Posted in Islam, Suku Sasak

Warisan budaya Islam Suku Sasak; Hakikat di balik sebuah budaya.

Bismillahirrohmanirrohim: Ilahi anta maksudi wa ridhoka matlubhi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه.

1

Agama Islam memiliki peranan yang cukup penting di dalam sejarah Suku Sasak. Bagaimana tidak, baik kerajaan Pejanggiq maupun kerajaan Selaparang merupakan Kerajaan yang memiliki keyakinan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta. Sehingga dalam setiap gerakan serta nafas para pejuang Gumi sasak terlantun untaian dzikir tanpa henti maupun rapalan nadzom pembangkit aura semangat mereka. Islam adalah ruh perjuangan para pendekar di Gumi sasak.

Jika di pulau jawa terdapat wali songo sebagai pelopor Islam Nusantara, maka di Lombok ada Datu Jukun kambut, datu muter jagat, datu selaparang, datu pejanggiq, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang mengajarkan Islam Sasak (baca: Islam Saq saq / islam yang satu / islam yang lurus). Mereka semua memiliki cara tersendiri untuk membumikan agama Islam di Gumi sasak.

Saya tidak akan menjelaskan Islam putihan atau Islam abangan yang ada di Pulau jawa, ataupun islam kearab-araban karena memang bukan kapasiatas saya untuk menjelaskannya. Pada kesempatan ini saya ingin melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul Warisan budaya Islam Sasak: Islam yang Toleran, Bersanad, dan bebas Virus. Bila sebelumnya saya membahas terkait amaliyah (Syareat) yang diwariskan oleh leluhur Sasak kepada penerusnya, maka selanjutnya saya ingin sedikit “mengupas” lebih dalam lagi tentang warisan budaya Islam Sasak tersebut.

Bila Saya harus memilih diantara belajar budaya Sasak dan belajar islam, maka saya akan mengatakan begini, “dengan mempelajari budaya sasak secara otomatis kita akan mempelajari islam, namun jika mempelajari islam saja maka belum tentu bisa memahami hakikat hidup yang ada di dalam budaya Sasak”. Saya ambil contoh budaya besunat atau khitanan, Suku Sasak memiliki sebuah tradisi unik untuk menghitan anak kecil. Sebelum seorang anak dikhitan ia akan diarak keliling lingkungan di atas sebuah praje atau kuda-kudaan atau terkadang singa-singaan yang ditandu oleh para pemuda desa, bak seorang raja zaman dahulu.

Diambil dari hasil gugling
Diambil dari hasil gugling

Setelah mereka diarak mengelilingi desa/lingkungan maka praje tersebuat akan berhenti di lokasi tempat khitanan. Oh iya, anak laki-laki akan dikhitan sesegera mungkin, jadi sangat jarang ditemukan ada anak SMP yang belum dikhitan. Contoh tersebut menggambarkan ajaran islam yang telah terserap sempurna oleh Suku Sasak, serta diabadikan dalam budaya setempat sehingga menjadikan ajaran islam tersebut abadi dan tidak terusik oleh virus antah-berantah. Karena besunat adalah budaya yang dibenarkan oleh Islam.

Orang Sasak yang memahami kesasakannya akan menjadi pribadi yang Taqwa, dalam arti akan senatiasa menjalankan segala macam perintah Allah SWT, serta meninggalkan semua hal yang dilarang-Nya. Orang Sasak yang memahami ketaqwaannya akan membuatnya menjadi seorang yang manuh atau taat pada orang tua, da taat pada gurunya.

3

Mengapa taat kepada orang tua mejadi penting? Sehingga tidak jarang ditemukan pemuda/pemudi Sasak yang merapalkan sebuah mantra “Inaq leq julu, amaq leq muri. Berkat LaailaahaillaAllah” (koreksi jika salah) yang bermakna “Ibu di depan, ayah di belakang. Karena LaailaahaillaAllah”. Matra tersebut biasa digunakan ketika bepergian walau hanya ke kampus yang jaraknya 30an menit, hingga ke Jerman yang jaraknya Masha Allah jauh banget.

Hal tersebut terjadi secara hakikat, orang tua adalah kitab yang nyata ada bisa berbicara, bisa disentuh, bisa memberikan nasehat, teguran hingga hukuman secara nyata. Oleh sebab itu, mereka faham betul “tidak ada artinya mengaji ke negeri Arob hingga hafal berbungkul-bungkul kitab hadist, namun tidak bakti terhadap orang tua. Membentak orang tua karena melakukan perbuatan yang dianggap bid’ah seperti ziarah ke Maqam Nyatoq, maqam Ketaq, dll. Hingga menelantarkan orang tua ketika mereka sudah tua” Na’udzubillahi min dzaliq.

diambil dari hasil gugling
diambil dari hasil gugling

Bila Thoriqoh berfungsi untuk melatih kedisiplinan dan mengolah rasa, maka hakekat adalah rasa itu sendiri. Rasa manis, pahit, hambar bahkan asin akan dapat dirasakan bila sudah memahami hakekat. Ibarat kopi dan gula adalah syariat, teknik mengolah sebuah kopi adalah Thoriqoh, maka hakekat adalah cita-rasa kopi tersebut, mau pahit-masam-creamy-manis itu semua adalah cita-rasa yang dihasilkan dari rangkaian panjang untuk mengolah sebuah kopi.

Demikian juga dengan orang Sasak yang memahami kesasakannya, ia dapat terlihat bukan dari banyaknya keris yang ada di dada maupun di punggungnya, bukan pula terlihat dari ke-akuannya ketika memandang suatu hal, namun jauh dari itu—tak kasat mata—ia dinilai dari kemanuhannya terhadap titah orang tuanya.

Sembari saya menulis tulisan pendek ini, saya iseng menuliskan kata “baiq” di twitter, facebook, instagram. Saya menemukan puluhan akun serta foto yang terkait kata tersebut. Salah satu hal yang bisa saya banggakan sebagai orang Sasak adalah, sebagian besar—bahkan hampir seluruhnya—mengenakan jilbab. Artinya secara sadar atau tidak mereka sadari, gen pembawa sifat keislaman sudah ada pada diri mereka dan telah mereka aktifkan. Baiq sendiri merupakan sebuah gelar untuk keturunan berdarah biru perempuan Suku Sasak. ok, di luar—baiq atau tidaknya—perempuan suku sasak, silahkan anda bandingkan di lingkungan anda “lebih banyak mana perempuan Sasak yang mengenakan Jilbab atau yang tidak mengenakan Jilbab”.

Saya hanya diberikan izin sampai di sini (untuk saat ini), oleh karena itu tulisan ini saya akhiri dengan ajakan, “mari sama-sama kita meng(k)aji budaya Sasak serta marilah kita memantaskan diri (dengan selalu berusaha) untuk menjadi seorang Sasak”.

Semarang, 16 April 2015

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s