Posted in Islam, Islam Toleran, Rasa Syukur, Suku Sasak, warisan budaya

Warisan Budaya Islam Suku Sasak; Islam yang Toleran, Bersanad, dan Bebas Virus

Featured image

Seharusnya malam ini Saya menggarap bahan presentasi untuk besok rabu, hanya saja inspirasi itu tidak kunjung datang, meskipun saya sudah mengelilingi Lapangan Taman Sampangan (berharap inspirasinya datang). Bukannya dapet bahan presentasi malah inspirasi yang dateng jauh dari harapan, Memang inspirasi gak bisa dipaksain.🙂

Ini tentang Sasak, perihal Islam, dan menjaga warisan budaya. (wah berat banget ya…)

Sebagai seorang Remaja Sasak sudah seharusnya saya memberikan porsi pemikiran yang lebih terkait permasalahan seputar Suku Sasak serta dinamika perkembangan pemuda-pemudi Pulau Lombok. Oh ya… (lupa) jadi begini, Suku Sasak merupakan Suku asli yang mendiami Pulau Lombok, dengan Mayoritas beragama Islam. Sebagai perbandingan jumlah penduduk Muslim yang mendiami Lombok adalah 2.104.408, Kristen sebanyak 8.344, Katolik sebanyak 3.434, Budha sebanyak 1.513, pemeluk Kong Hu Chu sebanyak 69 orang, dan lainnya sebanyak 24 orang (BPKM. 2012). Selain itu dalam dunia pariwisata Pulau Lombok di kenal dengan istilah “Pulau Seribu Masjid”, bagaimana tidak, di Kabaupaten Lombok Tengah sendiri pada tahun 2012 sudah berdiri 1.345 Masjid belum lagi di kabupaten lainnya (BPS. 2012).

Walaupun agama Islam mayoritas di Pulau Lombok, namun kerukunan beragama tetap terjaga dengan baik kok. Hal ini sudah dibuktikan oleh laporan Mas John Klock yang berjudul Historic Hydrologic Landscape Modification and Human Adaptation in Central Lombok, Indonesia from 1894 to the Present (2008), dalam laporannya mas Klock menampilkan salah satu contoh kerukunan beragama di Pulau Lombok yaitu dengan berdirinya Pura Meru dan sebuah Masjid yang berada di dalam satu kompleks yang sama di Cakranegara.

klock

(foto di atas diambil oleh Mas Klock pada tahun 2006).

Mengapa Islam bisa berkembang pesat di pulau Lombok? Siapa Ulama yang memegang andil penting dalam penyebaran Islam di Pulau Lombok? Bagaimana bisa kerukunan beragama bisa terjaga di Pulau Lombok? Saya belum bisa menjawab dan menulis secara rinci jawaban dari beberapa pertanyaan di atas, karena tulisan kali ini memang bukan tentang hal tersebut.

Islam begitu unik, kuat dan berkarakter di Pulau Lombok. Salah satu alasannya adalah karena semakin banyak saja pondok pesantren yang dikembangkan dan didirikan, baik Ponpes berafiliasi dengan organisasi Nahdatul Wathon, maupun yang berbasis Nahdatul Ulama. Jangan lupakan juga antusias yang tinggi diantara para orang tua Suku Sasak yang menginginkan buah hatinya belajar Agama Islam hingga ke Negara Arob sana.

Menjadi unik karena bila seseorang penceramah dianggap menyampaikan kajian yang tidak biasa (entah ketinggian atau berbeda) maka penceramah tersebut bisa jadi tidak diperbolehkan lagi untuk berceramah di wilayah mereka. Misalnya, ceramah dari zaman kakek Tuan Guru Haji Maulana Syeickh masih mengajar hingga Tuan Guru Bajang menjadi Gubernur selalu membahas masalah keutamaan melakukan Talqin bagi seorang jenazah, tiba-tiba datang seorang penceramah yang memberikan kajian  melarang Talqin karena tidak pernah diajarkan pada zaman Rasulullah SAW, ya… Masyarakat akan menolak penceramah tersebut.

Kuat dan berkarakter, karena tata cara beribadah ataupun amaliyah penduduknya dari zaman Kakek Tuan Guru Haji Ahmad Tretet masih ada hingga saat ini masih sama. Alhamdulillah kami masih—dan akan terus—qunut, tahlilan, yasinan, talqin, dll. Kalau misal ditanya mengapa melakukan talqin? Paling akan dijawab, “kami mengikuti contoh yang diajarkan oleh guru kami”, mereka menjawab seperti itu bukan karena mereka tidak mengetahui alasan yang seutuhnya, namun karena mereka lebih memilih untuk tidak meladeninya.

Mereka sudah nyaman amaliyah yang diajarkan oleh Tuan Guru mereka, tidak perlu ada kelompok asing yang merasa sempurna tata cara peribadatannya lantas mau menyempurnakan amaliyah mereka. Toh kebebasan menjalani peribadatan sudah terjamin dalam Undang-undang, dan yang paling terpenting yaitu Ibadah itu adalah soal rasa dan urusan langsung dengan Allah SWT.

Sebagai seseorang yang diberi amanah oleh bung Aziz untuk berada di dalam divisi pendidikan dan publikasi budaya Sasak, saya harus menyampaikan bahwa “diantara budaya sasak dan agama islam memiliki hubungan yang cukup serius dan sangat erat”. Saya serius, sejauh ini berdasarkan literatur serta kajian ringan—hingga berat—saya belum menemukan adanya prilaku adat (budaya) yang menyimpang dari ajaran agama islam. Ambil contoh, budaya Mertes sembet atau ngurisang di lombok timur (Suhupawati, 2013) memulai prosesi ritual adatnya dengan mengucap bisillahirrohmanirrohim, ini saja sudah sesuai dengan ajaran islam  yang mengajarkan mengucapkan basmalah untuk memulai suatu aktifitas. Budaya sendiri memiliki peran penting untuk “membumikan” agama, karena sejatinya manusia sebagai user berada di bumi.

Disamping itu, kini Bung Aziz kini kian larut mendalami dunia kesufiannya, dinde Hany sendiri hari ini terbang menuju Amerika untuk berbicara di gedung PBB terkait peningkatan Sumber daya wanita (koreksi kalau salah), serta bung ubank yang semakin mantap berjuang menjadi volounter di daerah orang. Yaaa….saya rasa temen-temen PRADA memiliki aktifitasnya masing-masing. (Semoga senantiasa dalam keadaan sehat dan bersemangat ya….)

Terkait ISIS serta semua organisasi pendukungnya, warga Lombok saya rasa satu suara. Suara tegas untuk menolak ajaran, pemahaman, serta doktrin menyesatkan kelompok tersebut. Bukan hanya Tuan Guru yang akan menjaga pulau lombok dari virus-virus menyesatkan semacam ISIS tersebut, tentu saja Para sesepuh Adat akan senantiasa menjaga pulau Lombok serangan Virus-virus “nakal” tersebut. Dengan kata lain, Suku Sasak akan terus menjaga ajaran luhur yang dibawa oleh para ulama dan leluhur Suku Sasak.

Semarang, 12 April 2015

Refrensi singkat.

  1. BKPM. 2012. Potensi Investasi Propinsi Nusa Tenggara Barat.
  2. BPS. 2012. Lombok Tengah dalam Angka. Lombok Tengah: CV. Maharani.
  3. Klock, J. 2008. Historic Hydrologic Landscape Modification and Human Adaptation in Central Lombok, Indonesia from 1894 to the Present (2008). Laporan Penelitian.
  4. Suhupawati. 2013. Upacara Adat Kelahiran sebagai Nilai Sosial Budaya pada Masyarakat Suku Sasak Lombok (Studi Kasus di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur). Tesis. Semarang: Program Pascasarjana Unnes.

Penulis:

| اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ | Pemuda Sasak | Sarungan | Ngelmu ning Semarang | an ethnobotanical researcher: Medicinal plants |

3 thoughts on “Warisan Budaya Islam Suku Sasak; Islam yang Toleran, Bersanad, dan Bebas Virus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s