Posted in Islam, Islam Toleran, Nusantara Class

Saya dan Nasrani

Bismillahirrohmanirrohim

(ilahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka)

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه

img1391782781137

dalam Momentum Hari raya Iedul Fitri ini serta karena keprihatinan saya terhadap masalah yang terjadi di Papua yang dilakukan oleh oknum yang tidak memiliki toleransi beragama dan bernegara, saya segaja menyempatkan diri untuk menulis sebuah tulisan singkat dengan judul “Saya dan Nasrani”.

Hidup di perumahan minimalis hasil program kerja kementrian perumahan rakyat kala Bapak Soeharto masih menjabat sebagai Presiden (khusus untuk arwah beliau: “Al-fatihah”) menyebabkan saya dapat berinteraksi dengan banyak anak-anak berbeda ras, suku, dan agama. Ada yang orang tuanya hanya menetap 2-3 tahun karena diberikan tugas dinas di daerah saya, serta ada pula hingga saat ini menetap dan memilih untuk tinggal di lingkungan tersebut.

Teman nasrani pertama satu kelas saya bernama Maria (kalau tidak khilaf), Maria berasal dari Flores. Orang tua Maria pindah dinas di Kabupaten Lombok Tengah kala itu. Waktu itu saya masih berada di kelas 3 salah satu SD Negeri, Maria kala itu hanya satu-satunya murid yang beragama non-muslim. Namanya juga masih kecil, belum “dicekokin” doktrin agama, oleh karena itu kami tidak begitu mempersalahkan perbedaan yang ada diantara kami. Kami bermain, belajar bahkan makan bersama. Semakin bertambah umur, kelas dan pelajaran Agama, kami mulai mempertanyakan perbedaan yang kami miliki satu sama lain.  Maria, kalau natalan Ibu Maria masak Opor ayam gak? Maria dikasih kado apa sama Sinterklas? dll.

Maria akhirnya pergi, iya di kelas 5 Maria harus pindah sekolah dikarenakan orang tuanya dipindah-tugaskan ke flores.

Setelah lulus SD, Saya sama sekali tidak pernah berinteraksi lagi dengan teman-teman non-muslim di sekolah, baik di sekolah tingkatan SMP, SMA dan Perguruan tinggi semua teman-teman dan pengajarnya adalah islam, iya benar Saya memilih untuk melanjutkan di bangku Madrasah, bukan karena desakan orang tua ataupun lingkungan.

Oh ya, jadi ingat kisah ini. Jadi, dihari kelulusan SD dan pembagian SKHU secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, Saya dan beberapa orang teman (Asnanik N, Maman, Lia, dll) saya memberanikan diri untuk mendaftar di MTs N Model Praya, saya masih ingat dengan jelas pada saat itu saya harus berhutang pada panitia penerimaan Siswa Baru di sekolah tersebut, karena memang saya tidak punya uang kala itu, namanya juga modal nekat. Alhamdulillah kami Lulus.

Setelah lulus Tsanawiyah, Saya melanjutkan sekolah di MAN 1 Praya, bagi Saya dengan memilih Madrasah sebagai tempat belajar, Saya merasa memiliki nilai yang lebih dibanding sekolah biasa, itulah yang Saya pegang hingga saya lulus dan di wisudakan di IAIN Mataram.

Artinya gini, setelah lulus SD saya sama sekali tidak memiliki interaksi yang intensif dengan teman non-muslim. Saya sebelumnya mengira antara Protestan dan Katolik itu sama, Saya sebelumnya mengira negara tujuan ibadah teman Nasrani adalah Vatikan Roma.

Ternyata selama ini saya salah, setelah saya berada di kelas Nusantara ini barulah saya mengetahui perbedaannya. Di kelas Nusantara ini saya betul-betul belajar untuk memahami teman-teman Nasrani, belajar bagaimana mengamalkan toleransi yang saya pelajari baik di dalam agama islam serta pelajaran PPKN, belajar bagaimana cara menjadi seorang muslim yang baik. Bagi saya, “Bagaimana mungkin toleransi antara umat beragama bisa terjalin jika tidak pernah ada komunikasi yang terjalin diantara umat beragama tersebut”.

Saya menjadi mengerti banyak hal, Seperti Agsen H S Billik yang ingin mengunjungi Israel, saya juga mengerti bagaimana keseriusan seorang M Martius dalam berdo’a, ataupun adab-adab keseharian temen-teman nasrani, semisal sebelum makan mereka akan berdo’a, sebelum tidur mereka akan berdo’a, berjumpa dengan saya mereka akan melepas salam (Selamat Pagi…. Selamat Siang..), pulang kampus juga mereka akan melepas salam (sampai jumpa kak teguh….. sampai ketemu lagi….) dan sebagainya.

Beberapa dialog ringan sering kami lakukan, dari dialog tersebut Saya hanya bisa tersenyum-senyum saja, membayangkan “bagaimana seandainya ini, seandainya itu, hehehe”. Misalnya, Seorang Sislia S S Son yang tidak mau buru-buru menikah, karena baginya dan keyakinannya, “menikah hanya satu kali, kami dipertemukan oleh Tuhan dan hanyalah Tuhan yang dapat memisahkan kami”, artinya hanyalah kematian yang dapat memisahkan Sislia dan pasangannya. Seandainya keyakinan tersebut yang dipegang oleh warga Lombok (yang memilih nikah muda dan akhirnya bercerai) kemungkinan tingkat perceraian di Lombok tidak akan sebanyak itu.

Pertanyaan-pertanyaan berikut memang sering ditanyakan, semisal; “kak Teguh, apa itu Mahrom? knp seorang laki-laki tidak boleh memgang seorang wanita padahal masih teman kelas? kak Teguh bisa ngaji? Bisa baca tulisan Qur’an? Puasa itu kalau malam boleh makan ga?” atau pertanyaan yang kadang membuat saya berfikir mendalam semisal, “Poligami itu apa? apa nanti mau poligami? Apa orang yang melakukan poligami itu ga cinta ma Istri pertama mereka?”

Sekali lagi, “Bagaimana mungkin toleransi antara umat beragama bisa terjalin jika tidak pernah ada komunikasi yang terjalin diantara umat beragama tersebut”.

jika dikatakan teori toleransi yang ada di buku pelajaran sangat berbeda dengan kondisi lapangan, maka hal tersebut tidaklah benar karena faktanya saya sedang tidak belajar bertoleransi dari sebuah buku, namun saya sudah dan sedang berada di lapangan untuk mempraktekkan bagaimana Indahnya bertoleransi, dan ternyata toleransi itu memang seindah gambaran dari teori Tolerasi.

Janganlah mengeluarkan seribu dalil pembenar yang membenarkan perbuatan untuk tidak bertoleransi, karena Alhamdulillah saya telah diajarkan bertoleransi oleh banyak guru serta pembimbing yang insyaAllah ahli dan menekuni bidang agama. Mungkin untuk mereka yang belum pernah mengenyam suka-duka bangku madrasah bisa berhasil terhasut seribu dalil pembenar tersebut, hanya saja bagi saya madrasah mengajarkan betapa Indahnya bertoleransi jadi adalah mustahil untuk tidak bertoleransi.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

Semarang, 22 Juli 2015

M. Teguh A Diantaris

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s