Posted in Uncategorized

Kek…nek… Sedang ngaji apa di sana…?

“…kek, kapan dan di mana bertemu dengan nenek pertama kali?”, tanyaku penasaran sambil menyuguhkan secangkir kecil kopi coklat (nescafe) dan sebungkus rokok putih (setia putih) di atas meja.

IMG_4465

Masih teringat dengan jelas raut (almarhum) kakek kala itu, dengan kerutan keriput di keningnya menceritakan kisah pertemuannya dengan almarhumah nenek. Iya, sambil tersenyum kakek menceritakan semuanya.
(cerita kisah cinta mereka akan saya tulis pada lain kesempatan)

…kakek sendiri, termasuk terlambat menikah bila dilihat dari usianya pada saat itu dan teman-teman seangkatannya. kakek terlalu asyik belajar agama islam (Ngaji) dari satu guru ke guru yang lain….

IMG_7121
Foto TGH. Asnami, sedang memberikan pengajian di santren Ponpes Darul Muhajirin Praya. (Dokumen Pribadi, 2015)

H-5 sebelum wafat, kakek masih menuntut ilmu. saya menemani kakek mengaji di Ponpes Darul Muhajirin Praya, kala itu TGH. Asnawi menyampaikan pengajian fiqh terkait kematian. Ada yang aneh, ketika hendak pulang, kakek memaksa untuk berpamitan pada TGH. Asnawi. “mungkin, kakek pengen ketemu saja, soalnya sudah lama tidak berbincang secara langsung”, ujarku dalam hati….

H-3 sebelum wafat, kakek sakit hebat, tidak bisa berkata-kata lagi…. dari RSU Kota Praya, kakek dirujuk ke RSU Kota mataram. benar, kakek sudah tidak bisa merespon apapun selama perjalanan dari praya ke mataram menggunakan mobil ambulan. hanya saja tangan kanannya secara konsisten diam di atas dada, dan menggerak-gerakkan telunjuk dan jempolnya.
Kakek pernah bercerita dan mencontohkan salah satu zikir pembuka salah satu Lhatifah, secara refleks saya mengeluarkan tasbih putih ditas saya dan benar saja, tasbih itu bergerak memutar persis seperti gerakan yang kakek contohkan. Allah Allah Allah….

H-2 sebelum wafat, TGH. Asnawi mengunjungi kakek. kebetulan saya sedang berjaga sembari membaca ratibul-haddad, kakek hanya memutar-mutar tasbih. Iya, jadi setiap kali azan terdengar seketika itu pula tangannya memutar tasbih.

…pada saat penguburan kakek, TGH. Asnawi mewakili keluarga meminta maaf atas kesalahan kakek…

Alhamdulillah, Sekarang kakek bisa berkumpul lagi dengan nenek, insyaAllah mereka akan terus mengaji bersama, menuntut ilmu pada abah TGH Nadjamudin Makmun, seperti dahulu sewaktu mereka ada di dunia. Mengaji bareng, berthoriqoh bareng, berzikir bareng, berusaha bareng, dan menikmati manisnya janji Allah SWT bareng….

PS.
Khususon ila Ruh Abah Udin, Kakek, dan Nenek di manapun berada saat ini, Al-fatihah. Wa ila TGH Asnawi, “Semoga senantiasa diberikan kesehatan dalam mengajar dan mendidik siswa dan jamaah, Al-fatihah”.

Semarang, 14 Oktober 2015

M. Teguh A Diantaris

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s