Posted in Islam, Islam Toleran

Saya (sebuah ingatan) belajar dari Wahabi

iqro'

Sewaktu membaca kitab al-Gunyah karyane Syaikh Abdul Qadir al-jaelani, tiba-tiba saja pikiran ini tersentak dibawa untuk mengingat kembali serpihan-serpihan ingatan tatkala masih belajar di madrasah dulu. Lebih dalam mengingat, lebih jauh juga ingatan yang terakses kala itu. Ingatan sewaktu masih sekolah dasar, –tidak—sepertinya lebih jauh lagi. Yang jelas waktu itu, Saya menggenggam kitab Iqro’ karyane KH. As’ad Humam (Khususon ila Yai As’ad wabil khusus KH Dachlan Salim Zarkasyi (semarang): “Al-fatihah”)  dengan background hitam dan model seorang pria paruh baya yang mengenakan peci hitam (lihat sampul belangkang gambar di atas). Sungguh ingatan yang mendalam.

Ustad Syamsul Rizal (seorang Nahdatul Ulama) merupakan guru ngaji ke-dua saya setelah sebelumnya saya diajarkan oleh kakek di Jontlak, Lombok Tengang. Pak Rizal (begitulah kami menyapanya) mendidik kami begitu keras, beliau berprinsip “tidak boleh salah mengeja dan mengucapkan satu huruf di dalam al-qur’an karena maknanya bisa salah.” Cubitan mesra yang Subhana Allah membuat paha Saya membiru, sering saya dapatkan. Ngajinya qobla magrib hingga ba’da Isya. Alhamdulillah, saya berhasil  –khataman al-qur’an– bersama temen-temen yang lain. Bubur putih-merah pun dihidangkan oleh orang tua saya ketika khataman. Sayangnya Pak Rizal harus pindah rumah, walhasil saya pun mencari guru ngaji yang lain. Ila Ustad Syamsul Rizal: Al-fatihah.

Paman Nas (Nasrullah, S.Ag) merupakan guru ngaji ke-tiga saya, beliau seorang berlatar belakang Nahdatul Wathon (pendirinya TGH Hamzanwadi, Alfatihah). Sama seperti ngaji di Pak Rizal, ngaji di Paman Nas juga diajarkan Tajwid, hadist umum, cara sholat fardu-sunah-jenazah-ghoib, dll., hanya saja setelah kami khataman al-qur’an di Paman Nas, kami akan mulai untuk menghafalkan Al-qur’an. Cubitan mesra ataupun selang maut merupakan hal yang harus kami hindari, sakitnya tuh di paha dan telapak tangan. (ila Paman na wa bik Aer Al-fatihah)

Wah, kalau mengingat kenangan di atas rasanya pengen senyum-senyum sendiri deh. Oke, ini bukan tentang kenangan masa kanak-kanak saya.

Sewaktu di pengajian dulu maupun di Madrasah memang kami sering diperingatkan serta sering juga mendiskusikan terkait adanya kelompok-kelompok yang memiliki pandangan berbeda dengan budaya yang ada di Masyarakat, mempermasalahkan tahlilan, yasinan, ziarah kubur, dll. Baik guru hadist, tafsir qur’an atau sesekali disinggung oleh guru matan jurumiyyah, jawabannya sama, baik itu tahlilan, yasinan, ziarah kubur, dll., semuanya memiliki dasar yang kuat (saya tidak akan menjelaskan dalilnya, karena tulisan ini bukan soal dalil). Ya, waktu itu saya belum memahami maksud guru-guru saya mengenai hal tersebut, saya hanya menganggap materi biasa pada umumnya.

Hal berbeda saya alami ketika saya berkenalan (dalam satu kelas yang sama) dengan salah seorang yang terlihat faham agama. Ada yang aneh ketika dia menyatakan yasinan itu bid’ah, nada yang tinggi ketika ia menyampaikan tahlilan itu lebih banyak mudaratnya, apalagi waktu itu dia mengeluarkan kitab-kitab berbahasa arab. Apalagi setiap upacara bendera, dia tidak mau hormat kepada bendera merah putih, entah apa alasannya kala itu (mungkin tangannya pegal ya). Lebih jauh dia memperkenalkan istilah wahabi waktu itu, sebuah istilah yang rasanya pernah denger tapi lupa dimana (selanjutnya saya ingat wahabi itu adalah kelompok yang sering diceritakan guru-guru saya 2 tahun sebelumnya). Saya dan dia malah sering berkomunikasi kok, saling tanya jawab, saling memahami dan menghargai. Terakhir saya mengetahui kabar bahwa ia mengambil jurusan bahasa arab di salah satu perguruan tinggi di jakarta yang berafiliasi dengan kerajaan saud.

Saya ingat, ketika itu sedang KKP (red: semacam KKN) di pedalaman gunung, salah seorang teman saya ada yang ketempelan. Kemudian terjadi diskusi diantara teman saya, ada yang berpendapat bahwa Ruqyah bisa mengatasinya dan ada yang berpendapat  kelor (Moringa oleifera) lebih efektif dan efisien untuk menetralisirnya. Dalam kasus tersebut, teman saya yang mengambil jurusan pendidikan agama islam konsentrasi Akidah berpendapat kelor lebih efektif.

Ingatan saya juga membawa saya pada perjumpaan saya dengan seorang pelajar ekonomi syariah di salah satu Universitas di Yordania. Yah, waktu itu saya sedang dalam perjalanan menuju Semarang. Dia duduk di samping saya, mengobrol dan bercerita bahwa dia anak ekonomi lulusan undip, kemudian kuliah lagi (S1) mengambil kuliah di Yordania, “alhamdulillah beasiswanya besar mas”, ujarnya. Dia memperkenalkan diri sebagai seorang Wahabi kemudian menjelaskan asal usul Wahabi secara gamblang.

Teori sholat bahkan saya juga sudah lulus ujian praktik sholat (berdiri, duduk, tidur, ngedip, dan menyolatkan orang), hanya saja Mas Fulan (red: teman seperjalanan saya di atas, saya lupa namanya) yang memberikan contoh sholat duduk secara langsung. Benar, Mas fulan tepat di samping saya ketika dia mengerjakan sholat di dalam bis sementara yang lainnya menjamaq dan mengqhosor sholatnya. Mas fulan berpendapat, “apapun alasannya, jika masih mampu sholat tepat waktu mengapa memilih yang lain”. Untuk itu saya harus berterima kasih pada Mas Fulan atas contoh langsungnya, karena memberikan pelajaran langsung pada saya. Saya jadi ingat kisah syeich Abdul Qadir al-jaelani ketika berguru kepada seorang “tukang sol sepatu”. Karenanya saya ingin menghadiahkan al-fatihah untuk Mas Fulan.

Sebagai pengagum Mbah Gusdur (semoga saya bisa berada bersama mbah Gusdur di akherat kelak, shaff paling belakang juga gapapa sing penting masih satu jamaah. Amin), saya harus menghargai perbedaan yang ada entah itu karena Suku, warna kulit ataupun Golongan. Urusan debat-debatan ataupun dalil-dalilan, KH. Idrus Ramli (bersama Forum Kiyai Muda Jatim), serta Buya Yahya lebih ahli dibidang tersebut. Untuknya sudah sepantasnya saya mengirimkan alfatihah agar mereka senantiasa diberikan kesehatan lahir dan bathin untuk terus membela dan mempertahankan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Saya berpandangan, “bagaimana mungkin toleransi antar golongan bisa di dapatkan apabila tidak pernah terjalin komunikasi lintas golongan”, semoga Indonesia bisa rukun aja deh, ga ada ISIS titik. Kalaupun ada yang ngajak debat soal tahlilan, yasinan dan semacamnya, ajak saja dia menyaksikan ceramah KH. Idrus Ramli, atau kajian Buya Yahya terkait tema yang diajukan kalaupun masih kekeh ajak saja nonton Doraemon, atau hmmm… film dokumenter Journey through the universe beyond the speed of light. Kalau masih ngotot ngajak diskusi cenderung debat, mungkin dia butuh piknik, saya sarankan menunjungi Lombok, siapa tau bisa adem sewaktu mengunjungi air terjun Benang Kelambu dan Benang Stokel contohnya.

Bersama ingatan yang kian menguat serta kesadaran yang kian menghilang, akhirnya saya pun tertidur dan bermimpi Indah, terlalu indah untuk di lupakan. Ya Rasulallah salamun Alaik, Ya Rafi’a Syani wad Daraji. ‘Atfata yaji ratal Alami, Ya Uhailaljudi wal karomi.

Semarang, 27 Maret 2015
Catatan Khusus:

ketika saya menanyakan kriteria seperti apakah yang membuat seseorang menjadi bagian dari NU? dijawab oleh seseorang, jawaban tersebut ia dapatkan dari Mursydnya, “seseorang dikatakan NU ya karena amaliyah, tingkah lakunya, serta ibadahnya. jika seseorang melakukan ibadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Hadratus Syaickh Hasym Asy’ari maka dia adalah NU, tanpa ia harus masuk ke dalam salah satu organisasi yang berafiliasi NU. lain halnya dengan mereka yang lulusan Pondok Pesantren yang berbasis NU, maka dia sudah otomatis NU”.

bagaimanakah Amaliyah yang dicontohkan oleh Hadratus Syaich Hasym Asy’ari? (saya bertanya). Amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah tentunya, jawabnya singkat.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s