Istimewa
Posted in Biologi, Sebuah Cerita tentang Teguh

Kajian Sains dan Hukum Fiqih terhadap Penggunaan Vaksin Polio

Minggu ini aktivitasku benar-benar padat, bagaimana tidak, jarak dari satu agenda ke agenda lainnya begitu rapat. Minggu lalu aku masih berada di Lombok, bermalam di pantai selama dua malam, kemudian ngebut mengolah data yang aku temukan selama satu hari temukan, “alhamdulillah kelar”, belum hilang rasa capekku, pagi ini aku dapat pemberitahuan dari kemenkes untuk membantu mensukseskan Pekan Imunisasi Nasional.

Sebanarnya ga ada masalah, hanya saja berdasarkan pengalaman tahun lalu, beberapa keluarga mempertanyakan kehalalan vaksin tersebut, lantaran ada issue yang berkembang di kalangan masyarakat yang menyebutkan bahwa vaksin tersebut dibuat dari enzim babi. Nah lo…waktu itu aku mencoba menjelaskan pada masyarakat berdasarkan asas kemanfaatan, namun tetap saja kepastian hukum sangat dibutuhkan ditatanan akar rumput, oleh sebab itu semalam aku mengadakan diskusi masalah ini dengan Teguh.

Padahal, banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Teguh, masalah Tuan Guru Busyairi, masalah masjid baiturrohman, dan masalah mimpinya dengan Sofia (tentu saja). Namun, aku menahan rasa penasaranku itu, karena ada kepentingan yang lebih besar, serius, dan mendesak.

Jadi, pada tulisan ini, aku tidak akan menulis rincian pertanyaanku, sebagaimana gaya tulisan-tulisanku sebelumnya. Pada tulisan ini aku akan menyalin isi penjelasan Teguh karena isinya lumayan serius menggunakan gaya tulisan ilmiah, agar pesannya sampai.

kAJIAN VAKSIN POLIO.png

Kajian Sains dan Hukum Fiqih terhadap Penggunaan Vaksin Polio

_____________________________________________________

MT. Adang Diantaris

Alumni Pendidikan Biologi, Institut Agama Islam Negeri Mataram

 Lombok, NTB, Indonesia.

e-mail: teguhadang@outlook.com

 _____________________________________________________

Bismillahirrohmanirrohim

(ilahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka)

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Imunitas adalah resistensi terhadap suatu jenis penyakit terutama infeksi. Sedangkan imun sendiri berarti gabungan sel, molekul, dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi.

Sistem imun merupakan sistem yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kerusakan tubuh atau timbulnya penyakit. Sistem ini mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup setiap mahluk hidup, seperti tumbuhan, invertebrata (bakteri, spons, cacing, serangga, dll.), dan vertebrata (ikan, reptil, unggas, mamalia, amphibi).

Sistem imun sendiri terbagi menjadi dua, sistem imun alamiah (nonspesifik/natural) dan spesifik/adaptif/acquired. Imunitas nonspesifik fisiologik berupa komponen tubuh normal, artinya tubuh mahluk hidup akan merespon benda asing yang masuk ke tubuhnya menggunakan pertahanan alamiah tubuh misalnya batuk dan bersin. Sedangkan sistem imun spesifik memiliki kemampuan untuk mengenal benda yang dianggapnya asing, jika dianggap berbahaya bagi tubuh maka benda asing tersebut akan dihancurkan. Sistem imun spesifik terdiri atas siste humoral dan sistem selular.

Mekanisme imun pada invertebrata umumnya masih berupa fagositosis bakteri atau penggunaan enzim dalam sekresi, berbagai sel invertebrata memberikan respon terhadap bakteri dengan mengurungnya dan kemudian menghancurkannya. Invertebrata tidak mengandung limfosit yang antigen spesifik dan tidak memproduksi antibodi atau protein komplemen. Namun, terdapat sejumlah molekul larut  yang mengikat dan menghancurkan mikroba asing yang memasuki tubuh hewan invebrata tersebut (Baratawidjaja & Rengganis, 2013:23).

Sistem imun pada manusia begitu kompleks, memiliki perbedaan yang signifikan dengan sistem imun pada kelinci, kucing, anjing, kera, kuda, babi, kambing, dan primata, meskipun masih sama-sama digolongkan ke dalam mamalia. Pada manusia, usaha untuk meningkatkan kekebalan aktif terhadap suatu jenis penyakit tertentu dengan cara memberikan vaksin (oral/injeksi) disebut imunisasi.

Hadinegoro (2010) menyebutkan bahwa Imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit infeksi yang paling efektif untuk meningkatkan mutu kesehatan mahluk hidup (manusia). Hal tersebut sejalan dengan laporan WHO, UNICEF, dan World Bank (2009) yang menjelaskan bahwa imunisasi dapat mencegah 2,5 juta kasus kematian anak pertahun di seluruh dunia. Oleh karena itu, imunisasi dipandang penting untuk dilakukan untuk mencegah penyakit cacar (smallpox), campak, tuberculosis, difteri, polio, rabies, meningitis meningokus, dll.

Jenis Imunisasi ada 2, yaitu pasif dan aktif. Imunisasi pasif dilakukan dengan memasukkan antibodi yg berasal dari luar tubuh, misal dari ibu ke janin melalui plasenta atau dari luar. Contoh imunisasi pasif lainnya adalah ASI yang mengandung banyak antibodi. Atau suntikan imunoglobulin anti hep B. Sifat imunisasi pasif ini adalah temporer atau sementara karena misalnya ASI, tidak mengandung antigen yang bisa merangsang pembentukan antibodi dalam tubuh bayi. Sedang imunisasi aktif kita kenal dengan vaksinasi (Rahmatiah, 2015).

Vaksin sendiri merupakan sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus. Markum (1997) menjelaskan apabila ada antigen masuk tubuh, maka tubuh akan berusaha menolaknya dengan membuat zat anti. Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk. Pada reaksi atau respon kedua, ketiga dan selanjutnya tubuh sudah mengenal antigen jenis tersebut. Tubuh sudah pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu singkat akan dibentuk zat anti yang lebih banyak. Setelah beberapa lama, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan/ imunisasi ulang sebagai rangsangan tubuh untuk membuat zat anti kembali.

Beberapa jenis vaksin yang digunakan adalah Baccillus Calmete-Guerin (BCG) untuk mencegah penyakit tuberculosis, Toksoid Diphteri untuk mencegah penyakit difteri, Vaksin pertusis untuk mencegah penyakit pertusis, toksoid tetanus untuk mencegah penyakit tetanus, vaksin hemophilus influenza untuk mencegah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh kuman haemophyllus influenza, dll.

Salah satu jenis penyakit yang bisa dicegah dengan pemberian vaksin adalah Polio. Polio atau poliomyelitis merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior masa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, hal tersebut akan mengakibatkan kerusakan bagian susunan saraf tersebut sehingga seseorang akan mengalami kelumpuhan dan atrofi otot (Zulkifli, 2007). Penyakit polio umumnya menyerang anak-anak dan balita, karena itu imunisasi bagi mereka sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman kematian dan kelumpuhan (Zulkifli, 2007).

Virus polio masuk ke dalam famili picornavirus dan genus Enterovirus, yang merupakan virus kecil dengan diameter 20-32nm, berbentuk sferis dengan ukuran utamanya rNA yang terdiri dari 7.433 nukleotida, tahan pada pH 3-10, sehingga dapat tahan terhadap asam lambung dan empedu. Virus tidak rusak walau dalam temperatur 2-8°C selama beberapa hari, tahan terhadap gliserol, eter, fenol 1%, dan bermacam-macam detergen, namun virus ini aka mati pada suhu 50-55°C selama 30 menit, bahan oksidator, formalin, klorin, dan sinar ultrraviolet. Secara serologi. Virus polio dibagi menjadi 3 tipe, yaitu tipe I Brunhilde, tipe II Lansing, dan tipe II Leon.

Adapaun jenis-jenis Polio tersebut adalah

  1. Polio Non-Paralisis, jenis ini menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.
  2. Polio Paralisis Spinal, jenis ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tandung anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai, menyebabkan kelumpuhan permanen (1 dari 200 penderita).
  3. Polio Bulbar, jenis ini mengakibatkan kematian, karena menyerang berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernafasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian.

Virus polio ditularkan oleh infeksi droplet dari oro-faring (mulut dan tenggorokan) atau tinja penderita yang infeksius. penularan pada manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau melalui oral-oral (dari mulut ke mulut). Fekal-oral artinya minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk ke mulut manusia sehat lainnya. sedangkan oral-oral adalah penyebaran dari air liur penderita yang masuk ke mulut manusia sehat lainnya.

Hingga saat ini belum ditemukan antivirus yang spesifik untuk penyakit Polio. Pencegahan penyakit polio secara efektif dan efisien hanya mungkin dilakukan melalui imunisasi dengan vaksin polio, karena sampai saat ini belum ada obat dan cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah Polio. Akan tetapi timbul masalah bagi umat islam terkait penggunaan vaksin polio tersebut, mengingat semua vaksin polio yang diproduksi saat ini, baik di dalam maupun di luar negeri, masih menggunakan media dan proses yang belum sepenuhnya sesuai dengan syariat Islam, antara lain dengan menggunakan media jaringan ginjal kera (Majelis Ulama Indonesia, 2005).

Pembuatan Vaksin Polio Inaktif (IPV). Virus polio dikembangbiakkan menggunakan sel vero (berasal dari ginjal kera) sebagai medianya. Proses produksi vaksin ini melalui lima tahap. Pertama, penyiapan medium (sel vero) untuk pengembangbiakan virus. Kedua, penanaman virus. Ketiga, pemanenan virus (menggunakan tripsin). Keempat, pemurnian virus dari tripsin. Kelima, inaktivasi /atenuasi virus.

Penyiapan media (sel vero) untuk pembiakan virus dilakukan dengan menggunakan mikrokarier, yaitu bahan pembawa yang akan mengikat sel tersebut. Bahan tersebut adalah N,N diethyl amino ethyl (DEAE). Selanjutnya sel vero ini harus dilepaskan dari mikrokarier dengan menggunakan enzim tripsin yang berasal dari babi. Langkah selanjutnya adalah pembuangan larutan nutrisi. Hal ini dilakukan dengan proses pencucian menggunakan larutan PBS buffer. Larutan ini kemudian dinetralkan dengan larutan serum anak sapi (calf serum). Larutan yang tidak digunakan tadi dibuang atau menjadi produk samping yang digunakan untuk keperluan lain. Sel-sel vero yang sudah dimurnikan dan dinetralisasi itu kemudian ditambahkan mikrokarier yang baru, dan ditempatkan pada bioreaktor yang lebih besar. Di dalamnya ditambahkan zat nutrisi yang sedikit berbeda untuk menumbuhkan sel vero dalam jumlah yang lebih besar. Sel vero yang sudah berlipat ganda jumlahnya ini kemudian dilepaskan lagi dari mikrokariernya dengan menggunakan tripsin babi lagi. Berlangsung berulang-ulang sampai dihasilkan sel vero sesuai banyak yang diinginkan.

Sebenarnya dalam setiap tahap amplifikasi sel, tripsin harus dicuci bersih karena tripsin akan menyebabkan gangguan saat sel vero menempel pada mikrokarier. Lewat pencucian atau pemurnian ini, produk vaksin yang dihasilkan bersih dari sisa tripsin. Jadi tripsin hanya dipakai sebagai bahan penolong dalam proses pembuatan vaksin.

Majelis Ulama Indonesia (2005) mengeluarkan fatwa mengenai permasalahan penggunaan vaksin polio tersebut, yakni; 1) Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari—atau mengandung—benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram; 2) Pemberian vaksin OPV kepada seluruh balita, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada OPV jenis lain yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam.

Kaidah fiqh yang mendasari MUI mengeluarkan fatwa tersebuat antara lain, 1) Dharar (bahaya) harus dicegah sedapat mungkin; 2) Dharar (bahaya) harus dihilangkan; 3) Kondisi hajah menempati kondisi darurat; 4) (الضرورة تبيح المحظورات) Darurat membolehkan hal-hal yang dilarang; 5) Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibatasi sesuai kadar (kebutuhan)-nya. Bahaya atau dharar yang dimaksudkan tersebut adalah penyakit polio, karena dapat menyebabkan kematian. Sedangkan hal-hal yang dilarang yang dimaksudkan pada poin nomor 4 adalah penggunaan enzim dari hewan yang tergolong nakjiz mughollazah (dalam hal ini adalah babi), yang berarti walaupun terdapat unsur nakjiz dalam mekanisme pembuatan vaksin tersebut (sehingga vaksin tersebut dijatuhi hukum haram),  vaksin tersebut diperbolehkan digunakan untuk umat islam atas dasar darurat.

 Daftar Pustaka

  1. Baratawidjaya, K. G. & Rengganis, I. 2013. Imunologi Dasar. Edisi Kesepuluh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
  2. Hadinegoro, S. R. S. 200. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri. 2(1): 2-10.
  3. Majelis Ulama Indonesia. Nomor 16. 2005. Penggunaan Vaksin Polio Oral (OPV): 6599-664.
  4. Markum, A.H. 1997. Imunisasi, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
  5. Rahmatiah. 2015. Pengaruh Vaksinasi Terhadap Kekebalan Tubuh Bayi. Ebuletin LPMP Sulsel. ISSN 23553189.
  6. WHO, UNICEF, World Bank. 2009. State of the world’s vaccines and immunization. 3rd edition. Geneva: World Health Organization.
  7. Zulkifli, A. 2007. Epidemiologi Penyakit Polio. Makalah Ilmiah. Universitas Hasanudin: Fakultas Kesehatan Masyarakat.

 

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa Mithariq

MT. Adang Diantaris

Semarang, 5 Maret 2016

Istimewa
Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Yuk Hijrah

Satu bulan yang lalu, ketika makin maraknya pemuda-pemudi yang merasa terpanggil oleh panggilan hijrah ke bumi syam “guna berjihad di jalan Allah SWT” ujarnya, aku merasa tergelitik untuk membahas fenomena ini bersama Teguh. Jadilah kami menghabiskan malam berdua saja, ditemani satu bungkus terang bulan keju, dua cangkir ukuran besar kopi hitam tanpa gula, dan tentu saja sebungkus kretek.

Seperti biasa, Aku harus menunggu waktu yang cukup lama menunggu si Teguh keluar kamar, kebiasaan tuh anak kalau malam jum’at adalah mengurung diri di dalam kamar, entah ngapain, aku gak mau tau urusan pribadinya. Namun menurut penuturan si Teguh “malam jum’at itu waktu yang baik untuk berkhalwat atau mendengarkan pembacaan Ratibul hadad atau Al-berzanzi”.

Kira-kira jam 10 malam Teguh keluar kamar mengenakan sarung berwarna hijau motif kotak-kotak, baju koko wana putih yang tertutupi jas berwarna hitam, sebuah kain ditaruh di pundak kirinya dan peci hitam. Setelah pintu kamarnya terbuka, seketika itu tercium aroma yang begitu menusuk hidungku, aromanya seperti wewangian kembang yang biasa digunakan oleh bapak-bapak dimasjid sebelah, hanya saja wanginya lebih soft.

“Lo abis ngapain bro, anyway lo pake parfum apaan…?” tanyaku penasaran.

“Gue abis nerima tamu jauh, oh itu bukan parfum gue, itu aroma yai Ahmad” jawabnya datar.

“Tamu….?” Aku mencoba untuk tidak kaget, mencoba memahami arti kalimat yang disampaikan Teguh.

“Sudahlah Dang, katanya mau mendiskusikan masalah fenomena hijrah itu, mau di kamar gue apa di kamar lo..?” Rupanya Teguh tidak mau melanjutkan membahas aktifitasnya.

“di kamar gue aja, gue udah bikin kopi barusan” Aku mengajaknya.

“Oke, gue mau ganti baju dulu” Teguh mengiyakan ajakanku.

Sambil berjalan ke arah kamar, aku masih bertanya-tanya dalam hati “tamu apa yang dimaksud, siapa itu yai Ahmad…?”, padahal di dalam kamarnya tidak ada orang. Hanya saja, semua pertanyaan tersebut sirna setelah aku sadar “oh iya, aku lupa, dia itu kan Teguh”.

Setelah aku sampai di kamar, tidak lama kemudian Teguh datang, dengan mengenakan kaos putih, peci dan sarung hijau. “wah terang bulan keju…” Teguh langsung kegirangan melihat kue bandung manis yang masih hangat tersaji di hadapanku.

“iya, gue tau lo seneng banget sama nih makanan” jawabku singkat.

“Lo emang temen yang baik Dang, sering-sering aja lo kek gini, gini ni kalau temenan ma anak sosial, pinter nyogoknya kalau ada maunya” ejek Teguh.

Bangke Sialan lo. nih sekalian gue bawain (sambil mengeluarkan sebungkus kretek) biar lo tambah seneng” ujarku sambil memberi candaan hangat.

“Demen banget gue kalau gini mah, Dang. Sering-sering aja” Teguh semakin girang.

“Oke, Bagaimana Definisi hijrah menurut lo bro…?” Aku langsung memulai diskusi.

“Hmm…hijrah ya” Sambil memantikkan api ke batang kretek di tangan kirinya.

“Al hijratu lailatu ha dina, hamalal islamalana dina, Fasalaa mullahi’alal hadi wal kaunu yurodidu amina” Lanjut Teguh menjelaskan membacakan sebuah kalimat berbahasa Arab.

“Artinya apa bro..?” tanyaku penasaran.

“Gue sendiri mengartikan hijrah itu lebih kearah aspek spiritualitas, karena percuma saja lo hijrah even ke negeri syam, namun tidak menemukan ketenangan dalem jiwa lo. Hijrah yang gue maksudkan adalah menenangkan hati dan nafsu yang sebelumnya liar.” Jawab Teguh.

“Ok, gue faham. Lantas bagaimana pandangan lo terkait pemuda-pemudi Islam yang ramai-ramai berhijrah ke bumi syam atau timur-tengah sana, karena berfikir Indonesia sangat tidak islam…?” Aku melanjutkan diskusi.

“Itu hak mereka, jika mereka menemukan ketenangan di sana, mengapa tidak? Hanya saja, ketenangan bisa digapai jika sudah mampu merasakan dan menyadari adanya Allah SWT di setiap helaan nafas dan degup jantung kita masing-masing, ketenangan ada pada diri kita bukan pada suatu lokasi tertentu” Ujar Teguh.

“Hmmm…lo ngebahas masalah spiritualitas, ok gue faham. Hanya saja, bagaimana jika ternyata mereka ke timur-tengah sana untuk berjihad guna menegakkan Agama Islam, sebagaimana kalimat yang sering mereka ucapkan…?” Aku bertanya lebih mendalam.

“Masalah Jihad ya, menurut gue berdasarkan ajaran yang gue terima, jihad itu banyak macamnya, ga melulu dengan angkat senjata. Termasuk aktifitas yang lo lakuin selama ini bisa jadi bernilai Jihad, karena lo mencoba mengedukasi masyarakat agar mampu berusaha mandiri, tidak mengalah pada kerasnya kehidupan dunia ini.” Ujar Teguh. Sesekali terlihat Teguh menghisap kreteknya sehingga mengeluarkan asap tebal dari mulutnya, memenuhi ruangan kamarku.

“Hm…. Apa lo pikir perbuatan mereka salah..?” Tanyaku singkat.

“Gini Dang, gue ga punya hak untuk membenarkan atau menyalahkan tindakan mereka. Bisa saja menurut gue salah, ternyata dihadapan Allah SWT mereka itu benar. Bisa saja anggapan gue, mereka benar, ternyata mereka tersesat. Hanya saja, gue akan memastikan keluarga gue maupun orang yang gue kenal tidak melakukan hal tersebut.” Ujar teguh. Perkataannya ini membuatku sedikit bingung.

“Loh, kok gitu bro. Pernyataan lo kontradiktif sekali, di atas lo ga mau menilai mereka, namun di sisi lain lo gamau orang-orang yang lo kenal melakukan hal demikian” tanyaku kebingungan.

“Yap, gue gak ada kewajiban atas mereka. Gue hanya bisa mendoakan agar muslimin wal muslimat senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, namun untuk orang-orang dekat gue, gue memiliki keharusan untuk menyampaikan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Dibanding jihad ke timur-tengah sana, gue akan meminta orang-orang deket gue memastikan agar menjaga kerukunan antar sesama, agar perang seperti di timur-tengah sana tidak terjadi di Indonesia. Sebut saja namanya Jihad Preventif. Sama seperti yang lo lakuin, menyelesaikan masalah sosial dari akar rumputnya.” Ungkap Teguh.

“bip bip biiiiip……bip bip biiip..”

Tiba-tiba aku mendapatkan sebuah pesan masuk. Setelah ku buka ternyata dari Sary. Pesannya berbunyi “Mas, aku sudah beliken baju yang kamu minta, aku udah siepin semuanya, mulai dari tiket, hingga makanan. Ketemu jam 6 pagi di Bandara, Kakek sudah nunggu di Lombok.”

Aku terdiam sejenak, “what…..Nih anak beneran ya” pikirku dalam hati.

“Knapa lo Dang, jadi diem gitu….?” Teguh menegurku.

“Gue diajak si Sary main ke Lombok besok, tiket udah disiepin katanya” Jawabku bingung.

“Sary…? Sary anak dakwah itu?” Tanya Teguh.

“Iya Bro” jawabku singkat.

“bagus dung, lo bisa kenalan ke kakeknya Sary, siapa namanya, lupa gue…” Teguh mulai usil bertanya.

“Kiayi Busyairy..” Jawabku singkat.

“Iya bener Yai Busyairy. Asyik dung” Ujar Teguh.

Belum sempat mejawab pertanyaan Teguh, ponselku berdering, terlihat nama Sary di layar ponselku, kemudian aku angkat.
“Assalamu’alaikum Mas, sudah tidur kah….?” Ujar Sary.

“Alaikum salam, belum nih. Mas masih diskusi bareng Teguh.” Ujarku.

“Baguslah, artinya sms Sary barusan mas sudah baca, bawa keperluan lapangan aja Mas, sebelum ngambil data hari minggu, nginep di rumah kakek dulu, kakek punya banyak cerita, hehehe. Jangan lupa, besok jam 6 di Bandara” Ujar Sary.

“Ok… lanjut saja diskusinya, Wassalamu’alaikum” Sary melanjutkan kemudian menutup Telponnya.

“Heh ni anak, bener-bener dah kalau udah ada maunya, harus terjadi” Ujarku dalem hati.

 

“Gue jadi ke Lombok bro, gue ada kerjaan tiga hari (minggu-rabu), cuman Sary ngemajuin jadwal berangkat gue. Gue mau dikenalin ke Kakeknya” Aku menerangkan ke Teguh.

“Yaudah, diskusinya dilanjuti laen waktu aja. Lo packing aja dulu, besok gue anterin ke bandara” Ujar Teguh.

“Ok, gue udah nangkep poin diskusi malem ini, kita lanjutin lain waktu aja” Aku mengakhiri diskusi.

 

Kemudian aku mempersiapkan peralatan lapangan yang diperlukan pada saat mengambil data di Lombok.

“Hmm…. harus ngomong apa ya ke Kakeknya Sari, aku belum beli oleh-oleh juga, dasar si Sary, awas aja besok tuh anak” gumamku dalam hati.

*Bersambung………

Posted in Inspirasi, Islam, Islam Toleran

الأخلاق الإسلامية

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

.الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

Pada kesempatan kali ini saya ingin menulis betapa pentingnya akhlaq bagi seorang muslim. Saya telah menulis perihal makna jalan tengah, sebuah jalan yang saya pilih untuk menjalani kehidupan yang singkat di dunia yang fana ini.

Seseorang yang berada di jalan tengah tidak akan pernah menghakimi seseorang, karena pada dasarnya ia bukan seorang “hakim ataupun jaksa penuntut umum”, lebih jauh lagi, ia menyadari dirinya adalah mahluk yang hina dan berlumur dosa, dan berharap mendapatkan keridhoaan Allah SWT.

Saya mengingat sebuah cerita yang terjadi di Ponpes Darul Muhajirin, Praya, Loteng, yang menimpa TGH. M. Nadjmuddin Makmun (Allah Yarham), begini kisahnya:

tgh-copy1

Waktu itu pesantren begitu sunyi, para santri beristirahat dengan tenang, para pengasuh ada yang masih berjaga, mengisi talang air, ataupun mempersiapkan segala kebutuhan tatkala waktu tahajjud, benar, aktivitas di ponpes ini di mulai setibanya waktu tahajjud, dan abah (TGH. Nadjamuddin Makmun) berada di kholwatnya, mungkin berdzikir, entahlah kami tidak boleh memasuki kholwat abah, kholwatnya dijaga khusus oleh seorang penjaga.

Namun, malam itu menjadi begitu berbeda, kesunyian pondok tiba-tiba saja pecah, para pengasuh berkerumunan dan membunyikan berbagai benda yang bisa menghasilkan bunyi nyaring entah itu tiang listrik, kul-kul pos ronda, nampan besi, dll. Begitu gaduh suasana pesantren saat itu, beberapa santri terbangun seketika, bingung sekaligus diliputi rasa penasaran, “ada apa ini…?”. Sementara itu, salah seorang pengasuh mencoba menuju kholwat Abah guna memberitahukan kejadian yang tengah terjadi.

Ternyata malam itu, pesantren kemalingan, sebuah televisi berhasil digondol oleh seseorang, itulah yang menjadi pemicu kegaduhan tersebut.

Sesampainya di depan kholwat Abah, pengasuh tersebut meminta izin pada penjaga kholwat untuk menemui Abah “Pesantren kita kemalingan”, ujar pengasuh tersebut pada penjaga kholwat. Mendengar hal tersebut kemudian sang penjaga berniat masuk ke dalam Kholwat guna memberi tahu Abah. Namun, belum sempat membuka pintu, Abah terlebih dahulu membuka pintu dari dalam.

“Sudah, sudah, tidak usah ribut, nanti para santri pada bangun, biarkan mereka istirahat, nanti bangunkan mereka untuk sholat tahajjud dan ngaji subuh” Ujar Abah memberikan arahan pada sang pengasuh.

“Kasihan, biarkan saja, mungkin orang tersebut kepingin menonton Televisi, dia mungkin belum memiliki uang untuk membeli televisi, sudah biarkan saja. Tidak perlu heboh gara-gara sebuah benda yang bersifat keduniaan” Lanjut Abah memberikan penjelasan. Kemudian Abah kembali memasuki kholwatnya.

Mendengar hal tersebut, sang pengasuh kembali dan menjalankan arahan Abah, meminta para santri untuk tidur dan meminta para pengasuh untuk kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

Singkat cerita, beberapa waktu berlalu, seorang pria yang senantiasa hadir duduk ngaji di pengajian Abah, meminta untuk belajar islam pada Abah, dan orang itulah yang dulunya meminjam televisi ponpes tersebut.

Seseorang yang berada di jalan tengah, tidak akan pernah menghakimi orang lain meskipun ia memang bersalah. Dibandingkan menghakimi kesalahan orang lain, ia akan memilih untuk mendo’akan orang tersebut agar Allah SWT memberikannya Cahaya untuk menerangi jalan hidupnya dan ia sendiri akan memilih untuk membersihkan segala kesalahan, dosa, dan noda yang ia miliki dengan jalan mendekatkan diri pada Allah SWT. Tentu saja, ia akan menasehati orang lain ‘mana yang benar dan mana yang salah menurut berbagai kitab yang ia pelajari’, namun sekali lagi ia tidak akan pernah menjadi “hakim ataupun jaksa”.

Dengan memilih berada di jalan tengah, berarti seseorang tidak akan pernah menghakimi orang lain, sekalipun ia sudah nyata bersalah. Karena, siapa tahu sebuah kebaikan yang ada pada orang itu diridhoi oleh Allah SWT.

Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq

Semarang, 11 Mei 2016

MT. Adang Diantaris

Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Halo, hai… kenalin namaku Adang

CIMG2224

Halo, hai… pada kesempatan ini aku ingin memperkenalkan diriku pada kalian, di beberapa bab sebelumnya aku begitu banyak bercerita tentang Teguh serta menceritakan serangkaian aktifitasku. Kalian tentunya bertanya-tanya mengapa aku begitu fasih mengobrol dengan kakeknya Sari menggunakan bahasa Arab, terlebih ketika kami membahas beberapa kitab fiqih klasik koleksi Tuan Guru Busyairi (Kakeknya Sary). Bukan hanya kalian, Sary pun ku buat kaget—bahkan hampir tidak percaya—tatkala aku dengan lancar menjelaskan makna yang terkandung di dalam kitab Riyadhus sholihin (salah satu kitab favorit Tuan Guru Busyairi). Bagiamana tidak, sebelumnya Sary hanya mengenalku sebagai Adang si anak sosial, tidak lebih.

Perkenalkan namaku Adang, tahun ini usiaku menginjak 25 tahun. Aku berasal dari kota Bandung, sebuah kota yang begitu asri. Aku tidak begitu mengetahui asal-usulku, aku kehilangan ingatan masa kecilku oleh suatu sebab yang aku sendiri tidak mengetahuinya, semakin aku mencoba mengingatnya, kepalaku semakin sakit. Oleh karena itu aku meminta bantuan dr. Indah untuk membantu membalikkan ingatanku, setidaknya satu kali sebulan aku menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat praktiknya. Sebelumnya sudah aku ceritakan bukan, bahwa dr. Indah adalah seorang dokter kejiwaan sekaligus merupakan rekan relawan sosialku.

Saat ini aku menetap di Semarang untuk bersekolah, aku mengambil program doktoral ilmu sosial di salah satu Universitas Negeri ternama di kota ini, saat ini aku berada di tahun keduaku di Semarang. Sedangkan untuk program master, aku mengambil program master Socialpreneurship, aku berhasil lulus dengan predikat mumtaz di salah satu universitas tertua di Jazirah arab.

Sebenarnya aku sekolah ke jazirah arab beberapa tahun lalu murni karena iseng doang, aku ga bener-bener ngincer tanah arab. Bagiku sekolah ya sekolah, kemanapun dan berapa lamapun ga masalah, yang penting sekolah. Jadi ceritanya gini, setelah Yudisium di salah satu kampus negeri di Bandung, aku iseng memasukkan semua berkasku ke web kampus di arab waktu itu, iseng doang, upload berkas-submit form registration-confirm­ trus enter­, trus ngeyoutube deh, ga pernah tak cek lagi web kampusnya. Namun sebulan kemudian, ponselku berbunyi dan tertera nomor dari negara asing di layar handphoneku. Dari percakapan tersebut, intinya aku diminta untuk menyiapkan waktu dan tempat dengan koneksi internet yang stabil karena akan dilakukan ­live interview. Dua bulan setelah interview, aku dinyatakan lulus, udah gitu doang. Semua biaya, akomodasi, apartemen, uang saku, uang jajan, dan riset, sepenuhnya ditanggung oleh kampus tersebut.

ketika berinteraksi dengan teman-teman aku sengaja merahasiakan semua ini karena tuntutan profesi dan tentu saja naluri alamiah anak sosial. Aku tidak mau lawan bicaraku memberikan perlakuan berbeda hanya karena mengetahui tingkat pendidikanku, ini merupakan prinsip tidak bisa ditawar lagi. Namun, untuk kasus Tuan Guru Busyairi—mau tidak mau—aku harus menceritakan semuanya, karena walau bagaimanapun juga, aku tidak boleh berbohong dihadapan ulama, begitulah salah satu pesan syeikh pembimbing sekolahku di jazirah arab dahulu, “selain alim ulama, jika memungkinkan membumi lah”. Membumi yang dimaksudkan adalah menyembunyikan identitas keilmuan, karena pada dasarnya—kami, anak sosial—harus membina hubungan personal dengan masyarakat sekitar.

Tentang Teguh, saat ini aku belum bisa berkomentar banyak, namun satu hal yang pasti, dia akan bersemangat kalau sudah membahas masalah agama. Sejauh yang aku tau—selama aku berdiskusi dengannya—arah pemikirannya lebih condong ke arah moderat/jalan tengah/tidak kiri ataupun kanan. Terbukti ketika membahas masalah Palestina, reaksinya datar saja, begitupula ketika membahas Israel reaksinya datar saja. Yah, walaupun demikian bukan berarti dia cuek tanpa memberikan respon berupa solusi atas permasalahan tersebut. Menurut Teguh “Urusan Palestina itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkat senjata dan mengirim bantuan jihadis-jihadis ke sana. Palestina bukan hanya sekedar wilayah konflik yang mengatasnamakan agama, karena bukan hanya islam yang ada di sana. Dibutuhkan kekuatan Politik dari negara nonblock di negara tersebut, Indonesia membangun kantor diplomat di sana merupakan awal dari kemerdekaan Palestina.” Begitulah tanggapan Teguh datar ketika membahas Palestina.

Hmmm…apa ya…. Kalau ditanya kenapa harus Membahas Teguh, aku juga bingung, aku penasaran sekaligus terus ingin bertukar pikiran dengannya, anyway sampai aku tau alasan mengapa harus membahas Teguh, aku akan terus menulis kisah ini.

*versi utuh dari bab ini bisa dinikmati dalam media cetak (berupa buku), insyaAllah tahun ini terbit.

Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Sofia, Apakah mimpi kita sama…?

sofia, apakah mimpi kita sama

Aku masih berada di Lombok saat ini, setelah dua hari bermalam di pondok pesantren milik kakeknya Sary, sungguh merupakan malam yang panjang. Berbagai diskusi terjadi antara aku dan kakeknya Sary, mulai dari permasalahan agama, sosial, hingga makanan khas kota Bandung, kota kelahiranku. Banyak petuah berharga diberikan oleh kakeknya Sary, hanya bisa terkesima berada dihadapan beliau, wibawanya yang luar biasa, kharismanya yang mempesona, serta tutur katanya yang adem, membuatku betah berlama-lama duduk mendengarkan petuahnya. Pantas saja santrinya begitu menghormatinya, aku saja yang baru dua malam berada didekatnya menaruh rasa hormat yang mendalam padanya.

Sore ini begitu mendung di pantai Kaliantan, gerimis-gerimis manja sesekali turun di pantai ini. Walau begitu, warga Lombok sudah tumpah ruah memadati tempat ini, ada yang membangun tenda sederhana atas bukit di pinggir pantai, ada yang membawa ember dilengkapi dengan jaring penangkap ikan, dan terlihat pula beberapa reporter stasiun berita (cetak dan elektronik) lokal dan nasional. Masyarakat disuguhkan berbagai jenis hiburan oleh pemerintah daerah, panggung ukuran besar pun telah tegak berdiri, pengisi acara silih berganti melakukan gladi di atas panggung tersebut.

Kami diberikan sebuah tempat sederhana untuk bermalam, kami (aku dan teman-teman peneliti) jadikan posko selama kami mengambil data di lokasi itu.

Matahari pun tergelincir di ufuk barat pantai kaliantan, sungguh pemandangan yang begitu indah, yaa… walaupun kurang maksimal lantaran senja di ufuk barat dipenuhi awan abu-abu. Ketika magrib tiba, kami (rombongan peneliti) bergegas mencari masjid terdekat guna menunaikan ibadah. Kami berlima—tiga orang dari luar Lombok, dan dua perwakilan dari dinas sosial pemkab lombok tengah—meinggalkan pantai kaliantan menggunakan kuda besi menuju masjid terdekat. Iya, kami diberikan fasilitas lengkap mulai dari konsumsi, telekomunikasi, hingga akomodasi. Sesampainya di sebuah masjid, Aku, ridwan, dan Kenang bergegas memasuki masjid Darussalam, berjarak 2,5 km dari lokasi. Sementara itu Niluh dan Friko menunggu di mobil, karena niluh beragama hindu sementara Friko seorang Nasrani.

Setelah menunaikan ibadah Magrib, kami berlima bergegas mencari sesuatu untuk menggajal perut. Niluh yang mengajak kami singgah di sebuah rumah makan khas Lombok “Kalian harus nyobain Ayam taliwang dan nasi balap puyung guys, pasti ketagihan” begitulah tawaran Niluh dengan semangat. Aku pikir semacam nasi uduk ditambah ayam bakar biasa, ternyata pedes banget, bumbunya nendang banget, lidahku rasanya ada bara api di atasnya, gilaa…pedes banget. (Kalian harus nyobain tuh makanan, iya, kalian yang baca cerita ini).

Setelah makan, kami melanjutkan dengan melakukan “briefing” membagi plot-plot area kami mengumpulkan data, kami membagi ke lima lokasi yang berbeda. Setelah rapat kelar, kami bersantai sejenak, menikmati kopi khas lombok sambil mempersiapkan alat kami masing-masing, seperti kamera, ponsel, mikrofon mini, pulpen, buku saku, dll.

Sewaktu aku tengah mempersiapkan segalanya, terdengar sebuah panggilan masuk di ponselku. Ternyata dari Teguh.

“halo Assalamu’alaikum Dang, Sedang ngapain lo…?” ujarnya membuka percakapan.

“Gue lagi ngopi, yah….nyiepin perlengkapan lah. Ada apa bro?” Jawabku.

“Lo ada waktu bentar gak, gue barusan mimpiin Sofia” Teguh langsung to the point.

“Oh, ada kok, gue berangkat entar jam 10, ini masih jam 8. Gimana, gimana bro, Sofia…? Gimana ceritanya…?” Aku memang penasaran tentang Sofia, setiap kali Teguh cerita tentang Sofia, aku pasti langsung penasaran “Sosok seperti apa sih yang bisa membuat Teguh jatuh hati” begitulah kira-kira pikiranku.

“Gue demen banget dah hari ini Dang, soalnya bisa berjumpa dengan Sofia, yaaa, walau dalem mimpi” Ujar Teguh.

“Demen banget lo ya… Oke, oke…ceritaen pelan-pelan biar gue faham.” Aku mengarahkan alur cerita mimpi si Teguh.

“Jadi gini Dang, itu mimpi sebenarnya bukan mimpi utama dari mimpi gue semalam. Iya, jadi semalem gue coba tidur cepet. Jam 12 malem gue udah tidur, gue kebangun jam 4 lantaran mimpi yang begitu seru, gue jadi tentara baret merah Dang hehe..” Ujar Teguh degan antusias.

“Wah seru banget tuh bro, baret merah pula, waw.” Responku.

“Setelah bergerilya di tengah hutan, gue dijemput ma team yang lain pake helikopter, trus gue udah naik di helikopter, kaki gue ditindih ma temen tentara yang lain, pegel banget rasanya, semakin pegel, semakin berat, dan gue mulai sadar bahwa itu mimpi. Gue kebangun, kaki gue ternyata keram, lantara kelipet. Jadi gue bangun, lurusin kaki, dan balik tidur. Mau lanjutin mimpi.. hehehe” Ujar Teguh sambil tertawa cengengesan.

“Buset dah, keren banget yah, dijemput helikopter. Trus gimana, impinya berlanjut gak?” Ujarku penasaran.

“Enggak Dang, gue malah mimpiin Sofia” Ujar Teguh.

“Oke, oke, ini yang gue tunggu-tunggu. Bagaimana…?” Aku semakin penasaran.

“Aku kan diajakin oleh Wulan pergi ke Rumah Sofia di desa Bejey, wulan itu satu desa dengan Sofia, wulan sendiri adalah pacarnya nugie. Kemudian kami bertiga mengunjungi desa Bejey tersebut. Oke, waktu itu cuaca begitu mendung, sesekali aku jumpai gerimis membasahi kaca mobil si Nugie. Sementara itu, semakin mendekati desa Bejey gue semakin deg-degan, gatau harus ngapain, ga tau mau, gatau harus bertingkah bagaimana, harus salaman kah, atau tidak menjabat tangannya. Harus memandangi wajahnya kah, atau menunduk malu, pokoknya campur aduk deh Dang”. Cerita Teguh.

“Hahaha, padahal mimpi juga ya, masih aja deg-degan, gue bisa ngebayangin ekpresi lo di mimpi itu bro…hahaha lo lucu banget” Responku.

“Iya, padahal mimpi, mimpi gue, tapi gue masih aja deg-degan.” Teguh mengiyakan responku.

“Jadi, kami bersepakat untuk membeli buah tangan di pasar modern, deket desa Bejey. Setibanya kami tiba di pasar itu, Nugie dan wulan keluar terlebih dahulu mencari buah, aku pergi mencari pedagang kretek. Setelah kretek aku dapatkan, aku bergegas kembali ke mobil, menyulut sebatang kretek, si wulan dan nugie lumayan lama belanjanya.” Lanjut Teguh.

“Kalau gue mah, palingan nungguin sambil ngajak ngobrol abang-abang tukang parkir” Ujarku merespon cerita Teguh.

“Yei.. gue kan bukan anak sosial, ga bisa gue gitu-gituan.” Ujar Teguh.

“Setelah buah tangan berhasil di beli, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Soifa. 5 Menit kemudian kami tiba di desa Bejey, waktu itu di desa bejey lagi ada acara tahunan, semacam festifal desa. Tiba-tiba saja wulan meminta menghentikan mobil ‘itu kan kak Sofia’ ujar Wulan. Jadilah kami mengunjungi festifal tersebut” Ujar Teguh.

“Yuk turun, temuin kak Sofia Guh” Ujar Wulan.

“Hm… Aku nunggu di sini aja ya” Ujar gue

“Ayo dong, udah jauh-jauh gini, kamu harus nemuin Sofia” Ujar Nugie

“Ayo dong jangan cemen” Ujar Wulan.

“Iya, aku nyusul, kalian duluan aja” Ujar gue pada Wulan dan Nugie.

“Yaudah, tapi kamu nyusul ya” ujar Nugie.

“Wulan dan nugie beranjak pergi menuju kerumunan orang yang berada di festifal tersebut, sementara itu, gue masih membulatkan tekad untuk menemui Sofia.” Ujar Teguh menjelaskan panjang lebar.

“Trus, terus bagaimana bro….?” Jawabku penasaran.

“Oke, gue harus menemui Sofia, Sekarang atau tidak sama sekali” Gue bergumam dalem hati. (Ujar Teguh)

“Kemudian gue menyusul Nugie dan Wulan, ternyata di sana sudah ada sesosok wanita muda yang ngebuat jantung gue semakin kenceng berdetak, semakin ngebuat gue salah tingkah, semakin membuat gue tertunduk malu, dan gue hanya bisa menghadap malu, ga berani menatap matanya.” Ujar Teguh.

“ha ha ha” Responku menanggapi tingkah konyol Teguh.

“terus apa yang terjadi bro” aku semakin penasaran.

“Iya, kemudian si wulan tiba-tiba aja ngomong “iniloh kak, si Teguh yang sudah lama mengagumimu” kepada Seorang Gadis berkerudung besar berwarna orange muda yang menggulur panjang hingga menutupi dadanya, mengenakan baju merah muda lengan panjang, dan rok abu. Duh, dada gue semakin berdebar kencang, gue hanya bisa menunduk malu melihat ke arah bawah.”

“Assalamu’alaikum” Ujar  gue spontan, sambil menunduk ke bawah lantas kembali tegak, sambil menempelkan kedua telapak tangan satu sama lain, sebagai kode ‘kita bukan muhrim, kita ga boleh bersentuhan’ kira-kira begitulah Dang.

Kemudian Sofia malah mengulurkan tangannya kearah gue sembari mengatakan “Wa’alaikumsalam”.

Gue memberikan kode sekali lagi, namun sofia tidak menarik tangannya. Saat itu gue gak nemuin satu lembar kain yang bisa gue gunain sebagai pemisah antara kulit tangan gue dengan tangan sofia untuk berjabatan tangan dengan Sofia. “apa yang harus aku lakukan” begitulah yang kira-kira yang gue pikirkan dalam hati.

Namun, diluar dugaan, sofia langsung menangkap tangan kanan gue (yang mulai gue turunin ke bawah) kemudian melepas senyum dan menjabat tangan gue. Jleb……”apakah ini mimpi….?” “apakah ini nyata…?” Gue mencoba merasakan tekstur telapak tangan Sofia, dan terasa benar teksturnya. Gue benar-benar terdiam membeku, “ngefreeezeeee” gue dibuatnya.

“Hoooey…bengong aja kamu Guh, udahan dung salamannya” Ujar wulan mengagetkanku.

“Hai Sofia, Aku Teguh, kita sebelumnya pernah sekali dua kali berkomunikasi melalui layar kaca PC kita masing-masing.” Gue memperkenalkan diri dengan begitu grogi. Bersama Sofia, terlihat adik perempuannya masih kecil, seusia anak TK, yang terlihat begitu penasaran dengan gue.

“Hai guh, akhirnya kita bertemu juga ya. Sudah gak minder lagi….?” Ujar Sofia, sambil tersenyum. Yaa Allah…Dang, lo harus liat senyum itu, luluh lantah gue.

“Hehe Iya, kebetulan nemenin Nugie maen ke rumah Wulan.” Gue menjawabnya, sambil menunduk. Entahlah Dang, gue ga ngerti dengan diri gue, aneh banget deh.

“Terus apa yang terjadi Bro” Ujarku pada Teguh, aku semakin penasaran. Pengen juga sih liat senyumnya si Sofia, bisa-bisanya ngebuat si Teguh salah tingkah gitu.

“Hayo ke rumah, ga baik ngobrol di sini” Ujar Sofia.

“Yuk.” Ujar Nugie dan Wulan secara kompak. Semantara gue hanya mengangguk-angguk mengiayakan ajakan Sofia.

 

Kemudian, aku berjalan berdampingan dengan Sofia menuju rumahnya yang ternyata berada di atas bukit. Kami berjalan bersama, menanjak menuju rumahnya. Semakin lama nafas gue semakin sesak, semakin nyesek, gue semakin dalam menghirup oksigen, susah banget dah pokoknya nafas. Gue melihat belakang ternyata posisi gue dan Sofia berada di atas, tinggi banget. Tiba-tiba aja si Nugie dan Wulan menghilang, hanya menyisakan gue dan Sofia, namun kami terus menanjak menuju rumahnya. Terus naik, terus menuju puncak. Bersama sofia, aku berjalan menuju puncak. Namun sayang, sayup-sayup Tarhim terdengar kian jelas, mengakibatkan gue bangun dari mimpi indah itu. Gue akhirnya terbangun Dang. Ngebuat gue senyum-senyum sendiri, hingga sekarang.

 

“Wah, luar biasa bro, semoga merupakan sebuah pertanda baik bagi kalian. Gue gak tau harus mengomentari mimpi lo bagaimana, namun jika hanya dengan memimpikan Sofia lo bisa sebahagia ini, gue gak bisa bayangin bagaimana jika mimpi itu menjadi nyata” Aku memberikan komentar pada Teguh.

 

“Iya, makasih bro sudah mau dengerin cerita gue. Terima kasih atas do’anya.” Ujar Teguh.

“Sama-sama bro” Balasku.

“Udah, lo lanjutin aja aktivitas lo, besok kita bahas ini di Semarang” Ujar Teguh.

“Oke bro, gampang lah bro” Balasku.

“Thank you shob, Wassalamu’alaikum” Teguh Mengakhiri pembicaraan.

“Alaikumsalam bro” Aku menutup pembicaraan.

Setelah pembicaraan panjang lebar itu, aku berpikir mendalam “bagaiaman bisa seseorang seperti Teguh bisa bertingkah seperti itu, Gadis seperti apa yang bisa membuat Teguh seperti itu, Apa Hebatnya Sofia di hadapan Teguh? Apa yang dinilai Teguh dari Seorang Sofia, cantiknya kah, kepintarannya kah, sikapnya kah? Lantas apa arti mimpi yang diceritakan Teguh Barusan”.

Karena kopi di gelas

sudah habis, perlengkapan sudah lengkap, maka kami beranjak pergi menuju pantai Kaliantan. Sepanjang perjalanan aku masih membayangakn ekspresi Teguh dalam mimpinya, hahaha….. Teguh, Teguh…. Kocak banget sih Lo bro.

*Bersambung……………………..

Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Kesempatan Kedua

Kesempatan kedua.JPG

“Allah memberiku kesempatan kedua untuk hidup di dunia ini, padahal kecelakaan itu bisa saja menghentikan nafasku, membuat aliran darahku terhenti, hingga mengakibatkan jantungku berhenti bedetak. Namun, kau tahu Dang, di luar logika, aku, alhamdulillah selamat. Memang, aku sempat tidak sadarkan diri, sehingga harus digotong oleh beberapa pria dewasa dari tengah jalan raya. Sesaat sebelum pingsan, aku hanya mengingat beberapa orang berteriak kencang, beberapa motor melintasi badanku dari arah kiri dan kananku, badanku lemas tidak bisa aku gerakkan, hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.” Teguh bercerita dengan mata berkaca-kaca, dengan suara yang dalam, dan sesekali menarik nafas panjang.

“Aku masih ingat, kejadiannya berlangsung begitu cepat, aku, waktu itu hanya bisa mengeluarkan kata ‘astagfirullahal ‘adzim, astagfirullah, astagfirullahal ‘adzim’, kemudian ‘braaakkkk…..’ tabrakan pun terjadi, aku terus beristigfar, tubuhku terseret beberapa meter, aku terus beristigfar hingga aku hilang kesadaran.” ketika menceritakannya suara Teguh semakin dalam.

Aku langsung sigap, menepuk-nepuk pundak kirinya dengan tangan kananku. “Gapapa Guh, lo gausah lanjutin kalau ga bisa” Ujarku padanya.

Gapapa, gue akan selesein kok, kalem aja bro. Oke gue lanjutin. Setelah itu aku di bawa ke gazebo, di sebuah tempat pemandian mobil, tepat di samping kanan lokasi tabrakanku. Sayup-sayup terdengar ucapan “telpon ambulance, buruan telpon ambulance” entah siapa yang mengeluarkan suara, yang jelas dari suaranya adalah perempuan. Begitu aku mulai sadar, dan mengingat apa yang sedang terjadi, aku sontak duduk setengah bersila (kaki kiri aku belum bisa rasakan, kaki kanan aku lipat) kemudian berkata “Astagfirullahal ‘adzim, saya baru habis tabrakan ya, bagaimana keadaan lawan tabrakan saya, dia tidak apa-apa?” ujarku khawatir. “Sudah mas, tidak apa-apa, gausah mikir terlalu dalam, semuanya baik-baik saja” ujar seorang pria.

“Mana orangnya, biarkan saya melihatnya agar saya bisa tenang.” Ujarku khawatir.

“Dia tidak apa-apa, tidak luka sedikitpun” pria itu mencoba menenangkanku.

“coba lihat, gadis kecil itu (sambil menunjuk ke arah gadis kecil) baik-baik saja kan. Malah kondisi mas yang lebih parah.” Lanjut pria tersebut.

“Maaf kak, tadi saya tidak lihat sewaktu mau menyebrang” ujar gadis tersebut, mulai mendekatiku dengan perlahan, dia berjalan agak kaku, aku rasa kaki kanannya keseleo.

“Alhamdulillah, Syukurlah jika kamu tidak apa-apa, motormu bagaimana….?” Ujarku mencoba menenangkannya.

“Maaf kak, maaf. Motorku cuman plastik pelindung di knalpotnya aja yang copot. Maaf kak, maaf..” Ujarnya agak ketakutan. Kira-kira dia masih kelas 2 SMP, usianya sama seperti usia adik-adik yang aku didik waktu PPL kala itu.

“Alhamdulillah, syukurlah, yang penting kamu tidak apa-apa dek” Ujarku menenangkanku.

“Bagaimana ini mas, mau diselesein jalur hukum apa damai….? motormu hancur tuh” Ujar salah seorang pria yang lain.

“Boleh saya minta air pak…?” Ujarku pada kerumunan orang tersebut.

“Oh Air, iya air. Air mana air”, Ujar kerumunan tersebut. Alhamdulillah aku diberikan satu gelas air oleh pengelola tempat tersebut.

Setelah aku minum segelas air tersebut, aku melakukan pemeriksaan sederhana pada tubuhku, mengecek segala kemungkinan yang terjadi. Dari Kepala, leher, hemerus, sternum, costae, perut, femur, tibia, dll.

Kepalaku aman, aku kemudian mencoba mengurutkan nama presiden RI dari awal hingga akhir, aku tidak mengalami kesulitan, artinya memoriku aman, kepalaku aman. Aku hanya menemukan luka tergores di beberapa titik, di sendi lulut kaki sebelah kiri, telapak tangan kiri, punggung tangan kanan, hanya itu. Itupun hanya luka tergores, karena aspal barangkali.

Selanjutnya aku meminta dicarikan obat luka seperti betadine, namun karena terlalu lama menunggu, aku berinisiatif mencari daun Puring (Codiaeum variegatum), getahnya aku teteskan di daerah yang luka.

Kemudian aku berkeliling lokasi, aku mau melihat lokasi tabrakanku, mengenai sepeda motor, “hancur Dang”. Aku berfikir, kok aku bisa selamat tanpa luka serius dari kecelakaan tersebut. “Allah swt benar-benar memberikanku kesempatan kedua Dang”.

Begitulah, kira-kira yang Teguh Sampaikan malam itu.

Udahan ah. Cerita lebih detail akan ditulis dalam media cetak, insyaAllah (semoga Allah memuluskan segalanya). Cerita di dalamnya termasuk cara penyelesaian di antara si Teguh dan anak tersebut dan beberapa detail lainnya, yang sengaja tidak ditulis di media ini.

 

 

Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

Bingung

bingung.JPG

Setelah aku selesai mempersiapkan segala kebutuhan lapanganku selama aku berada di lombok, aku kemudian beranjak tidur. Saat ini waktu di jam dinding kamarku menunjukkan pukul 02.00 wib, artinya aku hanya memiliki waktu 2-3 jam untuk beristirahat. Aku tidak lupa memasang alarm pada pukul 04.45 wib, takutnya kebablasan.

2 jam kemudian…

Sayup-sayup terdengar suara speaker sebuah musholla sederhana yang sedang mengumandangkan tarhim, sebuah amalan yang biasa dilakukannya sebelum adzan subuh. Uniknya, seluruh tarhim tersebut dilafalkan oleh petugas musholla, bukan kaset. Aku pernah bertemu dan mengobrol dengannya, mulai dari tarhim, azan, iqomah, hingga imam, dilakukannya seorang diri, beliau merasa miris karena para pemuda di sekitarnya malas berjamaah. Musholla itu sendiri terletak di dalam pemukiman yang sebagian besar penduduknya beragama nasrani, aku sendiri beberapa kali dikejar oleh anjing peliharaan penduduk tatkala ingin mengunjungi musholla tersebut. Toleransi begitu terjaga dengan baik di tempat tersebut, ketika sedang adzan maka penduduk akan mengecilkan segala aktifitas yang mereka lakukan, seperti karaoke di muka rumah, begitupun sebaliknya jika warga merayakan natal maka warga muslim akan mengunjungi rumah tetangga nasrani, menghadiri undangan makan mereka, sehingga mereka bisa larut dalam suasana kekeluargaan.

Setelah terbangun dari istirahat singkat tersebut, aku bergegas mandi untuk menuju masjid bersama Teguh melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai jamaah subuh, aku membeli sarapan di warung dekat balai RW. Aku membeli dua bungkus nasi pecel + telur, gorengan, dan dua bungkus susu putih kental manis. Selanjutnya, aku sarapan bersama Teguh. Setelah sarapan, aku bersiap-siap menuju berangkat menuju bandara, bisa repot kalau telat.

Setibanya di Bandara Ahad Yani Semarang, aku meminta Teguh mengantarku masuk, bukan apa-apa, aku cuman ingin mengenalkan Teguh dengan Sary, Teguh hanya mengenal Sary dari beberapa ceritaku saja. Setelah beranjak dari parkiran, terlihat sebuah lambaian tangan tertuju ke arah kami dari arah Loby bandara. “Nah, itu bro yang namanya Sary” ujarku pada Teguh sambil menunjuk ke arah Sary. “Yang baju merah itu ya shob”, ujar teguh memastikan. “Iya bener” aku membenarkan.

Setelah memasuki loby, aku memperkenalkan Sary pada Teguh.

“Jadi, ini loh yang namanya Sary bro..” Ujarku pada Teguh.

“Sar, ini yang namanya Mas Teguh..” Ujarku pada Sary.

“Assalamu’alaikum, jadi ini to yang namanya Sary, cewe setrong yang sejenis dengan Adang” Teguh memperkenalkan dirinya, dengan kepala agak menunduk dan kembali tegak setelah melepas salam kepada Sary.

“Wa’alaikum Salam, eh ini ya yang namaya mas Teguh, salam kenal ya, mas Adang sering menceritakanmu mas” balas Sary, sambil mengulurkan tangannya mengajak salaman.

“hah…iyakah, Adang cerita apa aja Sar…?” kemudian teguh mengambil syal yang berada di lehernya, untuk melapisi tangan kanannya, selanjutnya membalas uluran tangan Sary untuk bersalaman.

“Dang, lo cerita apa aja ke Sary…?” Lanjut Teguh menanyaiku.

“Ada deh, kepo banget lo bro..” Jawabku pada Teguh.

“Kalian ini lucu sekali, hehehe” Ujar Sary sambil tertawa ringan.

“Ya sudah.. Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan kalian selamat sampai kembali lagi ke Semarang, Gue ada kelas pagi sekarang, jadi harus balik duluan” ujar teguh.

“Oke mas, terima kasih atas do’anya ya” Ujar Sary.

“Okelah bro, makasih udah nganter gue” ujarku pada Teguh.

“Assalamu’alaikum” Teguh melepas salam sambil mengangkat tangan kanannya setinggi bahu, dan menunduk singkat kemudian kembali tegak.

“Wa’alaikum salam” balasku dan Sary kompak.“

“kamu cuman bawa tas doang Sar…?” Aku memperhatikan bawaan Sary.

“Iya, cuman bawa bandeng ma brownies. Ini Baju pesenanmu Mas, hehehe” Sary memberikan tas tenteng berwarna merah berbahan dasar kain, sambil tertawa. Aku tau dia sedang menertawakanku tatkala mengenakan pakaian ini pada saat mengunjungi Kakeknya.

“Ok, makasih ya” Aku mengambil tas tersebut, sembari memikirkan tindakan seperti apa yang akan aku lakukan di hadapan kakeknya Sari.

Setelah memasuki ruang tunggu, kami mengobrol ringan untuk menunggu waktu berangkat. Kami berangkat pukul 6.30 wib dan akan tiba di Lombok pukul 9.10 Wita. Sebenarnya waktu tempuhnya adalah dua jam, namun karena Lombok berada di zona waktu indonesia bagian tengah maka waktunya ditambah satu jam.

“Mas, jadi itu ya yang namanya mas Teguh” Ujar Sary.

“Yep, knpa…?” Tanyaku.

“Gak…hanya saja, biasanya yang suka gituin aku ya temen-temennya Kakek, sebelumnya kalau aku ngajak salaman orang paling banter ga diladenin sambil ngucapin ‘afwan, ukhti kita bukan muhrim’, bener sih, cuman kadang gue kurang srek aja.” Ujar Sary.

“Oh itu, iya si Teguh kalau lagi perjalanan itu biasa menjaga wudhunya, kali aja dia gamau wudhu nya batal gara-gara sentuhan ma kamu Sar. Lah, kenapa ga srek sih, bukannya seharusnya emang gitu…?” Ujarku pada Sary.

“Bukan gitu, di rumah kalau ada yang mau salaman ma Kakek ya Salaman, meskipun bukan muhrim. Kakek tinggal melapisi tanggannya dengan kain yang ada di sekitarnya, entah itu taplak meja atau syurbannya. Sedangkan tamu yang perempuan, biasanya sudah melapisi tangannya juga dengan kain yang memang sudah dipersiapkan. Aku biasa gitu kok kalau ngunjungin temen-temen kakek” Ujar Sary menjelaskan degan detail.

“Gini ya mas, cowo-cowo yang dikenalin kakek itu rata-rata lulusan mesir, mekkah, atau madinah, jadi secara keilmuan bahasa arabnya sudah jago bukan? Ilmu keislamannya sudah mumpuni bukan? Sama sekali mereka ga pernah memanggilku dengan sebutan ukhti, ataupun menggunakan bahasa arab  sepotong-potong. Malahan mereka nyante ngobrol denganku, salaman, ya salaman.” Lanjut Sary.

“begitu ya… Terserah kamu aja deh Sar, yang penting kamu seneng aja” jawabku datar.

Akhirnya kami dipersilahkan menuju pesawat. Pesawat yang kami gunakan adalah pesawat biru yang berlogo burung sangar. Aku menanyakan harga tiketnya pada Sary, awalnya Sary tidak mau membahas masalah tiket, namun setelah aku coba gali, ternyata harganya terlampau mahal bagiku. 2.500K per seat bagiku terlampau mahal bagi sosialist sepertiku, namun Sary mengatakan “udah deh mas, gausah mikir macem-macem, aku mau kita cepet sampai, itu aja, aku punya banyak agenda liburan bareng kamu, dan aku tau kamu juga punya agenda khusus besok, jadi gausah banyak protes deh, okey”. Karena aku sedikit banyak sudah tau sifat Sary, maka aku memakluminya, karena pada dasarnya Sary juga seorang sosialis bukan tipe gadis yang suka hura-hura menghabiska uang untuk kesenangannya.

bandara

Kami mendarat di Bandara Internasional Lombok, Praya tepat pukul 9.10 Wita. Aku sudah empat kali ke Lombok, kebanyakan karena ada proyek kementrian sosial. Kami dijemput oleh seorang pria muda, aku rasa umurnya sama sepertiku, dia memperkenalkan dirinya sebagai Arif padaku. “Assalamu’alaikum, kakek meminta kakak untuk menjemput Sary.”

“Wa’alaikum salam, jadi ngerepotin kak Arif nih” Ujar Sary.

“Oh iya kak, kenalin ini Mas Adang, temenku di Semarang, dia ada kerjaan pas festival ‘bau nyale’ nanti di Lombok Tengah.” Jawab Sary, kemudian langsung mengenalkanku pada Mas Arif.

“Oh iya, Saya Adang temennya Sari” Jawabku pada mas Arif.

“Jadi kita mau kemana sekarang, langsung pulang atau bagaimana dek….?” Ujar Mas Arif pada Sary.

“Kita ke masjid Agung Praya dulu kak, adek mau cuci muka dulu” Ujar Sary.

“Enggih dek” Ujar Mas Arif. Menurutku Mas Arif orangnya sopan, baik, dan tampan. Sary sendiri belum menceritakan apa-apa tentang mas Arif. Menurutku, mas Arif ini adalah orang yang dekat Sary. Entahlah, aku tidak punya informasi tentangnya.

Setiba di Masjid Agung Praya, Aku langsung melaksanakan tahiyatul masjid dan sholat dhuha. Aku rasa Sary pun demikian. Sary memang aku akui rajin mengerjakan ibadah sunnah, walau sedang berada di lokasi ekstreem pun sary senantiasa menyempatkan waktu untuk mengerjakan ibadah sunnah.

Setelah melaksanakan sholat sunnah, Sary mengajakku makan bakso. “Mas Aku lapar, ngebakso dulu yuk, bakso di sini enak loh..” ujar Sary.

“Boleh” aku menyanggupi ajakan Sary.

Bersama mas Arif kami menyantap bakso, di samping masjid Agung Praya. “Waaoow….enak banget baksonya, kuahnya nendang banget” kata-kata itu spontan keluar dari mulutku. “Tuh kan, apa kataku” ujar Sary, sementara mas Arif hanya terlihat tersenyum saja melihat tingkahku.

Bakso yang aku santap itu rasanya memang beda, begitu terasa cacahan daging pada bola baksonya, aroma kuahnya begitu terasa dan tersedia lontong. Lontongny unik, ga berbentuk seperti guling, namun berbentuk seperti limas segitiga sama panjang. Makan bakso plus satu lontong saja rasanya udah kenyang banget.

Setelah kenyang, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju kediri kediaman Sary. Perjalanan dari Praya-kediri memakan waktu 20 menit. Begitu sampai di Kediri, aku membaca tulisan “Kediri Kota Santri” membentang dari kiri jalan ke kanan jalan di atas jalan Kediri. Aku belum memiliki gambaran sebenarnya tentang lingkungan keluarga Sary. Memang aku perhatikan banyak pondok pesantren di daerah tersebut.

“Loh kok, nih mobil malah masuk ke dalam sebuah pondok, mau ngapain….?” Ujarku.

“Alhamdulillah kita sampai mas” Ujar Sary.

“hoh….iya, alhamdulillah sampai” agak sedikit bingung sih.

“Dek, kakak mau nemui kakek dulu, mau laporan dulu” ujar mas Arif.

“Iya kak, terima kasih ya sudah dijemput” Ujar Sary.

“Mas Adang, tak tinggal dulu ya, Assalamu’alaikum” ujar mas Arif padaku.

“Iya Mas, terima kasih sudah dijemput, wa’alaikum salam” jawabku ramah.

“Ayo mas, rumahku ada diujung, kita jalan aja dari sini” ujar Sary.

“Oke, rumahmu ramai ya, dipadati banyak santri” tanyaku.

“Iya dung” jawab Sary.

Sepanjang jalan begitu banyak mata yang menatap kearahku, tatapan penasaran tepatnya. Begitu sampai di halaman utama pondok, semakin banyak aja santri wanita yang penasaran atasku. Saat ini aku belum tau model pondok seperti apa yang ku masuki, apakah khusus putri atau campur antara putra dan putri. “eh siapa cowo gondrong yang ada di sebelah mbak Sary, liat tuh celananya robek sana-sini” mungkin begitulah yang ada di pikiran mereka.

Aku tiba disebuah bangunan cukup keren di tempat ini, keren karena begitu teduh, banyak tanaman yang tumbuh disamping rumah tersebut, terdapat gazebo atau disebut berugaq ditempat ini. “Mas duduk dulu di Gazebo bentar ya, aku mau masuk dulu” Ujar Sary. Kemudian Aku mengiyakannya. Aku pikir Sary mau ngasih tau orang rumah dulu, paling bentar aja. Namun, dasar si Sary, Aku didiemin selama 30 menit sendirian di Gazebo, entah dia lagi ngapain di dalem. “Dasar tuh anak, apa dia lupa ada aku di sini” gumamku dalem hati.

Di tengah-tengah gumamanku tadi aku kemudian mendengar sebuah sapaan tertuju kearahku, suaranya pelan, terdengar seperti suara kakek-kakek. “Assalamu’alaikum” Ujarnya.

Aku menoleh sembari menjawab salamnya “wa’alaikum salam” ujarku. Aku melihat seorang kakek sekitar 60-70an tahun mengenakan pakaian serba putih, dari sarung, peci, hingga syurban, semua berwarna putih, Kakek tersebut menggunakan terumpah kayu sambil memegang tongkat di tangan kanannya. Di samping kakek tersebut berdiri mas Arif. Kemudian aku berfikir “mungkin ini kakeknya Sary”, aku kemudian menghampirinya kemudian bersalaman.

“Sudah lama nunggu…?” Ujarnya.

“Iya kek, Sary belum keluar dari tadi” Ujarku,

“Ayo di dalam saja. Arif tolong gantikan kakek ngajar hari ini, kakek ada tamu” Ujar kakek tersebut.

“Enggih kek” mas Arif menyanggupi kemudian menyium tangan kakek tersebut dan meninggalkan kami.

Aku berjalan masuk ke dalam rumah tersebut, kemudian duduk di ruang tamunya. Aku memperhatikan dengan seksama, begitu banyak kaligrafi arab terpajang di dinding rumah tersebut. Beberapa Foto—yang kupikir adalah ulama—terpajang di hadapanku, entah siapa, aku tidak mengenalnya.

“Sary…buatkan minum untuk kakek dan Adang” Ujar kakek tersebut pada Sary.

“Namu Adang ya, tadi Arif sudah cerita. Katanya Adang ini temennya Sary, kebetulan mau ikut ‘bau nyale’ ya” Ujar kakek tersebut padaku.

“Oh iya kek, Saya Adang temennya Sary, iya kek saya ada tugas untuk meliput festival bau nyale itu” aku mulai memperkenalkan diri,

“Sudah lama berteman dengan Sary…?” Kakek mulai menggali informasi.

“Iya kek, sekitar satu tahun” jawabku singkat.

“Adang ini satu kampus kah dengan Sary…?” tanya kakek.

“Oh enggak kek, Saya kuliah di tempat lain” ujarku pada kakek.

“Kuliah jurusan apa, sudah semester berapa…?” kakek semakin dalam bertanya.

“Saya ngambil ilmu sosial, baru semester 1” jawabku

“S2 ya….?” ujar kakek.

“enggak kek, saya kebetulan ngambil program doktoral sekarang”. Sebenarnya aku males kalau udah ngebahas ini, cuma karena yang nanya kakeknya Sary, apa boleh buat aku harus jawab.

“oh begitu ya. Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa, kakek tidak akan menanyakan hal itu lagi. Bagaimana Sary di semarang, nakal enggak?” Kakek langsung menghentikan pertanyaannya tentangku.

“Maaf kek? Maksudnya bagaimana?” Aku bingung, seolah-olah si Kakek bisa mendengarkan kata hatiku.

“Iya, si Sary sering males kuliah enggak?” ujar kakek menjelaskan.

“oh…sary, Sary rajin kek.” Sebenarnya aku masih bingung.

“Alhamdulillah kalau dia rajin, Adang gausah bingung ya, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt, kita hanya perlu mendekatkan diri pada Allah swt untuk dapat mengetahui rahasia kehidupan ini” Ujar kakek.

“Iya kek.” Jawabku pendek. Sebenarnya aku semakin bingung, hanya saja kata-kata kakek tersebut perasaan pernah aku dengar dari Teguh.

“Iya iya iya…..Nanti kalau sampai di Semarang, sampaikan salamku pada Anak itu” ujar kakek.

“Salam? Maaf bagaimana kek, salam ke siapa?” ujarku kebingungan.

“teman satu kontrakanmu, yang mengantarkanmu ke bandara tadi pagi” ujar Kakek.

“Teguh ya” ujarku.

“kakek kenal dengan Teguh” aku semakin penasaran.

“Oh namanya Teguh ya, iya Salamkan ya.” Ujar kakek.

Aku benar-benar bingung saat itu, hanya saja aku mulai berfikir, siapa tau Sary sering bercerita pada kakek tersebut. Mungkin kakek penasaran dengan Teguh, tapi kok tiba-tiba bisa membahas Teguh, apa kakek ini beneran bisa mendengar yang aku pikirkan…? di tengah-tengah kebingungan pikiraanku itu, Sary keluar menyuguhkan minuman dan makanan ringan.

“Wah asyik bener obrolannya, lagi ngobrolin apa sih…..?” goda Sary.

*Bersambung.

Posted in Sebuah Cerita tentang Teguh

“Teguh, Teguh, Apa sih yang ada dalam pikiranmu….?”

IMG_3560

Begitulah Teguh, begitu aneh, setidaknya begitulah pendapatku. Aku belum pernah menemukan seseorang yang mengawali presentasinya dengan meminta kami semua untuk berdiri guna bersama-sama menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, termasuk bapak dosen yang mengajar kami saat itu, dimintanya untuk berdiri juga. Sungguh aneh, begitu asing bagiku, “ini mau membahas cara mengajar yang baik, kok malah nyuruh nyanyi bareng, apaan sih” gumamku.

Awalnya, aku, teman-teman yang lain juga kurasa, merasa aneh sekaligus penasaran. Dengan aksen inggris yang terdengar kaku Teguh meminta kami untuk berdiri. Bukan hanya kami, bahkan bapak dosen pun bertanya-tanya, terlihat raut muka yang penasaran diwajahnya, menaikkan kacamatanya ke atas kepala.

Namun, di luar dugaan, aku turut larut dalam momment tersebut. Aku memperhatikan sekelilingku, teman-teman yang mulanya tertawa, ogah-ogahan, kini mulai larut dalam satu nada, satu irama, begitupun bapak dosen yang langsung hormat tatkala diputarkan video berkibarnya bendera “Merah Putih” di puncak tertinggi dunia. Sambil menyanyikan lagu “Indonesia Raya” aku mengingat-ingat “kapan terakhir kali aku menyanyikan lagu ini…?”

Rasa haru, bangga sekaligus malu tercampur menjadi satu. Air mataku menetes, kebanggaanku pada Indonesia semakin memuncak tatkala bait-bait akhir ku nyanyikan kala itu. Namun aku malu, aku belum bisa berbuat maksimal untuk Indonesia, aku terlalu banyak membuang waktuku.

Setelah kami selesai menyanyikan “Indonesia Raya”, Teguh kemudian menjelaskan semuanya, ku lihat senyum hangat dari wajah dosen dan teman-teman, tepuk tangan pun diberikan oleh bapak dosen untuk Teguh dan kami karena mau bersama-sama menyanyikan “Indonesia Raya”.