Posted in Islam, Perubahan Iklim

Islam and global climate change

Bismillahirrohmanirrohim

(ilahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka)

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه

Source: https://daninformen.files.wordpress.com/2015/03/download.jpg
Source: https://daninformen.files.wordpress.com/2015/03/download.jpg

Semenjak dunia mengalami revolusi dibidang industri diabad 17-18 (1750-1850) bermunculan berbagai macam pabrik—bak jamur dimusim penghujan—hal tersebut tentu saja sangat mengembirakan bagi beberapa pihak. Mereka dapat mengolah bahan baku seperti tambang, mineral, minyak, dan sebagainya untuk diolah menjadi barang yang siap jual. Yap, mereka dapat mengolahnya dengan waktu yang singkat dapat menghasilkan produk dalam jumlah yang banyak.

Kebutuhan manusia menjadi alasan utama para pengusaha berlomba-lomba untuk menghasilkan berbagai macam barang siap pakai. Pasar yang tinggi tentu saja menjadi faktor penting bagi produsen untuk terus mengolah sumber daya alam tersebut. Produsen mendapatkan untung, dan konsumen merasa dimanjakan karena segala macam kebutuhannya terpenuhi. Mau kertas, tinggal beli; mau bensin, tinggal beli; haus, tinggal beli minuman botolan.

Sejauh ini dari sudut pandang ekonomi memang tidak ada yang salah. Hanya saja menurut berbagai laporan menyebutkan bahwa pemanasan global telah berlangsung lama. Utina menyebutkan bahwa Selama kurang lebih seratus tahun terakhir, suhu rata-rata di permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C. Lebih parahnya lagi, ternyata pemanasan global tersebut memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan kehidupan manusia, seperti laporan Susandi et al (2008) yang menyebutkan beberapa dampak pemanasan global, seperti:

  1. Semakin banyak penyakit (Tifus, Malaria, Demam, dll.)
  2. Meningkatnya frekuensi bencana alam/cuaca ekstrim (tanah longsor, banjir, kekeringan, badai tropis, dll.)
  3. Mengancam ketersediaan air
  4. Mengakibatkan pergeseran musim dan perubahan pola hujan
  5. Menurunkan produktivitas pertanian
  6. Peningkatan temperatur akan mengakibatkan kebakaran hutan
  7. Mengancam biodiversitas dan keanekaragaman hayati
  8. Kenaikan muka laut menyebabkan banjir permanen dan kerusakan infrastruktur di daerah pantai.

Efek gas rumah kaca (GRK) disinyalir menjadi penyebab pemanasan global, menurut laporan Suwedi (2005) terdapat beberapa aktivitas manusia yang ditengarai menghasilkan GKR, antara lain:

  1. Aktivitas yang menghasilkan gas CO (karbon dioksida) seperti kegiatan penggunaan bahan bakar kayu (biomass), minyak bumi, gas alam dan batubara oleh industri, kendaraan bermotor, dan rumah tangga serta pembakaran hutan
  2. Kegiatan yang menghasilkan gas CH (Methane) seperti kegiatan proses produksi dan pengangkutan batubara, minyak bumi, dan gas alam; kegiatan industri yang menghasilkan bahan baku (ekstractive industri); kegiatan pembakaran biomas yang tidak sempurna; serta kegiatan penguraian oleh bakteri di tempat pembuangan akhir (TPA), ladang padi dan peternakan
  3. Kegiatan yang menghasilkan gas NO (Nitrous Oksida) hasil dari pemakaian pupuk nitrogen yang berlebihan di dalam usaha penanaman padi, aktivitas industri dengan menggunakan limbah padat sebagai bahan bakar alternatif dan penggunaan bahan bakar minyak bumi.

Berdasarkan beberapa laporan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa kegiatan perindustrian menyumbang andil yang besar dalam pemanasan global di bumi ini. Lantas bagaimana solusinya? Apakah harus menutup semua pabrik di dunia….?

Source: http://desktopbackgrounds4u.com/wp-content/gallery/muslim-beautiful-islamic-wallpaper/Islam-Green-Vector-Art-Desktop-Wallpaper.jpg
Source: http://desktopbackgrounds4u.com/wp-content/gallery/muslim-beautiful-islamic-wallpaper/Islam-Green-Vector-Art-Desktop-Wallpaper.jpg

Islam di bawa oleh Nabi Muhammad sekitar 14 abad yang lalu, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, tentu saja Islam pun sudah mengatur bagaimana cara manusia—yang notabennya adalah khalifah di bumi ini—mengelola alam untuk dapat dimanfaatkan bagi kemaslahatan penduduk bumi (manusia, hewan, tumbuhan, serta seluruh mahluk lain penghuni bumi).

  • Surah Ar-Rum ayat 41-42

Bila merujuk Al-qur’an surat Ar-rum ayat 41-42 maka manusia itu sudah diperingatkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab yang besar pada kerusakan di darat dan di laut. Manusia begitu serakah mengeksploitasi mineral di dalam tanah, minyak, maupun barang tambang, tanpa memikirkan dampaknya. Setelah manusia pemanasan global terjadi dan mengakibatkan perubahan iklim, barulah manusia menyadari keserakahannya terhadap alam menimbulkan dampak yang buruk bagi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

(41) ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُون

 (42) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِين

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)

Adapun tafsir dari ayat tersebut dijelaskan oleh Imam Abu Ja’far Ath Thobari didalam kitab tafsirnya Jami’ Al Bayan Fii Ta’wiil Al Quran menjelaskan bahwa, “Allah SWT mengingatkan manusia bahwa, Sudah nampak kemaksiatan di daratan bumi dan lautnya dan itu semua akibat dari perbuatan manusia padahal Allah sudah melarangnya.”

Manusia diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta, bukan malah melakukan eksploitasi sumber daya alam.

berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa manusia terlalu serakah mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam, sehingga terjadilah apa yang dinamakan pemanasan global. Padahal segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

  • Surah Al A’raf Ayat 56

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al A’raf : 56)

Penjelasan maksud ayat tersebut dalam tafsir Ibnu katsir adalah, “Allah Swt. melarang perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi dan hal-hal yang membahayakan kelestariannya sesudah diperbaiki. Karena  sesungguhnya apabila segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kelestariannya,  kemudian terjadilah pengerusakan padanya, hal tersebut akan membahayakan semua  hamba Allah. Maka Allah Swt. melarang hal tersebut, dan memerintahkan kepada  mereka untuk menyembah-Nya dan berdoa kepada-Nya serta berendah diri dan memohon belas kasihan-Nya.”.

Dengan kata lain, kita sebagai manusia sudah dilarang oleh Allah SWT untuk berbuat kerusakan di permukaan bumi. Larangan tersebut mencakup segala hal yang dapat merusak keberlangsungan kehidupan para penduduk bumi. Jadi Islam sendiri sudah tegas melarang pengerusakan lingkungan (ekploitasi) secara eksplisit, hingga melarang segala tindakan yang dapat merusak bumi (secara tersirat) seperti penggunaan GRK dalam segala bidang Industri.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita simpulalkan manusia telah berbuat kerusakan di muka bumi karena keserakahannya. Islam sendiri tidak melarang pemanfaatan sumber daya alam, hanya saja jangan sampai melampaui batas, tidak usah serakah.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

Semarang, 1st October 2015

M. Teguh A Diantaris

Refensi:

  1. Departemen Agama RI. 2010. Mushaf Al-Azhar, Al-Quran dan Terjemahnya. Bandung: Penerbit Hilal
  2. Ibnu Katsir. 2003. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1-7. Bogor: Pustaka Imam Syafi’i.
  3. Susandi, A., Herlianti, I., Tamamadin, M. & Nurlela, I. 2008. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketinggian Muka Laut Di Wilayah Banjarmasin. Jurnal Ekonomi Lingkungan. 12(2).
  4. Suwedi, N. 2015. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Pemanasan Global. Tek. Ling. P3TL-BPPT. 6(2): 397-401.
  5. Thabari, Ibnu Jarir Ath-.1988. Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar Al-Fikr.
  6. Utina, R. Pemanasan Global: Dampak dan Upaya Meminimalisasinya. Makalah. Universitas Negeri Gorontalo: Biologi FMIPA.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s