membanding-bandingkan kasus Paris tersebut dengan kasus di Negara timur tengah, serta ada pula dengan dengan penuh percaya diri membela tersangka penebar teror tersebut.

Saya sendiri tidak ingin memasuki ranah tersebut, karena saya tidak memiliki kompetensi dibidang membenar atau menyalahkan suatu kasus, biarlah pihak yang berwenang yang memutuskan.

hercules-jatuh-di-medan8
Sumber: http://halokarimun.com/wp-content/uploads/2015/07/hercules-jatuh-di-medan8.jpg

Saya teringat sebuah kasus pesawat hercules yang jatuh menimpa perumahan warga beberapa waktu silam, salah seorang teman pernah mengatakan, “…bukan kematian ataupun bagaimana cara korban menghembuskan nafas terakhir yang perlu kita cemaskan atau pedulikan, namun mereka yang rumahnya hancur ditimpa pesawat serta keluarga para korbanlah yang harus kita pedulikan dan cemaskan.” Pemikiran yang tidak populer memang, namun pemikiran tersebut sekaligus merupakan sebuah pemikiran yang sudah mampu keluar dari pemikiran rata-rata manusia pada umumnya (out of the box).

Seperti kasus Bintaro tersebut tidaklah perlu kita besar-besarkan siapa yang salah, atau hukuman seperti apa yang harus diterima bagi yang bersalah karena kasus tersebut sudah diputuskan murni karena kesalahan manusia, serta sudah dijatuhkan hukuman bagi yang bersalah. Hanya saja, Saya tidak bisa membayangkan perasaan bersalah sebesar apa yang dirasakan oleh mereka yang dinyatakan bersalah pada setiap tanggal 19 Oktober ditiap tahun.

Untuk kasus Paris pun demikian, sebagai seorang manusia cobalah untuk lebih peka dalam memandang kasus tersebut. Bagaimana perasaan mereka yang ditinggalkan? Bayangkan salah seorang teman kita yang menjadi korban, posisikan diri kita sebagai keluarga korban.

Keluarga Korban di negara timur tengah sana merasakan perasaan yang sama dengan keluarga korban Bintaro serta keluarga korban kasus Paris tersebut, tidak usah dibanding-bandingkan. Korban tetaplah korban, meninggal tetaplah meninggal, apapun agama dan keyakinannya jika ditinggalkan oleh keluarga yang mereka sayangi pasti akan merasakan perasaan sedih yang mendalam.

gambar-kesedihan-ditinggal-kekasih-555x331

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

Semarang, 17 November 2015

M. Teguh A Diantaris

 

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s