LICHENES

Posted: Juni 8, 2010 in taksonomi tumbuhan rendah
Tag:

LICHENES

(Lumut Kerak)

Orgnisme ini sebenarnya kumpulan antara fungi dan algae, tetapi sedemikian rupa, sehingga dari segi morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan.  Lichenes hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan, tetapi dapat juga di atas tananh, terutama di daerah tundra di sekitar kutub utara.  Lichenes dapat kita temukan sampai di atas gunung-gunung yang tinggi.

Beberapa jenis dapat masuk pada bagian bagian pinggir batu-batu, oleh karenanya disebut sebagai endolitik. Algae yang ikut menyusun tubuh Lichenes disebut gonidium, dapat bersel tunggal atau berupa koloni. Kebanyakan gonidium adalah ganggang biru (Cyanophyceae) antara lain choococcus dan Nostoc, kadang-kadang juga ganggang hijau (Cholorophyceae) misalnya Cystococcus dan Trentopohlia. Kebanyakan cendawan yang ikut  enyusun Lichenes tergolong ke dalam Ascomycetes terutama Discomycetales, hanya kadang-kadang  Pyrenomycetales. Mungkin juga basidiomycetes mengambil bagian dalam membentuk Lichenis.Dalam kurtur murni, cendawan itu memperlihatkan susunan morfologi menurut jenisnya, tetapi bentuk talus seperti Lichenes baru terjadi jika bertemu dengan jenis ganggang yang tepat.

Lain ganggang akan menghasilkan lain lichens. Jadi bentuk lichenes bergantung pada macam cara hidup bersama antara kedua macam organisme yang menyusunnya. Dapat juga hubungan antara kedua ganggang dari jamur itu dianggap sebagai suatu helotisme. Keuntungan yang timbal balik itu hanya sementara, yang pada permulaan saja, tetapi akhirnya ganggang diperalat oleh cendawan, dan hubungan mana menyerupai hubungan seorang majikan dengan budaknya (helot). Dalam hal ini hidup bersama antara cendawan dan ganggang pada Lichenes dinamakan helotisme. Menurut habitusnya kita membedakan Lichenes yang talusnya menyerupai lembaranlembaran, seperti semak. Yang pertama biasanya melekat dengan benang-benang menyerupai rizoid pada subtratnya dengan seluruh sisi bawah talus, sedang yang kedua mempunyai ujung

talus yang berbeda dalam udara. Pembagian ini sama sekali tidak menunjukkan hubungan filogentik antara anggota-anggota yang tergolong di dalamnya. Kebanyakan Lichenes berkembang biak vegetatif. Pada talus lichenes cendawan akhirnya dapat membentuk buah yang menurut jenis cendawan dapat berupa apotesium atau peritesium. Spora yang dilepaskan, di tempat yang baru akan berkembang menjadi Lichenes baru jika menjumpai jenis ganggang yang tepat, yang sama dengan jenis ganggang pada talus induknya. Lichenes diklasifikasikan menurut cendawan yang menyusunnya.

PERKEMBANGBIAKAN LICHENES

Perkembangbiakan lichenes melalui tiga cara, yaitu :

  1. A. Secara Vegetatif
    1. Fragmentasi, Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi individu baru. Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan fragmen. Pada beberapa fruticose lichenes, bagian tubuh yang lepas tadi, dibawa oleh angin ke batang kayu dan berkembang tumbuhan lichenes yang baru. Reproduksi vegetatif dengan cara ini merupakan cara yang paling produktif untuk peningkatan jumlah individu.
    2. Isidia, Kadang-kadang isidia lepas dari thallus induknya yang masing-masing mempunyai simbion. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika kondisinya sesuai.
    3. Soredia, Soredia adalah kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelahdan diselubungi benag-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat terlepas dari induknya. Dengan robeknya dinding thallus, soredium tersebar seperti abu yang tertiup angin dan akan tumbuh lichenes baru. Lichenes yang baru memiliki karakteristik yang sama dengan induknya.
  2. B. Reproduksi aseksual
    1. Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya.
    2. Spora yang aseksual disebut pycnidiospores. Pycnidiospores itu ukurannya kecil, spora yang tidak motil, yang diproduksi dalam jumlah yang besar disebut pygnidia.
    3. Pygnidia ditemukan pada permukaan atas dari thallus yang mempunyai suatu celah kecil yang terbuka yang disebut Ostiole. Dinding dari pycnidium terdiri dari hifa yang subur dimana jamur pygnidiospore berada pada ujungnya. Tiap pycnidiospore menghasilkan satu hifa jamur. Jika bertemu dengan alga yang sesuai terjadi perkembangan menjadi lichenes yang baru.
  3. C. Secara Seksual
  • Perkembangan seksual pada lichenes hanya terbatas pada pembiakan jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah kelompok jamur yang membangun tubuh lichenes.

MANFAAT LICHENES

Lichen bisa menunjukkan hutan yang terancam polusi udara

Seperti rokok yang baru akan terasa efeknya setelah 30 tahun, demikian juga dampak dari polusi udara berkelanjutan pada kondisi hutan. Hal ini diungkapkan Susan Will-Wolf, pakar botani dari Universitas Wisconsin-Madison, dalam siaran pers, 1 Agustus 2004. Dalam proyek nasional yang dilakukan untuk memonitor kesehatan hutan termasuk pohon dan ekosistemnya, para peneliti dari Universitas Wisconsin-Madison dan US Forest Service menggunakan lichen – sejenis tanaman dedaunan yang merupakan simbiosis mutualisme antara jamur dan alga  - sebagai indikator.

Will-Wolf mengatakan penelitian ini termasuk program pengamatan kesehatan hutan-bagian dari usaha pencegahan untuk melindungi hutan dan alam dari penurunan fungsi dan kerusakan akibat perubahan lingkungan.

Lichens yang biasanya hidup di cabang, ranting pohon dan bebatuan di dasar hutan dikenal karena kesensitifannya terhadap perubahan lingkungan, terutama polusi udara. Will-Wold yang terlibat dalam proyek ini mengatakan lichen merupakan indikator yang memberi peringatan adanya ancaman potensial pada hutan.

Perubahan pada komunitas lichen di hutan menunjukkan kemungkinan adanya perubahan dalam ekosistem, seperti siklus nutrisi yang tidak efesien atau lambatnya pertumbuhan hutan. Selain menghasilkan kayu, hutan juga penting sebagai daerah resapan dan penyimpanan air tanah serta perlindungan terhadap keanekaragaman, tambah Will-Wolf. Semua fungsi ini dapat terganggu dalam kondisi tertentu. Karena fungsi potensial lichen sebagai indikator perubahan lingkungan, para botanis dari Universitas Wisconsin mengembangkan sebuah model yang dapat menunjukkan kualitas udara untuk memperkirakan dampak dari tingkat polusi udara di hutan. Model ini dapat menunjukkan derah yang memilki udara leboh kotor memilliki lebih sedikit spesies lichen.

Sebaliknya, jika lichen tumbuh dengan subur menandakan daerah tersebut udaranya cukup bersih. Dengan mengikuti perkembangan komposisi komunitas lichen dan angka kualitas udara, para peneliti ini dapat memetakan area hutan mana yang terancam olah polusi udara. Model ini telah diterapkan di New England dan daerah selatan menggunakan data dari US Forest Service untuk memonitor komunitas lichen yang ada di daerah tersebut.

Dari penelitian mereka terlihat bahwa polusi udara di daerah selatan seperti Georgia dan Alabama terkonsentrasi pada area tertentu. Sementara di New England, termasuk Maine dan New York, udara yang lebih kotor tersebar di area yang lebih luas. Hasil ini menunjukkan hampir seperdelapan dari area New England memilki kualitas udara yang lebih kotor dibandingkan daerah lain di bagian selatan. Hal ini juga terlihat dari lebih ketatnya distribusi komunitas lichen yang ada di New England dibandingkan di selatan.

Dampak polusi udara di selatan menyebar, dengan 20 sampai 50 lusin kantong udara dengan kualitas rendah. Sedangkan di New England terkonsentrasi dalam beberapa area yang lebih luas termasuk pantai timur mulai dari Boston sampai New York, terentang sejauh 50 sampai 100 mil, jelas Will-Wolf.

Dari sini, ia menyimpulkan bahwa hutan di New England terancam polusi udara yang lebih besar dibandingkan hutan di daerah selatan. Karena semakin luas daerah yang terkena dampak polusi udara, semakin banyak habitat yang terpengaruh kondisi tersebut.

Menurutnya, menggunakan komunitas lichen sebagai indikator polusi udara tidak hanya menandai area hutan yang memerlukan pencegahan dan pengelolaan lebih lanjut, tapi juga sebagai sarana untuk menilai keefektifan regulasi yang dikeluarkan mengenai jumlah bahan kimia toksik yang dilepas ke udara. Seperti efek rokok yang lama terlihat dampaknya. Kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk mengurangi kemungkinan tersebut sebelum terlambat dan terasa akibatnya, kata Will-Wolf.

PENELITIAN LICHENES LUAR ANGKASA

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) menemukan bahwa lichen atau lumut kerak dapat bertahan hidup di kondisi luar angkasa yang keras.

Lichen merupakan organisme gabungan antara ganggang dan jamur. Di bumi, organisme ini mudah ditemukan di permukaan batu. Ia memang dikenal dapat bertahan hidup pada kondisi yang ekstrim seperti di daerah pegunungan. Nah, baru-baru ini diketahui juga bahwa lichen adalah bentuk kehidupan paling kompleks – sejauh ini – yang dapat bertahan dalam waktu lama di luar angkasa.

Dalam sebuah percobaan yang dipimpin oleh Leopoldo Sancho dari Universitas Compultense Madrid, dua spesies lichen – Rhizocarpon geographicum dan Xanthoria elegans – dimasukkan ke dalam kapsul dan diorbitkan bersama roket Soyuz Rusia tanggal 31 Mei 2005.

Begitu tiba di orbit Bumi, penutup kontainer dibuka dan sampel dibiarkan terbuka di lingkungan ruang angkasa selama 15 hari, sebelum dimasukkan lagi ke dalam kapsul lalu dibawa kembali ke bumi.

Selama di orbit, lichen berada di lingkungan hampa udara dengan suhu -20 derajat Celsius pada malam hari dan 20 derajat Celsius pada siang hari. Mereka juga diterpa radiasi ultraviolet Matahari. “Yang mengejutkan, mereka tetap berada dalam kondisi normal setelah penerbangan,” kata Rene Demets, peneliti untuk proyek Foton. “Lichen tidak berubah sama sekali seperti sebelum penerbangan.”

Penumpang gelap

Selama di luar angkasa, lichen berubah menjadi tidak aktif dan tidak melakukan metabolisme. Tetapi setelah kembali ke Bumi semua kembali ke aktivitas normal. DNA-nya pun tidak mengalami kerusakan. Semua lichen sepertinya tahan menghadapi radiasi ultra violet, bahkan yang menerima penyinaran lebih.

Lichen memiliki lapisan mineral kuat yang melindunginya dari sinar ultra violet. Mereka terdiri dari organisme-organisme yang saling menyelimuti satu sama lain, sehingga lapisan paling atas mampu memberikan perlindungan pada sel-sel di bawahnya. Organisme ini sebelumnya sudah kemampuannya bertahan terhadap radiasi UV yang kuat di Bumi.

Percobaan di atas memberi dukungan pada teori panspermia, bahwa kehidupan dapat berpindah antar planet, misalnya dengan menumpang pada asteroid. Ini juga menjadi indikasi bahwa organisme serupa lichen mungkin dapat bertahan hidup di planet Mars, setidaknya selama musim panas.

Hubungan simbiosis

Walaupun atmosfer Mars sangat tipis, tetapi ada karbon dioksida yang diperlukan lichen untuk berfotosintesis. Namun, mereka mungkin tidak dapat bertahan lama di Mars karena kandungan oksigen yang sangat sedikit.

Pada tahun 1980-an, hasil percobaan yang dilakukan dalam satelit Long Duration Exposure Facility NASA menunjukkan bahwa bakteri tertentu cukup kuat untuk bertahan hidup di angkasa luar.

Rocco Mancinelli, yang juga pernah melakukan penelitian kehidupan mikro organisme di luar angkasa, mengaku tidak heran dengan kemampuan lichen bertahan hidup di luar atmosfer Bumi karena sebelumnya ada beberapa mikroorganisme yang juga dapat bertahan hidup di sana.

Kehidupan bersama antara ganggang dan jamur yang membentuk lichen berada dalam hubungan simbiosis atau saling menguntungkan. Ganggang memberi makan jamur sementara jamur memberikan lingkungan hidup yang nyaman bagi ganggang.

Jamur Lichenes merupakan jamur yang sering disebut sebagai jamur kerak, karena jamur ini merupakan simbiosis antara fungi dan alga yang membentuk lumut kerak atau lichenes. Jamur lichenes mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan, salah satunya ada lah sebagai indikator pencema ran udara . Hal ini diakibatkan zat -zat berbahaya seperti logam berat , fluorida , pestisida, radioaktif, dan zat berbahaya lainnya dapa t mempenga ruhi per tumbuhan koloni Lichenes.

Morfologi dalam (anatomi) dari Jamur Lichenes sebagai berikut:

Struktur morfologi dalam diwakili oleh jenis foliose, karena jenis ini mempunyai empat bagian tubuh yang dapat diamati secara jelas yaitu.

- Korteks atas, berupa jalinan yang padat disebut pseudoparenchyma dari hifa jamurnya. Sel ini saling mengisi dengan material yang berupa gelatin.
Bagian ini tebal dan berguna untuk perlindungan.

- Daerah alga, merupakan lapisan biru atau biru hijau yang terletak di
bawah korteks atas. Bagian ini terdiri dari jalinan hifa yang longgar.
Diantara hifa-hifa itu terdapat sel-sel hijau, yaitu Gleocapsa, Nostoc,
Rivularia dan Chrorella. Lapisan thallus untuk tempat fotosintesa disebut
lapisan gonidial sebagai organ reproduksi.

- Medulla, terdiri dari lapisan hifa yang berjalinan membentuk suatu bagian
tengah yang luas dan longgar. Hifa jamur pada bagian ini tersebar ke
segala arah dan biasanya mempunyai dinding yang tebal. Hifa pada bagian
yang lebih dalam lagi tersebar di sepanjang sumbu yang tebal pada bagian

atas dan tipis pada bagian ujungnya. Dengan demikian lapisan tadi

membentuk suatu untaian hubungan antara dua pembuluh.

- Korteks bawah, lapisan ini terdiri dari struktur hifa yang sangat padat dan
membentang secara vertikal terhadap permukaan thallus atau sejajar
dengan kulit bagian luar. Korteks bawah ini sering berupa sebuah akar

(rhizines). Ada beberapa jenis lichenes tidak mempunyai korteks bawah.

Dan bagian ini digantikan oleh lembaran tipis yang terdiri dari hypothallus
yang fungsinya sebagai proteksi.

Manfaat Lichenes diatas merupakan manfaat yang sangat baik apabila
set iap or ang mau mengam ti lingkungan khususnya tumbuhan Lichenes ter sebut .

Dengan begitu masyarakat akan tahu bahwa daerah yang mereka tempati tersebut

keadaan udaranya baik atau buruk dengan cara melihat jamur lichenes tumbuh
atau tidak dan bia sanya jamur tersebut tumbuh pada batang suatu tumbuhan
dikotil.

Lichenes (Lumut Kerak)

Lumut kerak (Inggris : lichens) merupakan simbiosis antara fungi dengan alga yang menyatu membentuk morfologi dan fisiologi tersendiri. Lichenes mempunyai sifat sebagai berikut :

  1. Hidup di pohon dan tanah, terutama pada ‘tundra” (padang lichens di Kutub Utara) yang luasnya mencapai ribuan km dan merupakan sumber makanan bagi rusa kutub.
  2. Alga penyusun lichens disebut gonidium, umumnya yang bersel tunggal soliter atau dapat pula yang berkoloni, dapat berupa :

- alga hijau biru à khusus genus Chroococcus dan Nostoc

- alga hijau à khusus genus Cystococcus dan Tentropohlia

  1. Jamur penyusun lichens yakni :

-Ascomycetes (umumnya) à ordo Discomycetales atau pun Pyrenoimycetales

- Kemungkinan juga Basidiomycetes (Tjitrosoepomo, 2003)

- Fungi imperfecti.

  1. Ganggang (alga) memberi hasil fotosintesisnya (terutama karbohidrat) kepada jamur. Jamur menyediakan air yang melarutkan zat organik bagi ganggang.
  2. Jika panas terik, lichens yang hidup di batu menjadi kering, namun tidak mati; ketika hujan turun, tumbuh kembali.
  3. Pertumbuhan thallus ini sangat lambat, dalam satu tahun jarang lebih dari 1 cm. Tubuh buah baru tumbuh setelah pertumbuhan vegetatif bertahun-tahun.
  4. Habitus (perawakannya) serupa semak, merupakan vegetatif perintis (seperti juga alga hijau biru), yakni lambat laun mampu menghancurkan batu menjadi tanah.

KLASIFIKASI LICHENES

Lichenes sangat sulit untuk diklasifikasikan karena merupakan gabungan dari alga dan fungi serta sejarah perkembangan yang berbeda. Para ahli seperti Bessey (1950), Martin (1950) dan Alexopoulus (1956), berpendapat bahwa
lichenes dikelompokkan dan diklasifikasikan ke dalam kelompok jamur
sebenarnya. Bessey meletakkannya dalam ordo Leocanorales dari Ascomycetes.
Smith (1955) menganjurkan agar lichenes dikelompokkan dalam kelompok yang
terpisah yang berbeda dari alga dan fungi.

Lichenes memiliki klasifikasi yang bervariasi dan dasar dasar klasifikasinya

secara umum adalah sebagai berikut :

  1. Berdasarkan komponen cendawan yang menyusunnya
  1. Ascolichens.
    1. Cendawan penyusunnya tergolong Pyrenomycetales, maka
      tubuh buah yang dihasilkan berupa peritesium. Contoh : Dermatocarpon dan Verrucaria.
    2. Cendawan penyusunnya tergolong Discomycetes. Lichenes
      membentuk tubuh buah berupa apothecium yang berumur
      panjang. Contoh : Usnea dan Parmelia. Dalam Klas Ascolichens ini dibangun juga oleh komponen alga dari famili: Mycophyceae dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa gelatin. Genus dari Mycophyceae adalah : Scytonema, Nostoc, Rivularia,
      Gleocapsa dan lain-lain. Dari Cholophyceae adalah : Protococcus,
      Trentopohlia, Cladophora dll.
    3. Basidiolichenes
      Berasal dari jamur Basidiomycetes dan alga Mycophyceae. Basidiomycetes yaitu dari famili : Thelephoraceae, dengan tiga
      genus Cora, Corella dan Dyctionema. Mycophyceae berupa filamen
      yaitu : Scytonema dan tidak berbentuk filamen yaitu Chrococcus.
    4. Lichen Imperfect Deutromycetes fungi, steril. Contoh : Cystocoleus, Lepraria, Leprocanlon, Normandia, dll.
    5. Berdasarkan alga yang menyusun thalus
  1. Homoimerus
    Sel alga dan hifa jamur tersebar merat pada thallus. Komponen
    alga mendominasi dengan bentuk seperti gelatin, termasuk dalam
    Mycophyceae. Contoh : Ephebe, Collema
  2. Heteromerous

Sel alga terbentuk terbatas pada bagian atas thallus dan komponen jamur menyebabkan terbentuknya thallus, alga tidak berupa gelatin Chlorophyceae. Contoh : Parmelia

  1. Berdasarkan type thallus dan kejadiannya
  1. Crustose atau Crustaceous.

Merupakan lapisan kerak atau kulit yang tipis di atas batu, tanah
atau kulit pohon. Seperti Rhizocarpon pada batu, Lecanora dan
Graphis pada kulit kayu. Mereka terlihat sedikit berbeda antara
bagian permukaan atas dan bawah.

  1. Fruticose atau filamentous.

Lichen semak, seperti silinder rata atau seperti pita dengan
beberapa bagian menempel pada bagian dasar atau permukaan.
Thallus bervariasi, ada yang pendek dan panjang, rata, silindris
atau seperti janggut atau benang yang menggantung atau berdiri
tegak. Bentuk yang seperti telinga tipis yaitu Ramalina. Yang
panjang menggantung seperti Usnea dan Alectoria. Cladonia adalah
tipe antara kedua bentuk itu.

Secara umum Taksonomi lichenes menurut Misra dan Agrawal (1978)
adalah sebagai berikut :
Klas : Ascolichens
Ordo : Lecanorales
Famili : Lichinaceae, Collemataceae, Heppiaceae, Pannariaceae,
Coccocarpiaceae, Perltigeraceae, Stictaceae, Graphidaceae,
Thelotremataceae, Asterothyriaceae, Gyalectaceae, Lecidaeceae,
Stereocaulaceae, Cladoniaceae, Umbilicariaceae, Lecanoraceae,
Parmeliaceae, Usneaceae, Physciaceae, Theloshistaceae.
Ordo : Sphariales
Famili : Pyrenulaceae, Strigulaceae, Verrucariaceae
Ordo : Caliciales
Famili : Caliciaceae, Cypheliaceae, Sphaephoraceae
Ordo : Myrangiales
Famili : Arthoniaceae, Myrangiaceae
Ordo : Pleosporales
Famili : Arthopyreniaceae
Ordo : Hysteriales
Famili : Lecanactidaceae, Opegraphaceae, Rocellaceae
Klas : Basidiolichens
Famili : Herpothallaceae, Coraceae, Dictyonamataceae, Thelolomataceae.
Klas : Lichens Imperfect
Genus : Cystocoleus, Lepraria, Lichenothrix, Racodium.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s