Posted in Islam, Islam Toleran

Sepenggal Kisah Abah untuk Masalah di Papua

memikirkan apa yang terjadi di Papua saya jadi ingat kisah guru kami di Pondok pesantren tempat kami menimba ilmu Islam.

harapan

tiba-tiba saja malam hari itu terjadi peristiwa langka, entah apa yang dipikirkan oleh seorang anak manusia karena telah berani “meminjam tanpa izin” sebuah TV dari pondok pesantren kami.

Kejadian tersebut langsung dilaporkan pada Abah yang kala itu sedang berada di kholwatnya, “Abah, sebuah TV dipondok “dipinjam tanpa izin” oleh seorang yang tidak kami kenal”. Sementara itu santri yang lain hendak membangunkan penghuni pondok dengan cara memukul kentungan.

Abah kemudian mengatakan, “stttt…..tidak usah ribut, jangan sampai santri yang lain terganggu tidurnya, nanti mereka akan sholat tahajjud dan subuh. Sudah sudah jangan dibesar-besarkan, mungkin saja seseorang tersebut sangat ingin menonton TV dan di rumahnya tidak terdapat TV. Sudah, sudah kembali ke kamar masing-masing, ambil air wudhu perbanyak zikir”. Mendengar ucapan Abah, mereka langsung melaksanakannya.

beberapa hari kemudian pondok kami diberikan hibah TV dari salah seorang murid abah yang telah berhasil pada bidang yang ia minati. intinya kami diberikan ganti yang lebih bagus dari sebelumnya. ternyata tidak hanya itu saja yang terjadi, seseorang ternyata diketahui mencari abah untuk meminta maaf (entah karena kasus apa), dan iapun menjadi murid abah yang senantiasa ikut duduk bersila dalam pengajian abah.

kasus di Papua memang sangatlah memilukan, sebagai seorang muslim saya sedih, marah dan kesal hanya saja amarah bukanlah cara yang bijak untuk menyelesaikan masalah. Saya sedih karena saudara-saudari muslim saya, tidak bisa melaksanakan sholat iedul fitri bahkan harus lari menyelamatkan diri. Saya juga marah pada mereka yang tega sampai hati bahkan keterlaluan hingga membakar tempat beribadah pada saat sedang dilangsungkan ibadah pula. Saya juga kesal pada Aparat keamanan setempat yang tidak sigap “mencium” adanya aksi tersebut.

Namun, saya alhamdulillah hingga sekarang masih memegang ajaran Abah, “kalau marah, ambilah air wudhu dirikanlah sholat, kalau kesal perbanyaklah beristigfar, kalau sedih bersholawatlah” oleh karena itu muncullah sebuah harapan tentang permasalahan tersebut. Harapan akan berdirinya sebuah masjid baru menggantikan masjid lama di lokasi tersebut, harapan ini sangat beralasan karena Pak Jusuf Kala  sendiri adalah ketua Dewan Pengurus Masjid Indonesia periode 2012-2017. Saya juga memiliki keyakinan bahwa akan semakin banyak ustadz dengan kopiyah hitamnya, membimbing adik-adik muslim Papua untuk belajar membaca Kitab Iqro’ karyanya KH. As’ad Humam (Khususon ila Yai As’ad: “Al-fatihah”) dan mengajarkan hukum tajwid agar fasih membaca Alqur’an.

iqro'

Insha Allah terdapat hikmah di balik sebuah peristiwa.

Semarang, 3 Syawal 1436 H.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s