Posted in Islam

Ma Makna Ta’aruf…?

Bismillahirrohmanirrohim

(ilahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka)

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه

Sebelum memulai membahas inspirasi (yang datang) pada malam ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada salah seorang pelajar di kelas Nusantara atas keberhasilannya mempertahankan thesis karyanya pada sidang tadi pagi. Yap, dia juga dibimbing oleh abah Ulung dalam melakoni thoriqoh tesisiyah. Selamat Ya Maridah….selamat……..selamat………

12107819_1044423222243322_3581929219137565946_n

Oke, selanjutnya saya akan membahas inspirasi yang tiba-tiba saja datang menghujani kepala saya malam ini. Ehhhh….. masalah fenomena Ta’aruf  yang kian marak di kalangan remaja muslim.

Sebenarnya masalah ta’aruf ini bukan perkara baru di dalam tema-tema diskusi yang saya ikuti. Eit, bukan diskusi semacam haloqoh ataupun semi formal semacam pelatihan kepemimpinan loh, lebih kearah diskusi dengan rasa ingin tahu yang mendalam di kalangan pelajar lintas agama/suku yang ingin saling mengenal budaya agama/suku satu sama lain. Selain itu juga, bagi teman-teman yang pernah mengeyam bangku madrasah ataupun pesantren mungkin sudah tidak asing dengan istilah masa ta’aruf (red; semacam Masa Orientasi Siswa kalau di SMP/SMA).

2300 Santri Pesantren Modern Daarul Uluum Lido mengharidi Pembukaan MPOP Dan Pembukaan Tahun Ajaran Baru 2015 – 2016 Sorce: http://daarululuumlido.com/wp-content/uploads/2015/08/pic5.jpg
2300 Santri Pesantren Modern Daarul Uluum Lido mengharidi Pembukaan MPOP Dan Pembukaan Tahun Ajaran Baru 2015 – 2016
Sorce: http://daarululuumlido.com/wp-content/uploads/2015/08/pic5.jpg

Pernah suatu waktu saya mendapat pertanyaan berikut “Mas Teguh, ta’aruf itu apa? apakah sama dengan pacaran?”, “bagaimana konsep dasar dalam berta’aruf?”, “apakah di dalam berta’aruf itu terdapat sebuah ikatan semacam jadian?”, “apakah islam itu memang mengharuskan berta’aruf sebelum nikah?”, “kamu setuju dengan konsep ta’aruf? Atau pacaran setelah nikah?”….dan berbagai pertanyaan sederhana lainnya, walau jawabannya tidak sederhana.

Baiklah, secara lughah (bahasa) ta’aruf berasal dari kata dasar (fi’il madhi) ‘Arafa yang bermakna kenal/tahu. Sementara secara Nashrif kata ta’aruf diambil dari kata taa’arafa -yata’arafu -Ta’arufan, yang menunjukkan arti musyawarah baina al- itsnaini fa aktsara (komunikasi diantara dua orang atau lebih). Jadi jika ditarik kesimpulan secara gamblang istilah ta’aruf bermakna suatu proses untuk mengenal satu sama lain, lebih gampangnya ta’aruf berarti proses perkenalan.

Saya mencoba mengkaji perihal fenomena ta’aruf tersebut (red: ta’aruf versi jomlowan-jomlowati). Yap, Tujuan akhir dari ta’aruf adalah sebuah pernikahan. Iya, harapannya adalah menikah tanpa melakukan dosa sebelumnya dan mendapatkan rumah tangga yang harmonis yang berlandaskan ajaran islam. Lantas bagaimana dengan kehidupan pasca pernikahan? Oke, dalam sebuah penelitian Muryandari et al (2009) mengungkapkan terdapat perbedaan yang signifikan pada persepsi suami dan istri terhadap kualitas pernikahan antara yang menikah dengan pacaran dan ta’aruf, di mana baik kelompok suami dan istri kelompok ta’aruf memiliki skor persepsi terhadap kualitas pernikahan lebih tinggi daripada kelompok pacaran.

Berdasarkan beberapa sudut pandang di atas Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya seputar ta’aruf,

  1. Mas teguh, ta’aruf itu apa? (ta’aruf itu adalah sebuah proses perkenalan)
  2. Apakah sama dengan pacaran? (tidak, pada ta’aruf itu kita hanya sebatas berkenalan saja tidak lebih. Sedangkan pacaran itu dilakukan oleh orang yang telah mengenal dan memahami satu sama lain dalam waktu tertentu)
  3. Apakah di dalam berta’aruf itu terdapat sebuah ikatan semacam jadian? (tidak, namun setelah berkenalan seseorang bisa memilih untuk menjadi sahabat, teman biasa, ataupun menjadi sebuah pacaran)
  4. Apakah islam mengharuskan berta’aruf sebelum nikah? (iya, tentu saja harus. Sebelum menikah kita tentunya harus saling mengenal dulu bukan?)
  5. Kamu setuju dengan konsep ta’aruf? (Entahlah, saya belum menemukan konsep yang baku pada fenomena ta’aruf tersebut (refrensi yang saya miliki belum cukup), jika ta’aruf yang dimaksudkan seperti itu. Hanya saja, konsep ta’aruf yang saya pegang adalah sebuah konsep sebuah perkenalan biasa)
  6. Bagaimana dengan konsep pacaran setelah menikah? (kalau sudah menikah mah, mau gimana aja boleh asal tidak melanggar norma agama dan adat yang berlaku)
  7. Bagaimana dengan pacaran, apakah mas Teguh setuju? (Selama tidak melanggar norma agama dan adat yang berlaku, saya setuju).
  8. Apakah Saya yang notabennya bukan muslim diperbolehkan berta’aruf dengan mas Teguh? (Tentu saja bisa, kita sudah melewati fase ta’aruf dulu pada saat pertama kali bertemu dan saling menanyakan nama, asal daerah, budaya di daerah masing-masing, dll., itulah yang dinamakan ta’aruf. Sehingga kita bisa menjadi teman yang baik seperti saat ini).
  9. berarti ta’aruf itu pure proses kenalan doang ya? (Menurut saya, iya. Saya belum menemukan refrensi yang mumpuni yang bisa menjelaskan ta’aruf adalah sebuah proses menuju pernikahan).

Refrensi

  • Wuryandari, M., Indrawati, S. E., & Siswati. 2009. Perbedaan Persepsi Suami Istri terhadap Kualitas Pernikahan  antara Yang Menikah dengan Pacaran dan Ta’aruf. Laporan Penelitian. Universitas Diponegoro: Fakultas Psikologi.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

Semarang, 12 Oktober 2015

M. Teguh A Diantaris

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s