Posted in Islam, Islam Toleran

Belajar Agama Tanpa Guru

the_real_pinky_and_the_brain_by_makinita-d65br0bMendadak Ustad, begitu banyak postingan yang berseliweran di media sosial yang mengutip berbagai macam hadist dengan maksud untuk memperkuat pernyataannya. Bukan hanya Ustad, para Mufti muda pun banyak berkicau mengeluarkan berbagai fatwa—entah benar atau tidak—mengenai berbagai hal, mulai haramnya mengucapkan “selamat natal”, “syiah bukan islam”, “ga boleh taklid dengan satu ulama saja”, hingga “kembalilah pada Al-qur’an dan Hadist”, dll. Saya membayangkan para mufti muda tersebut adalah lulusan terbaik al-azhar kairo dengan predikat mumtaz (sebagai gambaran: Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang juga mendapat predikat mumtaz atau summa cumlaude alias lulus dengan IPK 4,00). Ternyata mengenyam pendidikan di institusi Agama Islam pun tidak, lulusan madrasah pun bukan. Sampai di sini saya masih menaruh harapan, harapan jika para mufti muda tersebut adalah lulusan Pondok pesantren besar seperti Sidogiri, Darul Qur’an, Lirboyo, dll., kenyataannya saya harus kecewa, mereka juga tidak pernah mengenyam bangku Pondok.

walau demikian, Saya memang harus mengacungi jempol para Ustadz dan mufti muda tersebut. Bagaimana tidak, setiap berdiskusi mereka “menyodorkan” rangkaian huruf arob (entah mereka memahami maknanya atau tidak) lengkap beserta terjemahan dan nomor hadistnya. Apalagi saya sempat dibuat shock ketika salah seorang sahabat (yang telah saya kenal lama) menyodorkan Disertasi Yai Said Agil Siradj, “Ampun akhi, boro-boro memahami isi dan kandungan Disertasi Yai Said Agil Siradj, membaca daftar halamannya saja—saya—belum tentu bisa” ujar saya menannggapinya.

Saya ingin menganalogikannya dengan Thoriqoh Thesisiyah (baca tulisan saya tentang Thoriqoh Tesisiyah). Hal pertama yang diajarkan oleh pembimbing saya adalah Sitasi, yang bermakna setiap refrensi yang dijadikan rujukan harus ditampilkan di daftar pustaka. Bukan itu saja, setiap judul refrensi juga harus menggambarkan ide atau topik yang kita akan teliti. Saya ambil contoh, ketika seseorang akan meneliti mengenai bakteri yang ada pada perut sapi, tentu saja semua rujukannya harus bertemakan bakteri perut sapi (yang tergambar di dalam judul refrensi), bila menggunakan rujukan “efek pemberian rumput laut sebagai pakan banteng, terhadap pertumbuhan banteng”, jelas tulisan kita akan diragukan keilmiahannya.

Pembimbing saya juga tidak memperbolehkan saya untuk mengutip kutipan di dalam kutipan. Misal Champel, J., mengutip sebuah kalimat dari Aristoteles tentang suatu dalil, jadi tidak ada istilahnya Aristoteles dalam Chambel, yang ada saya harus mencari sumber langsung tulisan si Aristoteles, pembimbing saya berpandangan, “jika kita bisa minum di sumber mata air mengapa kita harus minum dari air sungai”.

Saya mendapatkan ilmu tersebut setelah saya belajar secara langsung dari pembimbing saya. Jika saya tidak dibimbing, belum tentu saya mengerti ilmu Sitasi tersebut.

Saya tidak mau membahas “apakah mengucapkan selamat natal itu haram?”, “syiah bukan islam”, “ga boleh taklid dengan satu ulama saja”, “kembalilah pada Al-qur’an dan Hadist”, hingga “boleh tidaknya mengucapkan selamat Nyepi”, dll., karena; 1) saya bukan seorang mufti muda, 2) saya bukan seorang Ustad Wannabe, 3) Saya manut apa yang di ajarkan oleh pembimbing saya, 4) sudah dicontohkan oleh Menteri Agama RI (Red: Pak Mentri juga Mengucapkan Selamat Nyepi), 5) ilmu saya belum cukup—tidak akan pernah cukup—untuk menjadi seorang mufti muda.

Topiknya tadi apa ya? Oh itu ya.

Nah, kembali ke topik, apakah bisa belajar agama tanpa guru? bisa tidak seseorang tanpa guru menjadi seorang mufti muda?

Jika analogi istilah Sitasi di dalam Thoriqoh Tesisiyah saya gunakan sebagai kata ganti dari mufti muda, maka jika saya tidak dibimbing oleh pembimbing saya maka saya tidak akan mengerti Sitasi (red: Jika seseorang tidak dibimbing oleh seorang guru di dalam mempelajari Agama maka ia tidak akan bisa menjadi seorang mufti muda). Begini, kita belajar gerakan sholat ada yang mengajari bukan? Benar, minimal orang tua kita yang mengajarkannya (belum lagi guru sekolah dan guru ngaji). Bagaimana mungkin Mas Berry (baca tulisan saya yang berjudul “Ahlan wa Sahlan Mas Muhamad Berry al-fatah di dalam Agama Islam (rahmatal lil Alamin)”) bisa melakukan gerakan sholat jika ia tidak dibimbing oleh pembimbingnya. Itu hal baru tentang gerakan sholat, sudah membuktikan kita membutuhkan seorang Guru.

Semarang, 27 Maret 2015

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s